BREAKING NEWS
 

Membaca Ulang Al-Qur’an (5)

Antara Makna Eksoterik Dan Esoterik Al-Qur’an

Senin, 27 Maret 2023 06:16 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Figur Nabi Musa melambangkan eksoterisme yang bersifat formal-logic dan figure Khidhir melambangkan esoterisme yang bersifat metafisik-batiniyah.

Kisah tersebut menyadarkan kita bahwa esoterisme tidak dapat dijangkau dengan metodologi dan epistimologi eksoterik. Seperti dikatakan Nasr, esoterisme mempunyai logikanya sendiri yang tak dapat difahami oleh pendekatan lahiriah semata.

Esoterisme menuntut adanya kontemplasi lebih mendalam untuk memahami suasana batin diri sendiri. Dari kedalaman itulah nanti akan membantu memahami teks-teks suci sebagaimana tertuang di dalam kitab-kitab suci, khususnya Al-Qur’an.

Adsense

Baca juga : Struktur Makna Esoterik Al-Qur’an

Berbeda dengan Nabi Musa, epistimologi Khidhir tidak lagi mengandalkan logika. Bukannya Khidhir anti logika tetapi sudah melewati fase logika itu. Selama orang masih berkutat di dunia logika maka selama itu sulit untuk menembus hijab-hijab yang jumlahnya menurut hadis Nabi sebanyak 70 lapis.

Menurut Imam Al-Gazali, ilmu hushuli, yaitu ilmu yang hanya diperoleh melalui olah nalar, tidak disertai olah batin, akan menjadi hijab yang amat tebal untuk ditembus para pencari Tuhan (salikin).

Dengan kata lain, ilmu-ilmu logika sulit mengantarkan seseorang untuk menyingkap tabir rahasia Tuhan (mukasyafah), termasuk untuk memahami makna batin Al-Qur’an.

Baca juga : Analisis Makna Isyarah

Khidhir meninggalkan Musa merupakan peristiwa simbolik. Khidhir tidak memberikan ijazah kelulusan terhadap muridnya, Musa, bahkan terkesan gagal dengan ketidak mampuannya mengikuti aturan Khidhir, akan tetapi justru itu merupakan "tanda lulus" karena Nabi Musa sudah menyadari bahwa di atas langit masih ada langit.

Dengan begitu, Musa terus akan mencari sendiri jalan ma'rifahnya menuju puncak ketinggian. Karena memang semakin ke puncak semakin memerlukan pendekatan dan kemampuan personal.

Mursyid atau sang guru biasanya hanya menuntun sampai ke leher gunung tetapi ke puncak diperlukan kekuatan pribadi. Sama dengan Jibril, hanya mengantar sampai ke maqam khusus para malaikat, tetapi ke puncak (Sidratil Muntaha) Nabi Muhammad ditentukan sendiri jalannya oleh Sang Pengundang, Allah SWT.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense