Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Perjalanan spiritual (spiritual journeying) di dalam Al-Qur’an dan hadis digunakan banyak istilah, antara lain: Sair, safar, suluk, siyah, subul, thuruq, masya, dzahab, mishr, firar, kadh, rihl, khuruj, hijrah, sa’y, qashd, tanzil, taraqqi, dan mi’raj, dll. Inilah istilah-istilah yang sering digunakan dalam dunia sufistik dalam menjelaskan perjalanan anak manusia mendaki menuju langit atau kembali ke kampung halaman sejatinya di surga.
Pertama Sair, berasal dari akar kata sara-yasir-sair, berarti menaiki, memanjat, meloncat, dan pergi. Kata sair paling sering digunakan di dalam Al-Qur’an, terulang tidak kurang dari 27 kali.
Istilah sair banyak digunakan di dalam menggambarkan perjalanan Insan Kamil, yang biasa juga disebut madhhar al-Ijma’, Nur Muhammad, Nufus al-Rahman, Jauhar dan istilah yang agak kurang pas ‘Aql al-Awwal. Contoh penggunaannya di dalam Al-Qur’an misalnya: Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S. Al-Hajj/22:46).
Baca juga : Asma’ul Husna Sebagai Pintu-pintu Langit (2)
Kedua safar, berasal dari bahasa Arab dari akar kata: safara-yusafir-Safar, berarti bepergian, menyapu, menulis, kemudian membentuk kata sifarah (perantaraan), safir (duta besar), musafir (pengembara), dan safarah (perantaraan).
Safar di dalam buku-buku tasawuf sering diartikan perjalanan spiritual dan non spiritual yang tujuannya lebih berorientasi kepada perjalanan sosial yang kurang makan. Al-Qur’an memperkenalkan kata tersebut digunakan untuk mobilitas horizontal, misalnya perjalanan dari satu tempat ke dunia lain seperti digunakan di dalam ayat: Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. Q.S. Al-Kahfi/18:62).
Dalam ayat lain dikatakan: “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka.
Baca juga : Asmaul Husna Sebagai Pintu-pintu Langit (1)
Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (Q.S. Al-Taubah/9:42).
Ketiga suluk, berasal dari kata salaka-yasluku –suluk berarti memasuki, melalui jalan-jalan tertentu, mengurai dan memintal. Kata suluk dalam dunia tasawuf memiliki makna sebagai sebuah jalan-jalan khusus atau lorong-lorong rahasia menuju Tuhan.
Orang –orang yang akan melewati jalan ini disarankan memiliki pembimbing atau mursyid, agar jika ada kerancuan pikiran dan suasana batin maka Sang Mursyid bisa menengahinya.
Baca juga : Makna Denotatif Dan Konotatif Langit
Kata suluk digunakan beberapa kali di dalam Al-Qur’an antara lain: Demikianlah, Kami mamasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) kedalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir), (Q.S. al-Hijr/15:12).
Ayat lain: Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). (Q.S. Al-Nahl/16:69). (Bersambung).
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Sabtu, 5 Oktober 2024 dengan judul "Road-Map Menuju Langit (6) Jenis-jenis Perjalanan Spiritual (1)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.