Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pelayanan kesehatan bagi jemaah Haji kita bermula di kloter masing-masing, oleh dokter dan paramedik kloter, di hotel tempat menginap. Sesudah itu, jamaah yang sakit dapat dirujuk ke klinik yang ada di beberapa tempat di Mekkah dan Madinah, yang disebut sebagai Sektor.
Kemudian, kalau kasusnya memang berat maka akan dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Mekkah dan Madinah, yang lengkap dengan dokter spesialis, alat kedokteran cukup lengkap serta ruang rawat inap.
Ketika saya bertugas sebagai Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) tahun 1990an maka KKHI masih disebut sebagai Poliklinik Medik Darurat (PMD) Haji. Walau disebut “darurat” tapi PMD ketika itu juga sudah ada tenaga dokter spesialis serta menyediakan puluhan kamar rawat inap di gedung beberapa lantai, walaupun alat kesehatannya tentu belum selengkap sekarang.
Waktu itu digunakan kata “darurat” karena aturan otoritas setempat ketika memang menyebutkan demikian. Kemudian ketika saya menjadi Ketua Team Pengawasan dan Pengendalian (WasDal) Kesehatan Haji tahun 2014 maka kliniknya sudah kurang lebih sebaik seperti sekarang ini, baik kelengkapan tenaganya, alatnya, rawat inap sampai ICU dll., dan tentu juga sudah ada pelayanan kesehatan di kloter dan juga di Sektor.
Dari berita kita dengar bahwa cukup banyak jamaah haji kita sekarang yang terkena ISPA, dan bahkan juga ada Pneumonia. Memang dari tahun ke tahun maka ISPA selalu menjadi penyebab penyakit yang utama, dan pneumonia menjadi penyebab kematian penting. Seperti kita ketahui bahwa ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) biasanya dihubungkan dengan radang yang masih relatif lebih ringan daripada pneumonia.
Baca juga : Meniru Keberhasilan India Dalam Menurunkan Angka Kematian Tuberkulosis
Karena itu bisa dimengerti bahwa di klinik di Sektor (atau data di dokter kloter) lebih banyak ditemui ISPA, dan kalau sudah lebih berat (apalagi mengarah ke pneumonia) maka akan dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia.
Setidaknya ada empat faktor risiko terjadinya infeksi saluran napas di kalangan jamaah Haji sekarang ini. Pertama adalah cukup banyak kerumunan orang yang memudahkan penularan, ke dua udara panas dan kering, ke tiga adanya polusi/debu serta ke empat daya tahan tubuh jamaah yang mungkin terganggu karena kelelahan aktiftas dan juga perubahan suasana
Tentang pencegahan ISPA dan Pneumonia yang dapat dilakukan jamaah Haji maka ada beberapa hal yang baik dilakukan. Yang paling baik tentu vaksinasi influenza (dan bila perlu pneumonia) sebelum berangkat, tapi kalau sekarang sudah di Saudi maka tentu bukan vaksinasi bentuk pencegahan utamanya.
Penggunaan masker juga memang baik dilakukan, karena kemungkinan penularan penyakit dan juga mencegah polusi/debu dll yang mungkin jadi faktor risiko untuk terkena infeksi saluran napas. Jamaah kita juga harus minum air yang memadai, untuk mencegah dehidrasi dan juga menjaga kelembaban tubuh.
Lalu, bila ada penyakit kronik maka perlu konsumsi obat secara teratur sesuai yang dianjurkan, karena perburukan penyakit kronik akan lebih mudah memicu terjadinya ISPA. Secara umu maka perilaku hidup bersih sehat (PHBS) perlu terus dijaga, karena akan mempengaruhi daya tahan tubuh untuk menghadapi kemungkinan ISPA.
Baca juga : Tujuh Hal Penting Menyikapi Peningkatan Kasus Covid-19 Di Singapura
Yang juga amat penting adalah agar kalau sudah mulai ada keluhan batuk, panas dan gangguan pernapasan lainnya maka segera berkonsultasi ke dokter kloter atau Sektor terdekat. Lalu, bila ada perburukan keluhan maka segera berobat ke pelayanan kesehatan yang lebih lengkap, seperti halnya KKHI atau mungkin RS pemerintah Arab Saudi.
Sementara itu, bila sudah dalam keadaan rawat inap di KKHI atau RS Arab Saudi maka perlu mengikuti semua anjuran dan rekomendasi petugas kesehatan. Memang mungkin akan terasa berat karena ingin segera beribadah di masjid dan atau kumpul lagi bersama keluarga/kloter (apalagi kalau ada barier sosial/bahasa/makanan dll kalau dirawat di RS Arab Saudi), tetapi kalau memang sudah pneumonia dan dirawat di KKHI/RS maka ikutilah sepenuhnya anjuran petugas kesehatan yang merawat.
Kalau jamaah haji kita sudah dirawat inap maka adan beberapa prinsip tatalaksana kasus ISPA dan Pneumonia oleh klinik/RS yang akan dilakukan oleh petugas kesehatan, baik dari Indonesia maupun dokter dan tenaga kesehatan Arab Saudi.
Untuk ISPA akan diberikan peningkatan daya tahan tubuh, mungkin infus dan atau asupan gizi yang cukup. Juga akan diberikan juga obat simtomatik, seperti antipiretik, mukolitik dan ekspektoran.
Kalau masih ISPA ringan maka pemberian antibiotika atau antivirus belum tentu perlu diberikan, tergantung analisa klinik yang dilakukan. Sementara itu, pada keadaan ISPA berat dan pneumonia maka pemberian antibiotika atau antivirus tentu sebaiknya dilakukan berdasar pola kuman pada pasiennya, walaupun dapat juga diberikan berdasar data empirik. Bila keadaan pneumonia makin berat maka ditangani sesuai prosedur penanganan gagal napas, termasuk mungkin bila diperlukan penanganan di ICU dengan ventilator dll.
Baca juga : Ini Proses Penggunaan Smart Card Saat Jemaah Haji Berangkat ke Arafah
Kini adalah sekitar seminggu sebelum jamaah memasuki puncak kegiatan ibadah Haji di Arafah, Mudalifah dan Mina. Hari-hari itu juga diperkirakan cuaca akan makin panas.
Akan baik kalau jamah Haji kita jangan sampai terkena ISPA ,apalagi yang berat, baik di hari-hari sekarang ini dan apalagi kalau sudah masuk puncak ibadah Haji di pertengahan bulan Juni ini. Selain itu, periode pasca Arafah Musdalifah Mina juga perlu amat diwaspadai, karena jemaah Haji biasanya cukup lelah dan kalau tidak hati-hati akan rentan terkena ISPA dan Pneumonia.
Semoga jamaah Haji kita terjaga kesehatannya dan mendapat Haji yang mabrur.
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya