RM.id Rakyat Merdeka - Sinyal internet dan telepon di seluruh wilayah Iran dikabarkan putus pada Kamis (8/1/2026) malam waktu setempat. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk meredam kemarahan massa pendemo yang sudah melakukan aksi dalam dua pekan terakhir.
Pemadaman ini diduga sebagai upaya Pemerintah menghambat koordinasi massa demonstrasi dan penyebaran informasi terkait kerusuhan.
“Saya rasa kami sekarang hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar,” ujar peneliti keamanan siber Iran dari organisasi Miaan Group, Amir Rashidi dikutip dari Anadolu, Jumat (9/1/2026).
Meski jaringan komunikasi diputus, pendemo dikabarkan masih melakukan aksi di titik-titik aksi seperti biasa.
Unjuk rasa ini diawali dengan penutupan pasar-pasar tradisional Grand Bazaar di Teheran pada 28 Desember lalu setelah mata uang rial anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah. Aksi massa kemudian menyebar ke seluruh negeri.
Jumlah korban tewas akibat protes di Iran telah meningkat menjadi 65 orang, menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu. Laporan yang diterbitkan di situs web kelompok yang berbasis di Amerika Serikat (AS) tersebut mengatakan, demonstrasi telah berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Baca juga : Swasembada Bawang Merah Sejak 2016, Kendal Sukses Topang Pangan Nasional
Disebutkan juga, protes terjadi di 512 lokasi di 180 kota di 31 provinsi, mengakibatkan kematian 50 demonstran, 14 petugas penegak hukum dan keamanan, dan satu warga sipil yang berafiliasi dengan pemerintah. Demonstrasi juga menyebabkan puluhan orang terluka dan 2.311 orang ditahan.
Menurut laporan tersebut, sebagian besar luka disebabkan oleh tembakan peluru karet dan peluru plastik. Pihak berwenang belum mengeluarkan pernyataan tentang mereka yang tewas atau terluka. Situs web Kementerian Luar Negeri pun tidak dapat diakses selama pemutusan sinyal dilakukan.
Ancaman Trump
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggempur Iran jika pendemo anti pemerintan dibungkam dan terbunuh.
"Saya sudah memperingatkan mereka bahwa jika mereka mulai membunuh pendemo, kami akan menghantam mereka dengan sangat tegas," ultimatum Trump saat diwawancarai penyiar radio konservatif Hugh Hewitt pada Kamis (8/1/2026).
Ancaman Trump ke Iran ini datang setelah AS melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, yang kini mendekam di penjara New York.
Aksi AS ini pun membuat waswas banyak pemimpin negara lainnya, terutama yang selama ini bertentangan dengan Washington. Apalagi setelah Presiden Donald Trump memberi isyarat, serangan bisa terjadi pada sejumlah negara lainnya seperti Kolombia hingga Iran
Kondisi WNI
Baca juga : Mantan Perdana Menteri Bangladesh Khaleda Zia (80 Tahun) Wafat
Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) mengabarkan kondisi 386 warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Iran dalam kondisi aman.
Info ini disampaikan Plt Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah dalam konferensi pers rutin di Kemlu, Kamis (8/1/2026). Dia mengatakan sejauh ini belum ada informasi warga Indonesia terkena dampak imbas demo itu.
"So far belum ada laporan WNI yang terdampak dan kondisi WNI masih baik di sana," terang Heni dikutip dari tayangan di kanal YouTube Kemlu.
Sementara itu, juru bicara Kemlu Yvonne Mewengkang mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran mengimbau WNI di Iran untuk tetap waspada dan menghindari kerumunan massa.
"Dan yang penting, membawa kartu identitas saat bepergian dan terus menghubungi hotline KBRI Teheran jika membutuhkan sesuatu," pesan Yvonne yang juga hadir dalam konferensi pers itu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sudah berupaya meredam protes dengan mendorong dialog dan menggenjot pemulihan ekonomi.
Baca juga : Perencanaan dan Tata Kelola Kunci Efektivitas PMN BUMN
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.