Sebelumnya
Negara yang “arguably” cukup nyaman dengan kemenangan Taliban adalah Pakistan, berdasarkan pertimbangan tali persaudaraan. Seperti diketahui, mayoritas pasukan Taliban berasal dari etnik Pashtun, yang juga bermukim di Pakistan. Patut dicermati apakah Pakistan akan memanfaatkan “kartu Taliban” dalam pertikaiannya dengan India. Seperti diketahui, pemerintah Afghanistan terdahulu memiliki hubungan relatif erat dengan India.
Etnik Pashtun memang dikenal sebagai “bangsa petarung”, yang sepanjang sejarah telah tercatat mampu mengusir Inggris (1842), Uni Soviet (1989), dan AS (2021). Pashtun adalah etnik yang dikenal tinggi tingkat militansinya dan memiliki norma sosial “Pashtunwali”, yang bertumpu antara lain pada nilai-nilai: “badal” (balas dendam) dan “melmestia” (perlindungan, bahkan terhadap musuh yang sudah menyerah).
Baca juga : Jadikan Pandemi Sebagai Momentum Introspeksi Diri
Norma-norma sosial yang ketat inilah yang dimanfaatkan Osama bin Laden, sehingga pemimpin Taliban Mullah Omar ketika itu, memutuskan untuk melindungi tokoh teroris Al-Qaeda tersebut di Afghanistan dari serangan AS.
Berdasarkan pertimbangan bahwa gerakan Taliban bertumpu pada “Pashtun ethno-nationalism”, relatif kecil kemungkinan mereka terjebak dengan euforia untuk mengekspor revolusi ke negara-negara lain di dunia, yang tidak ada hubungan darah dan emosional dengan Pasthun dan Pashtunwali, seperti yang dilakukan Iran, ketika berada di bawah Ayatollah Khomeini.
Baca juga : Menteri ESDM: Ayo, Genjot!
Namun demikian, negara-negara di dunia, khususnya dari dunia Islam, termasuk Indonesia, tetap perlu meningkatkan kewaspadaannya. Terutama jika dikaitkan dengan kemungkinan kembalinya warga negara mereka dari Afghanistan, yang telah terpapar pada ajaran dan militansi Islam orthodoks Taliban.
Penulis adalah Pengamat isu-isu strategis, Duta Besar RI untuk China (2010-2013) dan Duta Besar RI untuk Australia (2003-2005).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.