Oleh: Tudiono
Konsul Jenderal RI Cape Town, Afrika Selatan
RM.id Rakyat Merdeka - Selain memiliki kedekatan sejarah dengan Indonesia, Afrika Selatan juga merupakan salah satu kekuatan ekonomi utama di Benua Afrika. Dengan jumlah penduduk sekitar 63 juta jiwa dan perekonomian yang paling terindustrialisasi di kawasan Sub-Sahara Afrika, negara ini menjadi pintu gerbang perdagangan, investasi, dan pariwisata menuju benua Afrika.
Wilayah kerja KJRI Cape Town meliputi empat provinsi, yaitu Western Cape, Eastern Cape, Northern Cape, dan Free State. Keempat provinsi tersebut memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda.
Western Cape merupakan provinsi dengan perekonomian paling dinamis dan tingkat pengangguran terendah di Afrika Selatan. Cape Town berkembang sebagai pusat jasa keuangan, teknologi, logistik, manufaktur, pertanian modern, industri kreatif, dan pariwisata internasional. Table Mountain, Cape Point, Robben Island, kawasan wine estate, serta keindahan pantainya menjadikan Cape Town salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia.
Eastern Cape dikenal sebagai basis industri otomotif, manufaktur, pelabuhan, pertanian, dan peternakan. Di provinsi ini berdiri beberapa fasilitas produksi kendaraan bermotor yang menjadi bagian penting rantai pasok industri Afrika Selatan.
Baca juga : APDESI Merah Putih Dorong Desa Jadi Lokomotif Ekonomi dan Ketahanan Pangan Nasional
Northern Cape memiliki wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk relatif sedikit. Perekonomiannya bertumpu pada sektor pertambangan, energi surya, peternakan, dan pertanian di wilayah yang memungkinkan.
Sementara itu, Free State merupakan salah satu lumbung pangan Afrika Selatan dengan sektor utama pertanian, peternakan, pengolahan pangan, serta perdagangan antarwilayah.
Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Afrika Selatan menunjukkan perbaikan meskipun pertumbuhannya masih relatif rendah. Setelah mengalami berbagai tantangan akibat pandemi, krisis listrik, dan perlambatan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi mulai bergerak positif. Sektor jasa, pariwisata, pertanian, keuangan, dan teknologi menjadi penggerak utama pemulihan ekonomi.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Afrika Selatan juga terus berkembang.
Ekspor Indonesia ke Afrika Selatan tahun 2024 tercatat 790,39 juta dolar AS. Impor Indonesia dari Afrika Selatan untuk tahun yang sama tercatat 1,62 miliar dolar AS. Total 2.41 miliar dolar AS.
Baca juga : Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen, Purbaya Bangun Optimisme Publik
Dari sisi Afrika Selatan, pada kunjungan Presiden Cyril Ramaphosa pada Oktober 2025 disebutkan ekspor Afrika Selatan ke Indonesia senilai 10,5 miliar rand (sekitar 604 juta dolar AS) dan impor dari Indonesia 16,9 miliar rand.
Indonesia mengekspor berbagai produk seperti minyak kelapa sawit, kendaraan bermotor, produk makanan, tekstil, alas kaki, serta berbagai barang manufaktur lainnya. Sebaliknya Indonesia mengimpor antara lain batu bara, mineral, produk kimia, dan beberapa komoditas industri dari Afrika Selatan.
Di bidang pariwisata, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Afrika Selatan terus meningkat sejak pembukaan kembali perjalanan internasional pasca pandemi. Pada tahin 2025, jumlah wisatawan mencapai sekitar 31.000 orang. Sementara, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan Afrika Selatan ke Indonesia sepanjang 2025 berjumlah 36.548.
Cape Town menjadi tujuan favorit wisatawan Indonesia karena keindahan alamnya, satwa liar yang unik, serta kemudahan akses menuju berbagai destinasi wisata kelas dunia.
Namun, di balik berbagai potensi tersebut, Afrika Selatan masih menghadapi tantangan sosial ekonomi yang tidak ringan. Tingkat pengangguran nasional masih termasuk yang tertinggi di dunia. Di beberapa provinsi, terutama Eastern Cape dan Free State, pengangguran mencapai lebih dari sepertiga angkatan kerja. Banyak anak muda yang kesulitan memperoleh pekerjaan tetap meskipun telah menyelesaikan pendidikan.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Pengelolaan Sampah
Kontras antara kemajuan ekonomi dan tantangan sosial terlihat cukup jelas. Di satu sisi berdiri kawasan bisnis modern, pusat teknologi, pelabuhan internasional, kawasan wisata yang ramai, dan perumahan yang berkembang pesat. Namun di sisi lain masih terdapat permukiman informal yang luas, kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi yang cukup mencolok.
Tekanan ekonomi tersebut dalam beberapa waktu terakhir mulai memunculkan sentimen terhadap warga negara asing. Sebagian masyarakat menganggap bahwa lapangan pekerjaan yang terbatas semakin sulit diperoleh karena persaingan dengan pekerja migran dari negara-negara Afrika lainnya.
Afrika Selatan memiliki potensi yang luar biasa. Sumber daya alamnya melimpah, masyarakatnya kreatif, infrastrukturnya relatif maju, dan posisinya sangat strategis. Tantangan yang dihadapi memang tidak ringan, tetapi peluang untuk terus tumbuh dan berkembang juga tetap terbuka lebar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.