Sebelumnya
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun ekonomi dari Washington.
"Jika Amerika Serikat berpikir dengan meningkatkan tekanan militer dan blokade ekonomi kami akan kembali bernegosiasi, maka mereka keliru," tegas Gharibabadi kepada televisi pemerintah Iran.
Di saat bersamaan, konflik lama di Yaman kembali memanas. Arab Saudi dan kelompok Houthi saling melancarkan serangan yang dikhawatirkan memperluas instabilitas kawasan.
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku meluncurkan rudal balistik dan drone ke Bandara Internasional Abha, Arab Saudi. Serangan itu disebut sebagai balasan atas pemboman landasan pacu Bandara Internasional Sanaa oleh militer Saudi pada Senin (13/7/2026).
Baca juga : Spanyol Melaju Ke Final, Prancis Jadi Ayam Sayur
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree mengatakan serangan tersebut merupakan respons atas agresi Saudi. "Menanggapi agresi kriminal Saudi ini, Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Internasional Abha menggunakan sejumlah rudal balistik dan kendaraan udara tak berawak," ujar Yahya Saree dalam pernyataan video yang dikutip AFP.
Ini menjadi serangan pertama yang diklaim Houthi terhadap Saudi sejak gencatan senjata informal mulai berlaku pada Maret 2022. Kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk Ibu Kota Sanaa, menilai aksi militer Saudi telah mengakhiri periode deeskalasi yang selama ini berlangsung.
Houthi juga memperingatkan maskapai internasional agar tidak melintasi wilayah udara Saudi hingga blokade terhadap Bandara Sanaa dicabut. Laporan Axios menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) meminta dukungan Presiden Donald Trump untuk melancarkan operasi militer terhadap Houthi. Permintaan itu disebut telah mendapat persetujuan dari Trump.
Saat ini, Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk Pelabuhan Hodeidah di Laut Merah, masih berada di bawah kendali Houthi yang bersekutu dengan Iran. Sementara pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional berkedudukan di Aden dan didukung Arab Saudi serta negara-negara Teluk.
Baca juga : Tangani 3 Kasus Mantan Jampidsus, Kejagung Tunjuk 9 Jaksa
Koalisi militer pimpinan Saudi telah mengintervensi Yaman sejak 2015 setelah Houthi merebut Sanaa dan menggulingkan pemerintahan yang sah. Konflik berkepanjangan itu menyebabkan jutaan warga mengungsi, menghancurkan infrastruktur, serta memicu krisis pangan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut perang di Yaman sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia. Ketegangan dipicu sekitar 10 hari lalu, ketika pesawat Iran milik Mahan Air mendarat di Bandara Sanaa untuk menjemput delegasi Houthi yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Penerbangan langsung dari Iran ke Sanaa dinilai tidak lazim karena jalur tersebut telah diblokade Saudi selama lebih dari satu dekade. Riyadh menilai penerbangan itu berpotensi digunakan untuk mengirim senjata maupun penasihat militer Iran kepada Houthi.
Houthi mengklaim jet tempur Saudi sempat berupaya menggagalkan pendaratan pesawat Mahan Air, namun gagal. Kelompok itu kemudian mengancam akan menyerang bandara-bandara Saudi apabila tindakan serupa kembali dilakukan.
Baca juga : Herman Khaeron: Sistem Politik Kita Tak Mengenal Oposisi
Pada Senin (13/7/2026), saat pesawat Mahan Air kembali dari Iran membawa delegasi Houthi, militer Saudi membombardir Bandara Sanaa. Akibatnya, pesawat tersebut mengalihkan pendaratan ke Kota Al Hudaydah di pesisir Laut Merah. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.