RM.id Rakyat Merdeka - Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengalami kebuntuan. Di saat Teheran mengajukan proposal, Washington justru membatalkan pengiriman utusannya ke Islamabad, Pakistan.
Padahal, Presiden AS Donald Trump sebelumnya sudah memberikan sinyal bakal melakukan negosiasi ulang dengan Iran dalam waktu dekat. Ini dilakukan, setelah perundingan pertama yang berlangsung selama 21 jam di Pakistan, gagal mencapai kesepakatan.
Terkait perundingan kedua ini, Iran yang sebelumnya bersikap dingin, justru mengaku telah mengirimkan proposal kepada Pakistan yang berperan sebagai mediator. Proposal itu berupa format yang dapat menjadi dasar untuk mengakhiri perang secara permanen.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, proposal tersebut telah dibagikan kepada Pakistan. “Kami membagikan posisi Iran terkait kerangka yang dapat diterapkan untuk secara permanen mengakhiri perang terhadap Iran,” ujarnya dalam unggahan di platform X, dikutip Senin (27/4/2026).
Proposal itu disampaikan saat Araghchi berkunjung ke Pakistan pada Jumat (24/4/2026) malam dan bertemu Perdana Menteri Shehbaz Sharif serta pejabat tinggi lainnya keesokan harinya. Ia memuji peran Pakistan dalam memfasilitasi dialog dan mendorong upaya perdamaian di kawasan.
Baca juga : Prioritaskan Kesehatan, Jemaah Diimbau Tak Memaksakan Arbain
Namun, di balik tawaran tersebut, Iran tetap menunjukkan sikap skeptis terhadap niat AS. Teheran meragukan keseriusan Washington dalam menempuh jalur diplomasi.
“Masih harus dilihat apakah AS benar-benar serius dalam diplomasi,” kata Araghchi.
Keraguan itu muncul seiring langkah Presiden Trump yang tiba-tiba membatalkan rencana pengiriman utusannya ke Pakistan. Padahal sebelumnya, tim diplomasi Washington akan dipimpin langsung Wakil Presiden JD Vance.
“Saya sudah memberi tahu orangorang saya beberapa saat lalu ketika mereka bersiap berangkat, dan saya berkata : tidak. Kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam ke sana. Kita memegang semua kartu,” ujar Trump, dilansir Fox News, Senin (27/4/2026).
Trump menegaskan, keputusan kini berada di tangan Iran. Jika serius ingin berunding, Teheran diminta untuk menghubungi Washington.
Baca juga : Idham Holik: Penataan Dapil Wajib Ikuti Perundang-undangan
“Mereka bisa menelepon kita kapan saja. Kita tak akan melakukan perjalanan panjang hanya untuk duduk dan membicarakan hal yang tak berarti,” tegasnya.
Ia juga menegaskan syarat utama bagi Iran, yakni tidak boleh memiliki senjata nuklir. “Sangat sederhana: tidak boleh memiliki senjata nuklir. Jika tidak demikian, tidak ada alasan untuk bertemu,” lanjutnya.
Meski membatalkan pengiriman utusan, Trump memastikan langkah tersebut tidak otomatis berarti konflik akan kembali memanas. “Tidak, itu tidak berarti begitu. Kami belum memikirkannya,” katanya.
Sejauh ini, upaya perundingan yang dimulai sejak konflik pecah pada 28 Februari belum membuahkan hasil. Putaran pertama perundingan selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, yang kemudian diperpanjang.
Namun, gencatan senjata itu dinilai rapuh. Iran masih membatasi aktivitas di Selat Hormuz. Sedangkan AS tetap menjalankan blokade di perairan strategis tersebut serta menambah kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah.
Baca juga : Wibi Andrino: Selama Ini, Aspirasi Warga Kurang Terakomodasi
Di tengah kebuntuan dengan AS, Araghchi melanjutkan kunjungannya ke Rusia dan tiba pada Senin (27/4/2026) untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Ia menyebut pertemuan tersebut akan membahas hubungan bilateral serta perkembangan konflik Iran-AS.
“Ini akan menjadi kesempatan baik membahas perkembangan perang dan meninjau situasi terkini. Saya yakin konsultasi dan koordinasi antara kedua negara akan sangat penting,” ujarnya. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.