BREAKING NEWS
 

Selat Hormuz Masih Diblokade, Saudi Tutup Beberapa Kilang

Dunia Terancam Krisis Energi

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : SISWANTO
Rabu, 14 Oktober 2026 08:00 WIB
Ilustrasi perang di Timteng dan konflik geopolitik global memberikan tekanan besar pada pasar energi. (Foto: AI/Chatgpt)

RM.id  Rakyat Merdeka - Memanasnya tensi politik di Timur Tengah, membuat dunia kembali terancam krisis energi. Selain status Selat Hormuz yang masih diblokade, Arab Saudi juga menutup sejumlah kilang minyaknya akibat konflik dengan kelompok Houthi di Yaman.

Hingga kini, Iran dan AS belum mencapai kesepakatan damai. Kedua militernya masih saling blokade dan menyerang kapal-kapal tanker dan kargo di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan baru saja menarget kapal kargo yang mencoba melintasi Selat Hormuz dengan menggunakan rute tidak resmi. Kapal dilaporkan terbakar.

“Sebuah supertanker terkena serangan di Selat Hormuz dan terbakar. Kapal berlayar melintasi wilayah tersebut dengan mematikan transponder dan mengabaikan peringatan dari Angkatan Laut Garda Revolusi,” tulis IRGC dilansir Al Jazeera, Selasa (13/10/2026).

Minggu (11/10/2026), sebuah kapal tanker terbakar setelah digempur proyektil militer Iran di Selat Hormuz. Sehari sebelumnya, IRGC mengklaim, pada Sabtu (10/10/2026) sebuah kapal supertanker minyak menabrak ranjau laut dan meledak saat mencoba meninggalkan Selat Hormuz melalui jalur selatan yang tidak diizinkan. Kapal yang mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak itu disebut mematikan sistem navigasi.

Sedangkan AS mengklaim telah melumpuhkan kapal kargo komersial di Teluk Oman, setelah awak kapal mengabaikan peringatan dan berupaya menerobos blokade, berdasarkan rilis Komando Pusat AS (CENTCOM) di platform X, seperti dilansir Reuters, Minggu (11/10/2026).

Baca juga : Pemerintah Bantah Daya Beli Masyarakat Anjlok

CENTCOM menuding, kapal kargo tersebut berupaya melintasi perairan kawasan setelah bertolak dari pelabuhan Iran.

Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei mengancam sistem pengangkutan minyak yang digunakan negara-negara Arab untuk menembus blokade pelayaran di Selat Hormuz dengan dukungan AS. Teheran memperingatkan serangan terhadap infrastruktur digital yang terkait dengan AS dan Uni Emirat Arab.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman terus membombardir fasilitas bandara milik Saudi. Sepekan ini, sejumlah rentetan serangan menyasar Bandara Internasional King Khalid, Riyadh dan bandara lainnya.

Diketahui, konflik Saudi dan Houthi kembali memanas secara intens sejak Juli 2026 setelah Houthi memblokade laut dan melancarkan serangkaian serangan ke wilayah serta infrastruktur Saudi.

Adsense

Imbasnya, Saudi Aramco, perusahaan minyak negara ini menutup sejumlah fasilitas energi dan jalur pipa utamanya. Pada 27 Juli 2026, operasional Kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel berhenti sementara setelah diserang Houthi.

Saudi juga sempat menutup jalur pipa East-West (Timur-Barat), pertengahan September lalu. Jalur pipa sepanjang 1.200 kilometer yang membentang melintasi Semenanjung Arab ini telah membantu Saudi menghindari kemacetan pelayaran di Selat Hormuz, yang tertahan akibat konflik AS dan Iran. Jalur ini telah mengalirkan 4 juta hingga 5 juta barel per hari dalam beberapa bulan terakhir yang mencakup 4 hingga 5 persen dari pasokan global.

Baca juga : Indeks & Rupiah Perlu Diperkuat

Berkaitan dengan itu, Saudi berencana mengalihkan sementara pipa gas domestik untuk mengangkut minyak mentah dan meningkatkan kapasitas ekspor minyak hingga 1,2 juta barel per hari.

“Pengalihan pipa ini dapat menambah kapasitas ekspor minyak dalam waktu tujuh hingga delapan pekan,” kata Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dalam Kongres Energi World Petroleum Congress (WPC) di Riyadh dilansir Reuters, Senin (12/10/2026).

Diketahui, gangguan pelayaran khususnya di Selat Hormuz dan geopolitik di Timteng memang amat berdampak pada perdagangan energi dunia. Data Windward menunjukkan lalu lintas kapal turun dari 138 menjadi 31 kapal per hari pada pekan terakhir September. Biaya pengiriman yang sebelumnya hanya 13 persen dari biaya minyak mentah Teluk, kini naik mencapai 2.530 persen.

Imbas perkembangan situasi terbaru, harga minyak mentah dunia naik hampir 2 dolar AS per barel pada akhir perdagangan Senin (12/10/2026) atau Selasa (13/10/2026) pagi WIB.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak terdekat naik 1,93 dolar AS atau 1,8 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel. Harga ini merupakan level tertinggi sejak 15 September 2026. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,89 dolar AS atau 2 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel.

Indonesia Sasar Pasar Afrika dan Rusia

Perang di Timteng dan konflik geopolitik global memberikan tekanan besar pada pasar energi dan mengganggu pasokan BBM Indonesia, sekitar 25 persen. Sebab Indonesia berstatus negara importir bersih (net importer) minyak mentah dan produk BBM.

Baca juga : Danantara Umumkan 100 BUMN Dengan Pelayanan Pelanggan Terbaik

Terkait konflik di Timur Tengah, Indonesia sudah menyiapkan sejumlah strategi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia melobi sampai ke Afrika untuk mengamankan pasokan BBM.

“Dulu kita punya, 23 persen crude dari Selat Hormuz. Sekarang dengan Arab Saudi lagi kena begini, nambah lagi. Makanya Menteri ESDM nggak bisa tidur terlalu panjang, karena lobi minyak di mana-mana,” kata Bahlil dalam acara Rakernas III HIPPI Tahun 2026 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

Pemerintah pun mengalihkan rute pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara lain. Yang terbaru Bahlil tengah melobi negara-negara Afrika. Sebelumnya, Indonesia sudah dua kali impor minyak mentah dari Rusia.

Pada tahap pertama, volume minyak mentah yang diimpor sebanyak 770 ribu barel senilai sekitar 75 juta dolar AS, Juni 2026. “Yang kedua sedang berjalan. Dan ingat ya yang melakukan impor itu bukan Pertamina ya, negara lewat BLU ya,” kata Bahlil, Rabu (7/10/2026). [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense