RM.id Rakyat Merdeka - Perang Amerika Serikat-Israel vs Iran semakin menyeramkan. Pihak yang berperang terus meningkatkan serangan dengan rentetan rudal, drone, dan bom.
Meskipun sudah banyak korban berjatuhan serta rusaknya berbagai infrastruktur, masing-masing pihak masih saling ancam keluarkan serangan mematikan.
Perang yang dimulai akhir Februari lalu, masih belum menunjukkan kapan akan berhenti. AS dan Israel menggempur berbagai target militer Iran. Sementara Teheran membalas dengan rentetan rudal dan drone yang diarahkan ke Israel serta pangkalan sekutu AS di kawasan Teluk.
Mendapat perlawanan sengit dari Iran, Presiden AS Donald Trump murka. Dia menuntut Iran menyerah tanpa syarat dan mengancam akan meningkatkan serangan jika Teheran terus melawan. Sebaliknya, Iran menegaskan siap memberikan balasan yang “lebih menghancurkan” terhadap setiap serangan yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv.
Baca juga : Pemerintah & Danantara Tinjau Lokasi Hunian MBR Di Cikarang
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social, Sabtu (7/3/2026), di tengah kecamuk perang yang kian mencekam. Trump menyebut Iran telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan menyerang mereka lagi setelah menghadapi serangan berkelanjutan dari AS dan Israel.
“Iran, yang sedang dihantam habishabisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi menembaki mereka,” tulis Trump di Truth Social.
Ia bahkan mengklaim ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah panjang kawasan tersebut Iran “kalah” dari negara-negara Timur Tengah di sekitarnya.
“Mereka mengatakan ‘terima kasih Presiden Trump’ dan saya menjawab ‘sama-sama’,” tulisnya lagi.
Baca juga : Lita Anggraini: 82 Persen PRT Tak Miliki Jaminan Kesehatan
Menurut Trump, Iran kini tidak lagi bisa menjadi “perundung” di kawasan Timur Tengah. Ia menilai tekanan militer dari AS dan Israel telah membuat posisi Teheran melemah.
Namun Trump menegaskan operasi militer terhadap Iran belum akan berhenti. Ia bahkan mengisyaratkan serangan yang lebih besar akan dilakukan dalam waktu dekat. “Hari ini Iran akan dihantam sangat keras. Wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target kini sedang dipertimbangkan untuk dihancurkan sepenuhnya,” tulisnya.
Sebelumnya, Trump juga menegaskan tidak ada ruang bagi jalur diplomatik dalam konflik yang sedang berlangsung. Menurutnya, perang hanya akan berakhir jika Iran melakukan unconditional surrender atau menyerah tanpa syarat.
Merespons tuntutan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak keras ultimatum Washington. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah pada Sabtu (7/3/2026), Pezeshkian menyebut tuntutan penyerahan tanpa syarat sebagai hal yang tidak realistis.
Baca juga : Martin Manurung: Prioritas Jaminan Sosial Dan Penyelesaian Sengketa
“Permintaan mereka untuk penyerahan tanpa syarat adalah mimpi yang harus mereka bawa ke liang lahat,” kata Pezeshkian dikutip dari Associated Press.
Meski menolak ultimatum tersebut, Pezeshkian secara mengejutkan juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang sempat menjadi sasaran serangan rudal Iran dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pesan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Pezeshkian mengatakan dewan kepemimpinan sementara Iran telah memutuskan menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga. Namun keputusan itu hanya berlaku selama serangan terhadap Iran tidak berasal dari wilayah negara-negara tersebut. [BYU/FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.