BREAKING NEWS
 

Napi Kuasai Penjara, 8 Polisi Tewas: Presiden Guatemala Umumkan Darurat Nasional

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 19 Januari 2026 07:40 WIB
Aparat membekuk narapidana, setelah kembali menguasai penjara keamanan maksimum, Renovacion 1 di Escuintla, Guatemala, Minggu (18/1/2026). (Foto Tangkapan Layar/Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Guatemala Bernardo Arevalo mengumumkan keadaan darurat selama 30 hari pada Minggu (18/1/2026) setelah anggota geng yang diduga terlibat dalam pembunuhan delapan polisi di ibu kota, Guatemala City.

Otoritas Guatemala menuding kelompok geng kriminal berada di balik tewasnya delapan anggota kepolisian dalam serangkaian serangan pada Minggu (18/1/2026) waktu setempat. Aksi mematikan itu diduga sebagai balasan atas penolakan Pemerintah memindahkan para pemimpin geng ke penjara dengan tingkat keamanan lebih rendah.

Aksi genk ngamuk di ibu kota, Guatemala City dan sekitarnya terjadi sehari setelah aparat keamanan berhasil merebut kembali kendali atas salah satu penjara keamanan maksimum, Renovacion 1 di Escuintla, Minggu (18/1/2026). 

“Mereka berontak di penjara dan menculik sandera dengan tujuan memaksa negara menerima tuntutan mereka, yang selama puluhan tahun telah dipenuhi,” kata Arevalo dalam siaran televisi nasional.

Serangan yang terjadi setelah pengambilalihan kembali penjara-penjara tersebut. "Ini merupakan upaya untuk menakut-nakuti pasukan keamanan dan masyarakat agar pemerintah melunak dalam perjuangannya melawan geng-geng,” imbuhya.

Menurut Presiden, semua sandera telah dibebaskan pada Minggu. "Upaya berani geng-geng untuk menantang otoritas merupakan tanda bahwa upaya keamanan pemerintahannya berhasil," kata Arevalo.

Meski masih memerlukan persetujuan Kongres, kebijakan darurat tersebut dapat langsung diberlakukan sebelum pemungutan suara dilakukan.

Konstitusi Guatemala memungkinkan penerapan status kepungan dalam situasi kekerasan serius, pemberontakan, atau aksi kelompok kejahatan terorganisasi yang melampaui kemampuan aparat sipil untuk menanganinya. Dalam kondisi ini, Pemerintah membatasi sejumlah hak warga, termasuk kebebasan bergerak, berkumpul, dan melakukan aksi protes.

Baca juga : Wamen Fajar: Program Prioritas Presiden Didukung Kepala Sekolah Se-Solo Raya

Arevalo menekankan, langkah itu diperlukan demi menjamin keselamatan warga Guatemala serta memberi ruang bagi Pemerintah untuk mengerahkan seluruh sumber daya negara dalam memerangi jaringan geng kriminal yang semakin brutal.

Di lapangan, suara tembakan terdengar saat pasukan antihuru-hara menerobos masuk ke fasilitas penjara keamanan maksimum yang menjadi lokasi penahanan para pemimpin geng. Sekitar 15 menit kemudian, seorang jurnalis Associated Press menyaksikan sejumlah petugas penjaga penjara yang sebelumnya disandera digiring keluar dari dalam penjara.

Menjelang malam, aparat keamanan Guatemala akhirnya kembali menguasai dua penjara lain di ibu kota. Kepolisian Nasional Sipil menyatakan enam penjaga yang disandera dibebaskan dari satu fasilitas, sementara 28 penjaga lainnya berhasil dievakuasi dari penjara berbeda.

Sehari sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri memberitakan, total 46 petugas penjara disandera dalam kerusuhan tersebut. Namun hingga Minggu, baru 43 orang yang dipastikan telah dibebaskan. Otoritas belum memberikan penjelasan rinci terkait selisih jumlah sandera itu.

Kerusuhan pecah sejak Sabtu, ketika para narapidana mengambil alih tiga penjara secara serentak. Aksi tersebut diduga terkoordinasi sebagai bentuk protes atas keputusan pengelola penjara yang mencabut sejumlah keistimewaan para pemimpin geng yang tengah menjalani hukuman.

Ketika aparat berupaya memulihkan kendali di dalam lembaga pemasyarakatan, serangan balasan terjadi di luar tembok penjara. Kelompok bersenjata dilaporkan menyerang aparat di berbagai titik di Guatemala City.

Adsense

 

Menteri Dalam Negeri Marco Antonio Villeda menyebut, hingga kini polisi telah menangkap tujuh anggota geng, menyita dua pucuk senapan laras panjang, serta mengamankan dua kendaraan. Ia memuji respons aparat sebagai bukti ketegasan negara.

Baca juga : AGTI Apresiasi Perhatian Presiden Prabowo pada Industri Tekstil Nasional

“Ini adalah hasil dari keputusan untuk tidak bernegosiasi dengan para penjahat,” ujarnya.

Kedutaan Besar AS di Guatemala mengimbau personelnya untuk tetap berada di tempat aman dan menghindari kerumunan. Sementara Pemerintah menangguhkan kegiatan sekolah pada Senin (19/1/2026).

Kerusuhan bermula sejak Sabtu (17/1/2026) di tiga lembaga pemasyarakatan (lapas) dan berlanjut hingga Minggu. Dalam insiden itu, disebut napi mengusai tiga lapas itu, menyandera 46 petugas, termasuk satu psikolog.

Ratusan polisi dikerahkan ke Renovacion 1, Minggu, untuk membebaskan para sandera dan menundukkan Aldo Duppie, pemimpin geng Barrio 18 yang dikenal dengan julukan El Lobo. Duppie saat ini menjalani hukuman akumulatif sekitar 2.000 tahun penjara.

Dilansir Al Jazeera, Renovacion berada di Escuintla, sekitar 76 kilometer di barat daya ibu kota. Pemimpin geng yang ditahan sering memerintahkan anggota di luar tembok penjara untuk melakukan serangan balasan.

Dalam pernyataan resmi yang memperbarui data sebelumnya, Kepolisian Guatemala menyatakan “menyesalkan gugurnya delapan personel dalam menjalankan tugas akibat tindakan kriminal”. Jumlah tersebut bertambah satu dari laporan awal.

Villeda, dalam konferensi pers sebelumnya, menyampaikan duka mendalam atas pembunuhan yang ia sebut pengecut. Menurutnya, aksi itu dilakukan para teroris sebagai respons terhadap langkah tegas negara dalam menindak jaringan geng kriminal.

Selain delapan polisi yang tewas, 10 personel kepolisian lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan balasan tersebut. Seorang terduga anggota geng juga dilaporkan tewas dalam rangkaian insiden kekerasan itu.

Baca juga : Ketua Komisi XII Apresiasi RDMP Balikpapan, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Villeda menegaskan, Pemerintah akan meluncurkan operasi gabungan bersama militer untuk mengamankan pusat-pusat kota dan menjamin keselamatan publik. Ia menekankan tidak akan berkompromi atau membuat kesepakatan dengan kelompok geng kriminal.

Guatemala selama beberapa tahun terakhir menghadapi kesulitan mengendalikan populasi penjara akibat kuatnya pengaruh geng kriminal. Para narapidana kerap mengeluhkan kondisi penahanan yang keras dan berbahaya.

Pada Oktober lalu, Presiden Arevalo menerima pengunduran diri tiga pejabat keamanan senior setelah 20 anggota geng berhasil melarikan diri.

Presiden Arevalo menegaskan, keterkaitan antara sistem penjara dan kriminalitas di luar tembok harus diputus. Menurutnya, upaya merebut kembali kendali atas lembaga pemasyarakatan menjadi kunci penting dalam memulihkan keamanan nasional.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense