RM.id Rakyat Merdeka - Kelompok Southern Transitional Council (STC) melakukan pergerakan militer secara sepihak dan mengambil alih wilayah di timur Yaman, khususnya provinsi Hadramout dan Al‑Mahra. Hal ini menimbulkan ketegangan di Timur Tengah.
Pemerintahan Yaman yang didukung Kerajaan Arab Saudi mengecam langkah STC, kelompok yang mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA).
Terkait situasi Yaman, Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu RI) menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya ketegangan.
Baca juga : Persija Takluk dari Semen Padang, Ridho Minta Semua Pihak Introspeksi
Juru bicara 2 Kemlu RI Vahd Nabyl Mulachela mengatakan, Indonesia mengikuti dengan seksama perkembangan situasi di Republik Yaman, termasuk di Hadramout dan Al-Mahra.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan yang berpotensi memperburuk kondisi keamanan dan menambah penderitaan rakyat Yaman.
"Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri, menghentikan eskalasi, serta menghindari tindakan sepihak yang dapat mengganggu stabilitas," kata Jubir Kemlu dalam keterangannya, Minggu (28/12/2025).
Baca juga : DPR Ajak Umat Kristiani Berempati Atas Bencana Di Tanah Air
Dalam kaitan ini, Indonesia mencatat dan mengapresiasi upaya Kerajaan Arab Saudi serta negara-negara terkait, bersama para pemangku kepentingan di Yaman untuk meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas. RI menegaskan kembali pentingnya penyelesaian damai melalui dialog.
"Kami mendorong dialog politik yang inklusif dan komprehensif, di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta selaras dengan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan, persatuan, dan integritas teritorial Yaman," ungkapnya.
Yaman telah mengalami krisis berkepanjangan sejak 2014, karena konflik antara pemerintah dan kelompok Houthi meningkat menjadi perang sipil. Wilayah Hadramout dan Al-Mahra relatif lebih stabil dibanding daerah lain.
Baca juga : SPI Temani Petani Aceh, Minta Ladang Rusak Imbas Bencana Diperbaiki
Namun belakangan, wilayah tersebut menghadapi ketegangan baru yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan dan akses bantuan kemanusiaan.
Arab Saudi dan beberapa negara Teluk terlibat dalam upaya mediasi, termasuk mendukung proses dialog politik yang difasilitasi PBB.
Namun, kondisi di lapangan tetap rapuh. Komunitas internasional terus mendorong penyelesaian damai yang inklusif bagi seluruh pihak di negara yang berpenduduk 41,77 juta jiwa itu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.