BREAKING NEWS
 

Catatan Prof Imron Cotan

Hamas Dan Board of Peace

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 2 Maret 2026 04:53 WIB
Prof Imron Cotan, Dubes Indonesia Untuk Australia (2003-2005) dan Dubes Indonesia untuk China (2010-2013). (Foto Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap gerakan kemerdekaan memiliki tiga sayap. Yaitu, Sayap Politik, Sayap Militer, dan Sayap Klandestin. Ketiga sayap tersebut juga dimiliki dan diterapkan Gerakan Kemerdekaan Indonesia.

Gabungan dari ketiga kekuatan tersebut yang memungkinkan Indonesia meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Tidak ada satu kekuatan dari ketiga sayap tersebut dapat menepuk dada sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu memerdekakan Nusantara dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Sayap politik dipimpin oleh Duo Bung Karno-Hatta. Sayap militer dipimpin oleh Panglima Besar Sudirman. Sementara sayap klandestin dimotori oleh para alim-ulama dan tokoh masyarakat lain (pahlawan tanpa nama).

Khusus sayap militer, bekerja sama dengan para laskar (ormas Islam tradisional), mereka secara terpisah atau tergabung melancarkan serangan-serangan, yang berujung pada Agresi Militer I dan II oleh tentara KNIL Belanda (1947 - 1949).

Ribuan pejuang kemerdekaan gugur, yang dapat dibuktikan dari banyaknya Taman Makam Pahlawan yang tersebar di Indonesia dan juga di Australia serta Afrika Selatan.

Baca juga : Indonesia Sambut Palestina Bentuk Kantor Penghubung Untuk Board of Peace

Sebagian di antaranya adalah orangtua atau kakek kandung dari kita. Sehingga menjadi sejarah pribadi keluarga yang tidak akan terlupakan. Kebencian terhadap kekejaman Belanda dan Jepang tertanam dalam di sanubari sebagian anak bangsa.

Tuntutan atas perlakuan Jepang terhadap kaum wanita (comfort women - jugun ianfu) masih bergaung di Indonesia, Korea, dan China sampai saat ini.

Sebaliknya, sayap militer dan para laskar juga melancarkan serangan-serangan yang saat ini diberi label: “terorisme”. Dulu tindakan tersebut dikenal dan dipopulerkan oleh penjajah sebagai “gerakan ekstremisme”.

Jarang ada yang mengingat masa kelam dalam sejarah Indonesia yang dirujuk sebagai “Periode Bersiap” (1945 - 1946), di mana para pejuang memanfaatkan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) akibat Jepang menyerah, memburu dan membunuhi warga Belanda dan para kolaborator beserta anak, istri, dan suami mereka dengan cara yang sulit diterima akal sehat pada saat ini.

Adsense

Beberapa tahun yang lalu, Belanda mencoba memanfaatkan ini untuk “mencuci” dosa sejarah kelamnya di Indonesia. Digagalkan oleh suatu instansi yang berkedudukan di selatan Jakarta. Puji Tuhan.

Dalam konteks kekinian, tindakan para pejuang tersebut dapat diklasifikasikan sebagai tindakan “terorisme”. Israel adalah negara contoh, bahkan menyerang dirinya sendiri untuk membangun narasi “terorisme”.

Baca juga : Palestina Buka Kantor Penghubung Dengan Board of Peace, Siap Koordinasi Gaza

Kasus pemboman Kedutaan Besar Israel di London, Inggris (1994) oleh Mossad dan juga pemboman kapal perang AS USS Liberty (1967), yang menewaskan puluhan awak kapal tersebut adalah sedikit contoh dan tercatat di domain publik.

Sebagai catatan, perang melawan terorisme (War on Terror/WoT) adalah narasi yang juga dibangun Israel dan diamplifikasi oleh AS serta kekuatan negara sekutu lainnya. WoT menghilang semenjak AS kapitulasi (shamefully capitulated) dari Afghanistan.

Saat ini, satu-satunya gerakan kemerdekaan sayap militer yang sulit ditaklukan adalah Hamas. Harap bedakan Aspirasi Kemerdekaan dengan Gerakan Kemerdekaan. KANAK di Kaledonia Baru adalah aspirasi kemerdekaan, seperti yang juga terdapat di Prancis dan Kanada.

Telah hampir tiga tahun diperangi Israel yang dibantu oleh AS dan negara-negara NATO, baik dari aspek persenjataan dan intelijen, Hamas tidak tertaklukkan, semata-mata karena motivasi dan tekad untuk merdeka yang tidak terpadamkan.

Semangat tidak terpadamkan ini adalah anti-thesa dari Board of Peace (BoP), yang sama sekali tidak menjanjikan atau merujuk kepada Negara Palestina merdeka berbasis solusi dua negara.

Yang layak dipertanyakan adalah motivasi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melanjutkan peperangan, apakah untuk tetap berkuasa (motif jangka pendek) atau untuk mencapai Israel Raya mencakup penguasaan terhadap seluruh negara yang ada di Timur Tengah, termasuk Iran (dalam jangka panjang)?

Baca juga : Lawatan Prabowo Ke AS Buka Akses Pasar Dan Peran Global RI

Tidak heran kalau Israel mendesak AS untuk menyerang Iran, agar ambisi jangka panjangnya relatif lebih mudah mencapainya. Secara sendiri, Israel tidak akan mampu menaklukkan Iran, seperti juga dalam kasus Hamas.

Dan terbukti, akhirnya Israel bersama AS menyerang Iran, Sabtu, 28 Februari 2026. Sebagai kesimpulan, jika Anda tidak mengenal anatomi Gerakan Kemerdekaan Indonesia, maka Anda mudah tersesat atau disesatkan, ada BoP atau tidak. 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense