RM.id Rakyat Merdeka - Iran dilanda krisis BBM di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS). Produksi dalam negeri yang tidak mencukupi, ditambah sulitnya impor akibat blokade, membuat bensin di Negeri Para Mullah itu semakin langka.
Sejak awal September, antrean panjang kendaraan mulai terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di berbagai kota Iran. Warga bahkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bensin, sementara sejumlah stasiun pengisian dilaporkan tutup sebelum seluruh kendaraan yang mengantre terlayani.
Krisis tersebut terutama terasa pada pasokan diesel. Antrean truk untuk mendapatkan bahan bakar dilaporkan memanjang hingga beberapa kilometer.
Berbagai video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga datang ke stasiun pengisian sejak tengah malam. Sebagian bahkan memilih tidur di dalam mobil agar dapat memperoleh BBM pada keesokan harinya.
Seorang warga Karaj, wilayah di sebelah barat Teheran, mengatakan kondisi pasokan BBM semakin sulit. Sejumlah stasiun pengisian tutup, sementara stasiun lainnya tidak memiliki bensin atau dipenuhi antrean panjang.
Baca juga : Kejagung Sita Jam Tangan, Perhiasan Dan Valuta Asing
"Kemarin saya pergi ke beberapa stasiun. Ada yang tutup, ada yang tidak memiliki bensin, dan ada pula yang antreannya sangat panjang," katanya seperti dilansir DW, Kamis (3/9/2026).
Iran sebenarnya telah menghadapi defisit bensin sekitar 15 juta liter atau sekitar 4 juta galon per hari. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga Iran masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.
Kondisi tersebut semakin memburuk setelah kerusakan akibat perang, kesulitan mengimpor produk olahan minyak, serta blokade dan sanksi ekonomi yang diberlakukan AS.
Wakil Presiden Iran Mohammad Jafar Ghaempanah mengakui, produksi bensin domestik tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri. Menurut dia, blokade angkatan laut AS juga membuat Iran kesulitan mendatangkan pasokan BBM dari luar negeri.
"Dan dikarenakan blokade angkatan laut AS, kita tidak dapat mengimpornya," ujar Ghaempanah.
Baca juga : Bawaslu Mulai Antisipasi Deepfake Di Pemilu 2029
Di tengah keterbatasan pasokan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyerukan masyarakat menghemat penggunaan bensin. Seruan itu disampaikan karena Iran harus mengandalkan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan BBM.
"Kita perlu menghemat bensin dalam pemakaian kita. Jika kita menggunakannya dengan benar, kita dapat mengelola dengan jumlah bensin yang kita produksi di negara ini," kata Ghalibaf dalam pidato yang disiarkan televisi Iran, seperti dilansir AFP, Rabu (2/9/2026).
Pemerintah Iran juga memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM untuk mencegah penyelundupan. Otoritas setempat menangkap 11 warga negara asing yang diduga berupaya menyelundupkan BBM keluar dari Iran.
Dalam operasi tersebut, aparat menemukan sekitar 382.000 liter diesel yang diduga akan diselundupkan menggunakan kapal tongkang di kawasan perbatasan. Televisi pemerintah Iran melaporkan para tersangka ditangkap oleh penjaga perbatasan, meski tidak menyebutkan kewarganegaraan mereka.
Krisis pasokan BBM terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap Iran. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada akhir Agustus 2026 meluncurkan Operation Economic Outcast yang menyasar sejumlah sektor strategis Iran.
Baca juga : Gerindra Jawa Timur Tidak Mau Terlena
Operasi tersebut antara lain menargetkan akses Iran terhadap aset digital, pengadaan teknologi canggih, cadangan emas, penerbangan komersial, serta industri pelayaran dan energi.
Tekanan terhadap Iran kemudian mendapat dukungan dari Uni Eropa. Dalam pernyataan resmi dari Brussels pada 31 Agustus 2026, Uni Eropa mendukung upaya untuk menghentikan aktivitas Iran yang dinilai dapat mengganggu stabilitas sekaligus mendorong dimulainya kembali perundingan perdamaian.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyambut dukungan tersebut. Dia mengatakan, AS dan negara-negara sekutunya akan terus memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.