Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Yang dimaksud ”Allah is A God” dalam tulisan ini ialah personifikasi Tuhan (personal God), yaitu Allah SWT yang telah memperkenalkan diri-Nya sebagai pribadi (as a Person) yang tak bisa dibandingkan dengan apapun dan siapapun, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (Q.S. Al-Syura/42:11). Dalam ayat lain dipertegas lagi: “Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (Q.S. Ali ‘Imran/3:97). Sedangkan ”Allah is The God” ialah Tuhan Maha Meliputi (Al-Muhith) segala sesuatu (impersonal God), sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya di dalam beberapa ayat, antara lain: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hadid/57:4), “Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (Q.S. Qaf/50:16), dan “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah”. (Q.S. Al-Baqarah/2:115).
Baca juga : Perjanjian Hudaibiyyah: Pelajaran Diplomasi Publik
Allah SWT sebagai “Personal God” dan ” Inpersonal God” dapat dihubungkan dengan konsep al-tanzih (incomparability) dan al-tasybih (similarity). Kedua terminologi ini menjadi sangat mendasar karena mempengaruhi suasana batin dan etos kerja seorang muslim. Konsep ini juga menjadi salah satu pangkal perbedaan mendasar antara para mutakallimin/teolog dan para sufi. Secara kebahasaan tanzih berarti jauh dan tasybih berarti menyerupai.
Baca juga : Pemimpin Politik Muru`ah
Wacana Tuhan sebagai A God dan The God sebetulnya muncul juga sebagai suatu perdebatan konseptual di dalam aama-agama lain. Dalam agama Hindu, sebuah agama yang jauh lebih tua dari pada agama Islam, juga dikenal aliran Advita Vedanta (non-duality) yang menganggap Tuhan memiliki privasi dan distinktifnya sendiri, dan aliran Dwita Wedanta yang mengakomodir faham dualitas, yakni adanya Brahma Saguna yang memiliki entitas sendiri sesuai dengan kapasitasnya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Brahma Nirguna yang tidak memiliki entitas dan privasi sendiri, melainkan menyebar di mana-mana. Konsep ini mengingatkan kita kepada konsep jauhar dan ’aradl di dalam teologi Islam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.