RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto menjelaskan langkah Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Kali ini, Kepala Negara mengundang para tokoh maupun kalangan elite diplomasi Indonesia.
Prabowo menggelar pertemuan khusus dengan sejumlah mantan Menteri Luar Negeri (Menlu), mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) serta akademisi, untuk menjelaskan keikutsertaan Indonesia di BoP atau Dewan Perdamaian.
Pertemuan itu berlangsung tertutup sekitar empat jam di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/2/2026). Sejumlah tokoh berdatangan ke Istana sekitar pukul 14.00 WIB.
Ada Alwi Shihab (Menlu 1999-2001), Hassan Wirajuda (Menlu 2001-2009), Marty Natalegawa (Menlu 2009-2014), Retno Marsudi (Menlu 2014-2024), Dino Patti Djalal (Wamenlu 2014) dan AM Fachir (Wamenlu 2014-2019).
Tim akademisi, antara lain Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran, Bandung, dan Ikrar Nusa Bhakti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca juga : Aurelie Moeremans, Ngarep Nggak Ada Lagi Korban Child Grooming
Hadir juga pendiri Centre for International and Strategic Studies (CSIS) Jusuf Wanandi, Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri, Kepala Departemen Hubungan Internasional CSIS Lina Alexandra dan Peneliti Senior CSIS Philips J Vermonte.
Sehari sebelumnya, Prabowo memanggil para pentolan organisasi kemasyarakatan (ormas). Antara lain dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia, Muslimat NU, Fatayat NU dan Syarikat Islam.
Prabowo blak-blakan soal alasan bergabungnya Indonesia ke BoP yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Langkah politik luar negeri tersebut sebelumnya panen kritikan. Termasuk dari mereka yang diundang ke Istana. Mereka mempertanyakan komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, karena BoP dikhawatirkan bakal menjadi masalah di kemudian hari.
Usai pertemuan, Dino menceritakan suasana diskusi antara Presiden dan sejumlah tokoh sangat terbuka.
“Saya surprised karena suasananya totally open. Diskusinya tidak satu arah, sangat terbuka, penuh dengan masukan, kritik, risiko dan semua itu ditampung dan direspons langsung Presiden,” ujar Dino usai pertemuan.
Baca juga : Terkait Pajak dan Bea Cukai, KPK OTT di Jakarta, Kalsel dan Lampung
Dino juga menangkap, Prabowo mengedepankan pendekatan yang sangat realistis dalam menyikapi konflik Gaza. Menurutnya, Prabowo menilai hingga saat ini BoP merupakan satu-satunya solusi konkret yang tersedia.
“Sekarang, satu-satunya opsi di atas meja adalah Board of Peace. Tidak ada opsi lain, dan faktanya Board of Peace menjadi bagian dari solusi untuk menghentikan gencatan senjata,” ujar Wamenlu era Presiden SBY itu.
Dino juga menilai, Prabowo menyadari akan adanya risiko besar. Termasuk kuatnya pengaruh Israel terhadap kebijakan AS. Namun demikian, Prabowo meyakini pengaruh tersebut dapat diimbangi dengan membangun kekompakan bersama negara-negara Islam yang tergabung dalam BoP.
“Dengan kata lain, kalau leverage (manfaat) Indonesia tidak begitu besar, misalnya, akan lebih besar karena kita selalu menjaga kekompakan dengan negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania dan lain sebagainya. Jadi, Beliau cukup realistis, ada risikonya,” tuturnya.
Menurutnya, Prabowo juga menekankan pentingnya sikap kehati-hatian dalam mengikuti perkembangan BoP. Bahkan, Prabowo berulang kali menegaskan Indonesia tidak akan ragu keluar dari organisasi tersebut jika langkah-langkah yang diambil bertentangan dengan prinsip dan kepentingan nasional Indonesia.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Membaik, Kisaran 5,3%
“Ini berkali-kali Beliau tekankan. Beliau tidak akan ragu, termasuk kalau yang lain tetap masuk. Nah, ini yang saya tangkap sebagai suatu penekanan dan penegasan yang kami apresiasi,” terang pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu.
Hasan Wirajuda menilai, BoP masih berada pada tahap awal pembentukan, sehingga peran dan sepak terjangnya belum terlihat nyata. Selain itu, dia berpendapat, sebagian kritik muncul karena penilaian dilakukan berdasarkan informasi yang belum utuh.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.