Sebelumnya
Facebook mengonfirmasi kebocoran data itu. Menurut perusahaan yang berkantor pusat di Menlo Park, California itu, kebocoran tersebut terjadi dua tahun lalu.
“Ini adalah data lama yang sebelumnya dilaporkan pada 2019,” kata seorang juru bicara Facebook kepada The Record.
Baca juga : Angkasa Pura I Raih Empat Penghargaan PR Indonesia Awards 2021
Pada Agustus 2019, Facebook mengatakan masalah kerentanan itu telah ditangani. Facebook sebelumnya berjanji untuk menindak penggalian data massal setelah Cambridge Analytica menghapus data dari 80 juta pengguna yang melanggar persyaratan layanan Facebook untuk menargetkan pemilih dengan iklan politik dalam pemilu 2016.
Kendati kebocoran data sudah terjadi dua tahun yang lalu, menurut Gal, masih ada ancaman kejahatan siber yang mengintai para pengguna Facebook yang jadi korban kebocoran data ini.
Baca juga : Dirjen PAS Ungkap 135 Ribu Warga Binaan Kasus Narkotika Sesaki Lapas di Indonesia
Lebih jauh, Gal mengatakan dari sudut pandang keamanan, tidak banyak yang dapat dilakukan Facebook untuk membantu pengguna yang terkena dampak pelanggaran, karena data mereka sudah terbuka. Namun, menurut dia, Facebook dapat memberi tahu pengguna, sehingga mereka dapat tetap waspada terhadap kemungkinan skema phishing atau penipuan menggunakan data pribadi mereka.
“Orang-orang yang mendaftar ke perusahaan terkemuka seperti Facebook mempercayai mereka dengan data mereka dan Facebook seharusnya memperlakukan data dengan sangat hormat,” kata Gal.
Baca juga : Mundur Dari All England 2021, Tim Indonesia Isolasi 10 Hari
“Informasi pribadi yang bocor adalah pelanggaran kepercayaan sangat besar dan harus ditangani sebagaimana mestinya,” tandas Gal. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.