Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Keberadaan agama-agama lokal, yang di antaranya lebih sering disebut Aliran Kepercayaan, sering diwacanakan ketika kita membahas tentang agama dalam keberagaman masyarakat.
Para penganut aliran kepercayaan sering meminta kepercayaan mereka diakui sebagaimana layaknya agama-agama lain, seperti Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Akan tetapi terbentur pada pengakuan negara tentang sebuah agama.
Baca juga : Menjauhi Ujaran Kebencian (Hate Speech)
Masalahnya sebenarnya ialah siapa yang berhak menentukan suatu agama atau bukan agama? Apa kriteria agama? Siapa yang berhak menentukan kriteria agama? Pertanyaan konseptual ini tidak mudah untuk dijawab.
Suatu hal yang pasti bahwa manusia sebagai zoon religion tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan agama dan atau kepercayaannya. Sekafir apapun seseorang pasti memiliki rongga agama di dalam dirinya.
Baca juga : Muhammad SAW: Nabi Dan Negarawan
Orang yang berfaham komunis bisa saja mengingkari adanya Tuhan, tetapi tidak akan pernah bisa mengingkari adanya misteri kehidupan. Di mana ada misteri, di situ ada God Spot yang bekerja di dalam alam bawah sadar manusia. Misteri kehidupan setiap manusia menjadi bukti adanya Tuhan yang biasa disebut kekuatan super natural, kekuatan gaib, keajaiban alam, atau apapun namanya.
Jauh sebelum agama-agama besar datang ke negeri ini seperti Hindu, Budha, Protestan, Katolik, Islam, dan Khonghucu, bangsa Indonesia sudah mengenal sistem religi, bahkan sejumlah etnik sudah mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa, seperti masyarakat Bugis-Makassar sebagaimana disebutkan di dalam Lontara (manuskrip kuno tercatat di dalam daun lontar, yang kini tersimpan di museum Belanda) menyebutkan kepercayaan terhadap Tuhan Dewata Sewwae (Dewata=Tuhan, Sewwa=Esa).
Baca juga : Antara Syahid Dan Patriot
Dalam Epik Lagaligo, yang oleh Prof. Zainal Abidin disebut sezaman dengan Nabi Muhammad, abad ke 6 M.) masyarakat Bugis Makassar sudah ber-Dewata Sewwa.
Bukti-bukti arkeologis dan antropologis menunjukkan adanya aktivitas manusia prasejarah di kawasan Nusantara semenjak ribuan tahun lalu. Ditemukannya beberapa fosil manusia purba, seperti Meganthropus Paleojavanicus (Sangiran), Pithecanthropus Robustus (Trinil), Pithecanthropus Erectus (Homo Erectus), Pithecanthropus Dubius (Jetis), Pithecanthropus Mojokertensis (Perning), Homo Javanensis (Sambung Macan), Homo Soloensis (Ngandong), Homo Sapiens Archaic. Homo Sapiens Neandertahlman Asia, Homo Sapiens Wajakensis (Tulungagung), dan Homo Modernman, menunjukkan adanya asyarakat purba Nusantara.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.