BREAKING NEWS
 

Perundingan AS-Iran Redup, Harga Minyak Melonjak Lagi

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Rabu, 29 April 2026 07:35 WIB
Dampak penutupan Selat Hormuz mengakibatkan harga minyak melonjak tinggi. (Foto: Ilustrasi, Dibuat oleh AI/Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian meredup. Dampaknya, harga minyak dunia yang sebelumnya sempat stabil, melonjak lagi. 

Putaran kedua perundingan AS-Iran yang rencananya digelar di Pakistan, urung terlaksana. Proposal perdamaian yang sudah dikirim Iran ke Pakistan, tak mendapat sambutan positif. Presiden AS Donald Trump mengaku menolak isi proposal perdamaian yang diajukan Iran.

Penolakan AS itu membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat lagi. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz terganggu akibat sistem buka tutup yang dilakukan Iran dan juga dampak blokade yang dilakukan AS. 

Setelah ketegangan meningkat, pasar energi global langsung bergejolak. Sejumlah harga minyak dunia di pasaran internasional kembali melonjak. 

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.45 WIB, harga minyak Brent kontrak terdekat berada di 109,46 dolar AS per barel, naik dari penutupan sebelumnya 108,23 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat 97,38 dolar AS per barel, menguat dari posisi 96,37 dolar AS per barel sehari sebelumnya. 

Baca juga : Super Tim Tepung Perkuat Layanan Haji 2026

Kenaikan ini memperpanjang reli tajam harga minyak sepanjang sepekan terakhir. Brent melonjak dari 90,38 dolar AS per barel pada 17 April menjadi 109,46 dolar AS per barel, atau naik lebih dari 21 persen dalam delapan sesi perdagangan. Pergerakan WTI juga serupa, dari 83,85 dolar AS menjadi 97,38 dolar AS per barel, atau naik sekitar 16 persen. 

Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow menilai, lonjakan harga minyak ini akan menekan ekonomi global. Menurutnya, sekitar 20 juta barel minyak mentah, bahan bakar, dan petrokimia yang beredar setiap hari akan terdampak. 

“Kalaupun konflik berakhir seketika, pemulihan kondisi ekonomi ke level normal tetap butuh waktu berbulan-bulan,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, proses pemulihan mencakup pembersihan ranjau, penguraian kemacetan kapal tanker, hingga pemulihan produksi dan aktivitas kilang secara bertahap. Tanpa adanya negosiasi baru, harga WTI diperkirakan bisa kembali menembus 100 dolar AS per barel, sementara Brent berpotensi melampaui 110 dolar AS per barel. 

Adsense

Senada, analis pasar dari City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada menyebut, perhatian utama pasar saat ini tertuju pada kelancaran pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Menurutnya, sekalipun kesepakatan damai tercapai, pemulihan pasokan tetap memakan waktu lama akibat gangguan produksi dan logistik. “Harga minyak tetap tinggi dan ekonomi global tertekan,” ujarnya. 

Baca juga : Boyamin Saiman: Pembatasan Uang Kurangi 90 Persen Money Politics

Pasar juga merespons langsung kebuntuan negosiasi. Data pelacakan kapal menunjukkan enam kapal tanker minyak Iran berbalik arah akibat blokade AS. Sementara itu, satu kapal LNG yang dikelola Abu Dhabi National Oil Company masih dapat melintas menuju India, meski kapasitas jalur sangat terbatas. 

Sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu, sekitar 125–140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini, berdasarkan data platform intelijen maritim Windward, jumlahnya merosot drastis menjadi sekitar delapan kapal per hari. 

Upaya perundingan damai sejauh ini belum membuahkan hasil. Putaran pertama yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April 2026 lalu, yang kemudian diperpanjang oleh Donald Trump. Namun, gencatan senjata tersebut tetap rapuh. 

Iran masih membatasi akses Selat Hormuz, sementara AS melanjutkan blokade dan memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. 

Dalam perkembangan terbaru, Presiden Trump bersama tim keamanan nasionalnya membahas proposal Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat AS mencabut blokade dan mengakhiri perang secara permanen. Namun, belum ada kepastian apakah Washington akan menerima usulan tersebut sebagai jalan deeskalasi. 

Baca juga : Titi Anggraini: Ini Kebutuhan Struktural Tutup Pembiayaan Gelap

Proposal Iran yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mencakup tiga tahap utama. Pertama, AS dan Israel mengakhiri perang serta menjamin tidak akan memulai kembali konflik. Kedua, mediator membantu penyelesaian isu Selat Hormuz. Ketiga, Iran bersedia membuka negosiasi terkait program nuklir dan isu regional lainnya. 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai Iran telah menunjukkan keseriusan. Namun, AS menegaskan tidak akan membiarkan Teheran menguasai Selat Hormuz. 

Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin menyatakan dukungannya terhadap upaya Iran dan siap membantu penyelesaian konflik. Janji Putin ini disampaikan usai menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Rusia, beberapa waktu lalu. 

Sementara itu, Araghchi justru menyalahkan AS atas mandeknya perundingan. Menurutnya, tuntutan Washington dinilai terlalu berlebihan sehingga menghambat tercapainya kesepakatan damai. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense