BREAKING NEWS
 

Belajar Ilmu Keamanan Maritim Di Filipina (3)

Konflik Laut China Selatan, Nelayan Filipina Sulit Melaut

Reporter : FIRSTY HESTYARINI
Editor : KARTIKA SARI
Jumat, 27 Februari 2026 07:40 WIB
Nelayan tradisional Filipina Paulo Pucmipic (kiri) dan Arnel Satam (kanan). (Foto: Dok. Kedubes Australia di Filipina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka Firsty Hestyarini kembali mengikuti Southeast Asia Maritime Media Visits Programme (SEAMMVP) yang diinisiasi La Trobe Asia, dengan dukungan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (Department of Foreign Affairs and Trade/DFAT). Program yang diawali di Canberra, Australia, pada akhir Oktober 2025, berlanjut di Filipina pada 9-14 Februari 2026. Berikut laporannya.

South East Asia Maritime Media Visits Programme (SEAMMVP) di Filipina tidak hanya mempertemukan para delegasi media yang berasal dari Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam dengan pejabat pemerintah serta akademisi untuk membahas berbagai masalah keamanan laut (maritime security). Tetapi juga mengajak seluruh peserta turun langsung menyaksikan kehidupan para nelayan tradisional di San Felipe, Provinsi Zambales.

Untuk mencapai San Felipe Zambales, yang berjarak 267 km dari hotel tempat kami menginap di Manila, para peserta naik bus selama 5,5 jam. Termasuk, beberapa kali beristirahat di pom bensin. Kami berangkat dari Manila pukul 7 pagi, dan tiba di San Felipe Zambales pukul 12.30 siang.

Zambales banyak menyimpan kisah sulitnya nelayan mencari nafkah ke Laut China Selatan -termasuk gugus karang Scarborough yang kaya hasil laut - sejak tahun 2012, karena klaim sejarah China atas wilayah tersebut. Mereka menjadi pihak yang terdampak langsung oleh sengketa Laut China Selatan atau Laut Filipina Barat.  

Baca juga : Dubes RI Hotmangaraja : Kuliner Nusantara Meriahkan Bazaar Ramadan Geylang

Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), Scarborough yang disebut Bajo de Masinloc oleh orang Filipina, berjarak sekitar 124 mil laut dari Pantai Zambales, Luzon. Masuk batas 200 mil laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina.

Sementara jarak Scarborough ke daratan utama China, mencapai 430-450 mil laut. Menurut ketentuan UNCLOS, ini di luar batas ZEE.

Putusan Permanent Court of Arbitration (PCA) atau Mahkamah Arbitrase Internasional Den Haag, Belanda, pada 12 Juli 2016, menyatakan bahwa  klaim sembilan garis putus-putus (nine-dash line) China tidak memiliki dasar hukum internasional berdasarkan UNCLOS. 

Tetapi, China tidak menerima atau tidak mengakui putusan tersebut. Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri pada 12 Juli 2016, Beijing mengatakan, inisiasi Arbitrase oleh Filipina melanggar perjanjian antara kedua negara, melanggar UNCLOS, bertentangan dengan praktik umum Arbitrase Internasional. China juga menyebut Majelis Arbitrase tidak memiliki yurisdiksi.

Baca juga : Nenek 98 Tahun Aktif Tanding Billiar

Alhasil, sengketa berlanjut hingga kini. China dilaporkan semakin ketat melakukan pembatasan dan pengawasan di Laut Filipina Barat. China juga mengumumkan pembentukan cagar alam di Scarborough pada September 2025.

“Di laut, kami belum merasakan dampak putusan 2016. Kami sulit melaut,” kisah Leonardo Quaresma, nelayan Zambales yang telah lima dekade melaut dalam pertemuan dengan 12 jurnalis peserta SEAMMVP.

Melaut ke Scarborough Shoal bisa memakan waktu lebih dari satu hari. Butuh modal yang tidak sedikit, rata-rata sekitar 150 ribu peso Filipina atau sekitar Rp 43 juta. Duit segitu terpakai untuk membeli bahan bakar dan logistik kapal dengan jumlah kru hingga 25 orang.

Sekali melaut, nelayan bisa membawa pulang 3 ton ikan. Cukup untuk menghidupi keluarga. 

Baca juga : BRI Cetak Laba Rp 57,132 Triliun, Komitmen Dukung Asta Cita Pemerintah Dan Fokus Perkuat Ekonomi Rakyat

Tapi kini, ceritanya berbeda. Nelayan Filipina mesti putar otak untuk menghindari pembatasan akses oleh China, dan mengejar target balik modal. Para nelayan mengaku, kini lebih boros bahan bakar karena menghindari kapal patroli China.

Adsense

Nelayan Zambales lainnya, Paulo Pumicpic menyebut, China gencar patroli dan mengintimidasi perahu-perahu kecil. “Saya pun pernah di-bully,” curhatnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense