BREAKING NEWS
 

Buka Jalan Damai Lewat Jalur Diplomatik

Suriah Mulai Lirik Israel

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Selasa, 28 Juli 2026 06:10 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa. Keduanya berdiskusi tentang kemajuan Suriah di sela-sela pertemuan pemimpin NATO di Kompleks Kepresidenan Bestepe, Ankara, Turki, Rabu (8/7/2026). Foto: JONATHAN ERNST/REUTERS

RM.id  Rakyat Merdeka - Suriah sedang mengupayakan kesepakatan kerja sama keamanan dengan Israel, meski kedua negara tetangga ini secara teknis masih berada dalam keadaan perang sejak 1948.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Minggu (26/7/2026), Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa mengatakan, kesepakatan itu akan mampu membuka jalan bagi perdamaian komprehensif antara Suriah dan Israel, tanpa mengorbankan hak Suriah atas Dataran Tinggi Golan. Dataran tersebut direbut Israel dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan dianeksasi Negeri Zionis itu pada 1981.

Al Sharaa mengatakan, Suriah sedang berupaya melibatkan sejumlah negara untuk menekan Israel agar mengadopsi kebijakan yang lebih seimbang terhadap Suriah.

“Kami menghindari konfrontasi,” ujarnya dikutip dari Reuters, Senin (27/7/2026).

Al Sharaa menyebut, Suriah berusaha membantu Pemerintah Lebanon, tetapi tidak akan campur tangan secara militer dalam upaya mereka melumpuhkan kemampuan militer Hizbullah.

Dengan menentang keterlibatan militer, Al Sharaa menolak berpartisipasi dalam rencana yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Yakni Suriah akan menggantikan Israel untuk melucuti persenjataan Hizbullah.

Baca juga : Fanny Ghassani, Jalani Program Bayi Tabung

Dia menekankan, Suriah mendukung Pemerintah Lebanon untuk mempertahankan monopoli senjata dan menjadi satu-satunya otoritas terkait keputusan tentang perdamaian dan perang.

Al Sharaa memperingatkan, setiap kemerosotan atau kekacauan di Lebanon juga akan langsung mempengaruhi Suriah.

Setelah mantan Presiden Suriah Bashar Al Assad dilengserkan pasukan pemberontak pada Desember 2024, militer Israel memasuki Suriah dan merebut wilayah-wilayah strategis.

Pasukan Israel bergerak ke zona demiliterisasi di dalam Suriah. Termasuk sisi Suriah dari Gunung Hermon yang menghadap ke Ibu Kota Damaskus.

Adsense

Sejak saat itu, militer Israel terus melancarkan serangan terhadap Suriah dan menahan sejumlah orang. Israel juga melakukan intervensi dalam misi yang diklaim demi melindungi etnis minoritas Druze di Suriah barat daya.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Suriah, SANA, pada 26 Juli lalu, pasukan Israel menembaki sejumlah wilayah di Suriah dan menghancurkan sebuah transformator listrik di desa Maariyah, sehingga memutus aliran listrik ke rumah-rumah warga, demikian dilaporkan kantor berita Pemerintah Suriah.

Baca juga : Ekonomi Kuartal IV Bisa Mendekati 6 Persen, Regulasi Yang Hambat Investasi Akan Dibenahi

Para pejabat Israel mengatakan, pengerahan tentara Israel dimaksudkan untuk mencegah kelompok-kelompok musuh membangun pijakan di dekat perbatasan Israel.

Sedangkan para pejabat dan media Suriah menuduhnya memperkuat kehadiran Israel lebih dalam dan permanen di dalam wilayah kedaulatan Suriah. Damaskus menuntut Tel Aviv menarik pasukannya dan kembali ke perjanjian pemisahan pada 1974.

Sementara, pejabat Israel mengatakan, IDF beroperasi di daerah itu untuk mencegah ancaman keamanan dan menjauhkan aktor-aktor bermusuhan dari perbatasan utara mereka.

Awal Juni ini, Axios memberitakan, Trump mengatakan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Israel harus menarik pasukannya dari Suriah.

“Mereka tidak menginginkan Anda di sana. Anda harus tarik pasukan,” saran Trump kepada Netanyahu dikutip dari sumber Gedung Putih.

Namun, Netanyahu menegaskan, keberadaan pasukan Israel di wilayah Suriah masih diperlukan untuk memastikan keamanan rakyat Negeri Zionis dari serbuan kelompok teroris.

Baca juga : Eropa Barat Dilanda Karhutla Dahsyat

Keputusan Israel ini membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) murka. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak seluruh negara menghormati kedaulatan, kemerdekaan, persatuan dan integritas teritorial Suriah.

Tahun lalu, Al Sharaa juga menjadi Presiden Suriah pertama sejak 1967 yang ikut serta dalam Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Pemerintahan Al Sharaa kini berupaya membangun kembali hubungan internasional dan ekonomi lokal, setelah hampir 14 tahun dilanda perang dan puluhan tahun isolasi. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Selasa, 28 Juli 2026 dengan judul "Buka Jalan Damai Lewat Jalur Diplomatik Suriah Mulai Lirik Israel"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense