Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
SPI Temani Petani Aceh, Minta Ladang Rusak Imbas Bencana Diperbaiki
Jumat, 19 Desember 2025 13:59 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera merusak perumahan, permukiman masyarakat, infrastruktur, hingga lahan pertanian rakyat.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih yang saat ini berada langsung di wilayah terdampak di Aceh, menyampaikan sawah-sawah petani rusak berat dan dipenuhi lumpur.
Termasuk area persawahan di Kawasan Daulat Pangan SPI dan Pusdiklat Bingkai Alam Raya, pusat pendidikan dan pelatihan petani yang dibangun pada 2006 pasca tsunami Aceh.
Baca juga : Ara: Segera Dibangun 2.603 Rumah Untuk Korban Bencana Sumatera
“Semua area persawahan di sini rusak. Seharusnya saat ini sudah memasuki masa tanam, tetapi kondisi lahan tidak memungkinkan karena lumpur dan kerusakan yang sangat parah,” ujarnya dalam keterangan persnya, Jumat (19/12/2025).
Kerusakan tersebut juga dialami oleh sawah-sawah petani di sekitar Pusdiklat. Petani menjadi kelompok yang paling terdampak karena umumnya bermukim di wilayah pinggiran sungai.
Banjir yang terjadi di Aceh Tamiang, khususnya di kawasan yang bermuara ke Kuala Simpang, menunjukkan kerusakan serius pada daerah aliran sungai (DAS).
Baca juga : Kapolri Beri Semangat Kepada Anggota Polri Terdampak Bencana Di Sumbar
Menurut Henry, kondisi ini tidak cukup ditangani hanya dengan pembersihan lumpur dan sampah kayu di kawasan permukiman dan pertanian warga.
Pemerintah, kata dia, perlu memberikan peringatan dini, arahan yang jelas, serta langkah mitigasi untuk menghadapi potensi banjir susulan yang masih mengancam keselamatan rakyat.
Dia meminta kehidupan petani dan masyarakat desa pasca bencana dipikirkan serius. Selain rumah warga hancur, tanaman pangan rusak, dan perkebunan rakyat tidak dapat dipanen.
Baca juga : Prabowo Terharu Di Pengungsian Agam: Sedang Susah, Masih Sambut Saya Dengan Baik
“Tanpa intervensi negara yang kuat, petani tidak akan mampu memulihkan kehidupan dan produksi pertaniannya secara mandiri,” katanya.
Hingga Rabu (17/12/2025), di wilayah perbatasan Langkat dan Aceh Tamiang, petani dan masyarakat desa masih berupaya membersihkan lumpur dari rumah mereka.
SPI, lanjut Henry, akan terus berada bersama rakyat terdampak bencana, mengkonsolidasikan solidaritas, serta mendorong negara untuk hadir secara penuh dalam melindungi kehidupan petani dan masyarakat desa dari dampak krisis ekologis yang terus berulang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya