BREAKING NEWS
 

Guangzhou: Kunjungan Singkat yang Memikat

Jumat, 15 November 2024 14:48 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Seminar internasional berjudul “The Impact of Technology on Culture, Ethics and Future Works” menghantarkan saya menjadi narasumber di hadapan lebih dari 50 mahasiswa, yang berasal dari: South China University of Technology (SCUT), South China Normal University (SCNU), Sun Yat Sen University (SYSU), Jinan University, College of Chinese Language and Culture (CCLC). Kegiatan yang menghadirkan pembicara dari tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan China ini, menjadi kesempatan emas bagi saya untuk mengenal Kota Guangzhou. Walau tidak bisa mengunjungi banyak tempat, ada kesan yang akan selalu melekat.

Guangzhou menjadi contoh sempurna, dari kota modern yang berhasil menerapkan sistem manajemen perkotaan yang efektif dan efisien. Saya menyempatkan diri mengunjungi jantung kota, salah satunya ke kawasan Zhujiang New Town CBD.  Area ini, menampilkan harmoni antara gedung-gedung pencakar langit seperti CTF Finance Centre, yang menjulang lebih dari 500 meter. Terhampar ruang publik yang nyaman dan area pejalan kaki yang luas. Penataan zona yang cermat memastikan keseimbangan antara area komersial, residensial, ruang hijau, yang menciptakan lingkungan urban yang livable.

Menurut beberapa referensi, komitmen Guangzhou terhadap keberlanjutan kota, terlihat jelas dalam program pengelolaan lingkungan yang ketat. Sejak 2019, sistem pemilahan sampah, telah wajib diterapkan, didukung dengan tempat sampah pintar dan jadwal pengambilan yang teratur. Guangzhou Knowledge City, sebuah kota satelit yang dikembangkan dengan prinsip ramah lingkungan, mendemonstrasikan visi jangka panjang kota dalam menciptakan komunitas berkelanjutan. Pengalaman pribadi saya sejak menginjakkan kaki di bandara, menyusuri kota, hingga beristirahat di kamar hotel berbiaya murah, satu hal yang mengagumkan, yaitu aspek kebersihannya, yang dalam skala 1-10, saya berikan skor 9.  

Hal lain yang juga menarik untuk dijadikan contoh adalah sistem transportasi yang canggih, seolah menjadi tulang punggung mobilitas penduduk kota. Metro Guangzhou, dengan begitu banyak jalur seperti menjahit berbagai sudut kota melalui jaringan yang terintegrasi sempurna. Stasiun-stasiun modern seperti Zhujiang New Town tidak hanya berfungsi sebagai titik transit, tetapi juga menjadi landmark arsitektur dengan sistem navigasi yang intuitif dan teknologi ticketing pintar. Sebagai informasi, saya terkejut mengetahui bahwa penduduk di sini, bahkan sudah bertransaksi di toko-toko kecil, dengan menggunakan tapak tangan mereka, selain menggunakan teknologi pemindaian wajah.

Baca juga : Malnutrisi Digital, Tantangan Peradaban Teknologi

Meski kota ini dibungkus dengan modernitas tinggi, keagungan budaya tetap terjaga. Di era modern, Guangzhou berhasil memadukan warisan sejarah dengan pembangunan kontemporer. Salah satunya di Distrik Liwan, yang mempesona lewat jalanan berbatu dan rumah-rumah tradisional. Semua berdampingan harmonis dengan distrik bisnis modern Zhujiang New Town. Transisi Guangzhou dari kota kuno menjadi metropolis modern, merupakan kisah tentang adaptasi dan ketahanan budaya. Meski mengalami modernisasi pesat, kota ini tetap mempertahankan identitas kulturalnya yang kuat. 

UN Habitat Report 2020 menyoroti master plan 2035 Guangzhou, yang berfokus pada pengembangan smart city, didukung investasi infrastruktur sebesar 100 miliar dolar AS dalam kurun waktu lima tahun. Keberhasilan ini juga diperkuat sistem pendidikan yang kokoh, dengan hadirnya 91 perguruan tinggi dan 2,1 juta mahasiswa berdasarkan China Education Statistics 2021, sebagai basis sumber daya manusia berkualitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Adsense

Pesatnya pembangunan Guangzhou dalam beberapa dekade terakhir, merupakan hasil dari serangkaian kebijakan strategis dan faktor pendukung yang saling terintegrasi. Dimulai dari kebijakan Reformasi Ekonomi pada tahun 1978, kota ini mengalami transformasi dramatis dengan GDP meningkat dari 2,9 miliar yuan menjadi 2,5 triliun yuan pada tahun 2020. Menurut laporan World Bank, keberhasilan ini tidak terlepas dari status Guangzhou sebagai pilot project "Reform and Opening Up" yang dicanangkan Deng Xiaoping, ditambah penetapannya sebagai Special Economic Zone di kawasan Delta Sungai Mutiara yang strategis. 

Berdasarkan analisis McKinsey Global Institute 2019, posisi Guangzhou sebagai bagian dari Greater Bay Area dengan GDP gabungan mencapai 1,6 triliun dolar AS, memberikan akses ke sembilan kota besar dan dua Special Administrative Region (Hong Kong dan Macau). Pelabuhannya juga masuk dalam lima besar dunia, terkait volume kargo, yang mengukuhkan Guangzhou sebagai kota strategis dalam rantai perdagangan global.

Baca juga : Muzani: Monitoring KIP Tingkatkan Kesadaran Informatif Parpol

Kunjungan bersama para akademisi dari Universitas Esa Unggul dan Universiti Putra Malaysia ini, membuat saya melakukan refleksi tentang kondisi Guangzhou dan kota paling maju di Indonesia, yaitu Jakarta. Dalam hal perencanaan kota, Guangzhou memperlihatkan keunggulan dengan zonasi yang tertata, pembangunan vertikal terencana, serta manajemen air yang terkelola secara efektif. Jakarta, di sisi lain, menawarkan perpaduan unik antara wajah formal gedung-gedung pencakar langit dengan sisi informal, kawasan padat penduduk. Sayangnya, banjir masih menjadi kendala di Jakarta. Dari aspek lingkungan dan keberlanjutan kota, kedua kota saya pikir menunjukkan kontras. Guangzhou superior dalam penanganan sampah yang sistematis dengan implementasi teknologi smart city. Sedangkan Jakarta, masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah dan kualitas udara. 

Dari segi ekonomi, kedua kota memiliki karakteristik yang berbeda namun sama-sama dinamis. Guangzhou berdiri sebagai pusat manufaktur dan perdagangan global. Didorong infrastruktur bisnis modern dan ekosistem startup yang kuat. Jakarta, sebagai pusat ekonomi Indonesia, menawarkan peluang bisnis yang beragam dan pasar konsumen yang besar, namun, masih bergulat dengan disparitas ekonomi dan kompleksitas birokrasi. Baik Jakarta ataupun Guangzhou mencerminkan fase berbeda dalam perkembangan perkotaan Asia. Guangzhou mengedepankan efisiensi dan modernitas, sementara Jakarta menawarkan keberagaman dan dinamika sosial yang unik.

Dari kunjungan singkat tapi memikat ini, saya melihat Guangzhou berhasil mentransformasi dirinya dari pusat manufaktur tradisional menjadi hub inovasi dan teknologi modern. Keunggulan ini seolah didukung oleh beberapa faktor kunci, yaitu:

Keberhasilan transformasi Guangzhou menjadi model pembelajaran berharga. Kombinasi perencanaan jangka panjang yang matang, adaptabilitas perubahan global, serta investasi besar infrastruktur dan sumber daya manusia, telah menciptakan dasar yang kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan. 

Baca juga : Kunjungan Prabowo Ke Luar Negeri, Bikin Rakyat Bangga

Devie Rahmawati
Pengajar dan Peneliti Program Vokasi Universitas Indonesia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense