BREAKING NEWS
 

Tuberkulosis dan Pandemi

Kamis, 8 Agustus 2024 12:50 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 7 Agustus 2024 saya menjadi moderator pada “Leadership Dialogue” dalam acara peluncuran program “Airborne Infection Defence Platform – AIDP” yang merupakan Side Event pada pertemuan Menteri Kesehatan se ASEAN di Vientiane Laos. Program AIDP pertama kali dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden, yang pada dasarnya punya dua ruang lingkup.

Pertama, bagaimana agar program pengendalian tubekulosis (TB) jangan sampai mengalami kendala / disrupsi bila ada pandemi, dan ke dua bagaimana agar berbagai pendekatan dalam program pengendalian TB dapat juga digunakan untuk menghadapi kemungkinan pandemi mendatang.

Para ahli menyadari bahwa pandemi mendatang nampaknya juga akan ditularkan melalui udara (airborne infection), sama seperti cara penularan tubekulosis juga.

Kedua ruang lingkup ini menjadi program utama AIDP yang akan diterapkan ke negara-negara ASEAN, yang peluncuran resmi kegiatannya dilakukan di Vientiane Laos ini.

 

Prof. Tjandra Yoga Aditama saat sedang di Vientiane Laos. (Foto: Istimewa)

 

Acara ini dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Laos, Dr Bounpeng Phoummalaysith, yang sebelumnya diawali sambutan dari Menteri Kesehatan Filipina Dr Teodoro Javier Herbosa yang merupakan pimpinan Stop TB Partnership serta sambutan pula oleh perwakilan US AID di ASEAN.

Program AIDP memang didukung pendanaan oleh USAID, dan dilaksanakan oleh Stop TB Partnership global dan implementasi harian dilakukan oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dimana saya tergabung di dalamnya.

Baca juga : Cacar Monyet Mpox Kembali Mewabah, Perkuat Dalam Negeri

Ketika Covid-19 melanda dunia maka banyak negara mengalami disrupsi dalam penanganan tuberkulosis (TB) di negaranya. "Global TB Report" bahkan menyebutkan bahwa negara kita merupakan salah satu yang mengalami pukulan terbesar di dunia (bersama Filipina dan lain-lain) yang ditandai dengan penurunan kemampuan penemuan kasus TB, yang tentu berakibat pasien TB jadi makin sedikit yang diobati dan disembuhkan.

Sesudah pandemi mereda maka kita berhasil mulai memperbaiki situasi penanganan TB dengan angka penemuan kasus yang kini terus meningkat.

Pengalaman disrupsi penanganan TB di berbagai negara tentu jangan sampai terulang lagi, utamanya kalau kelak akan ada pandemi kembali, jadi harus ada kegiatan penguatan oleh berbagai negara, termasuk negara kita.

Dapat ditegaskan kembali bahwa pasti akan ada pandemi lagi dimasa datang, kita hanya belum tahu kapan akan terjadi dan juga belum tahu apa peyakit penyebabnya, hanya nampaknya memang akan ditularkan melalui udara (airborne infection) juga.

Dalam memperkuat program TB maka ternyata setidaknya ada tujuh hal yang ternyata juga dapat dipakai untuk kesiapan menghadapi pandemi. Pertama, skrining dan testing, yang harus dilakukan dalam pengendalian TB dan juga untuk pandemi. Kedua, alat-alat diagnostik baru yang perlu terus dikembangkan untuk diagnosis TB dan ternyata juga akan dapat digunakan kalua nanti kembai ada pandemi.

Setidaknya ada tiga yang kini luas digunakan, yaitu Gene Xpert dan Truenat, lalu mesin ronsen portable yang dilengkapi tehnologi Artificial Intelegence (AI), serta sekuen genetik.

Adsense

Hal ke tiga dari penguatan program TB yang dapat dipakai untuk menghadapi pandemi mendatang adalah penelusuran kontak. Kalau ada pasien TB di masyarakat maka kontak sekitarnya harus ditelusuri.

Hal serupa juga sudah kita alami waktu Covid-19, dan akan perlu dilakukan juga kalau ada pandemi kembali melanda. Hal ke empat adalah pentingnya pelayanan Kesehatan berbasis komunitas, yang setidaknya meliputi lima faktor, yang perlu kita lakukan mulai sekarang untuk pengendalian TB dan juga kelak bila ada pandemi.

Baca juga : Pengendalian AKI Dan AKB Di Lapangan

Ke lima faktor ini adalah 1) penemuan kasus secara aktif, 2) dukungan pengobatan oleh keluarga dan masyarakat, 3) tetap mejamin hak azazi serta menghidari stigma dan ketidak setaraan gender, 4)monitoring dengan dukungan masyarakat serta 5) penguatan surveilan berbasis masyarakat dalam kerangka aktifitas deteksi dini penyakit.

Selanjutnya, hal ke lima dari program penguatan TB yang juga akan bermanfaat menghadapi pandmei adalah pendekatan penangan kesehatan melalui sistem digital.

Hal ke enam adalah pencegahan penularan penyakit melalui udara (baik TB maupun pandemi mendatang) dan juga program pengendalian dan pencegahan infeksi (infection prevention control).

Hal ke tujuh yang akan dicakup adalah perawatan pasien dengan gangguan infeksi berat di paru-parunya, baik karena TB atau contoh ketika Covid-19 yang lalu maupun sebagai kesiapan ataupun antisipasi menghadapi kemungkinan pandemi mendatang.

Dalam "leadership dialogue" yang saya moderatori di Vientiane ini maka hadir dan berbicara para pejabat senior kesehatan negara ASEAN, tentunya termasuk dari Indonesia.

Semua menceritakan pengalaman negaranya menangani TB serta visi mereka dalam memperkuat program TB mendatang serta sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan pandemi.

Selain itu, juga dibahas tentang pentingnya kerjasama sesama negara ASEAN untuk menghadapi penyakit menular yang ditularkan melalui udara (airborne infection) ini, baik tuberculosis maupun juga penyakit penyebab pandemi mendatang.

Dapat pula disampaikan disini bahwa program AIDP dimulai tahun ini dengan dilakukannya analisa situasi dalam bentuk “landscape assessment”, yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk program nyata di tahun berikutnya.

Baca juga : AMR & One Health

Sekarang ini proyeknya dijadualkan selama tiga tahun, dengan kemungkinan diperpanjang sampai lima tahun. Tentu kita semua berharap agar program AIDP akan memberi sumbangsih nyata bagi pengendalian TB dan kesiapan menghadapi pandemi di negara-negara ASEAN, termasuk negara kita.

Prof Tjandra Yoga Aditama

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI

Senior Advisor and Project Lead AIDP

Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

Penerima Rekor MURI April 2024 sebagai penulis artikel Covid-19 terbanyak di media massa

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense