BREAKING NEWS
 

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di ASEAN

Jumat, 29 November 2024 13:59 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara-negara kawasan Asia Tenggara dalam ASEAN sudah menyepakati pembentukan “ASEAN Centre for Public Health Emergency and Emerging Diseases (ACPHEED)”.

Misi ACPHEED adalah untuk memperkuat kemampuan negara-negara di kawasan ASEAN dalam mendeteksi dan merespons kegawatan kesehatan masyarakat dan penyakit baru muncul (public health emergencies and emerging diseases).

Kemudian, berperan sebagai Pusat Unggulan (centre of excellence), dan juga sebagai pusat sumber daya kawasan regional (regional resource hub).

Jelas, itu misi dan tugas yang amat penting. Pilar fokus strategik ACPHEED “dituanrumahi” oleh tiga negara ASEAN, yaitu Indonesia untuk melaksanakan aspek Deteksi dan Penilaian Risiko (Detection and Risk Assessment).

Baca juga : Peran Penting Perempuan dalam Membangun Budaya Literasi

Kemudian, Vietnam untuk aspek Pencegahan dan Kesiapan (Prevention and Preparedness) serta Thailand untuk aspek Respons dan Komunikasi Risiko (Response and Risk Communication).

Dalam terus mematangkan kegiatan ACPHEED dengan baik maka Indonesia menyelenggarakan kegiatan “Benchmarking and Focus Group Discussion: Enhancing ASEAN’s Regional Capabilities for Detecting and Assessing Risk of Public Health Emergencies and Emerging Diseases through ACPHEED”, pada 25 sampai 29 November 2024.

Acara digelar Kementerian Kesehatan Indonesia yang berkolaborasi dengan US Centres for Disease Control and Prevention (US CDC). Saya menjadi salah seorang pesertanya.

Karena ACPHEED memang pada dasarnya bergerak sebagai semacam pusat pencegahan dan pengendalian penyakit ("Center of Diseases Prevention and Control"-CDC) di kawasan ASEAN, maka kegiatan “benchmarking” dilakukan dengan presentasi dan diskusi dengan “CDC” sejenis di kawasan lain.

Baca juga : Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Resmikan Rumah Produksi Gizi

Yaitu, dari dari Eropa “European CDC”, dari kawasan negara-negara Arab di Teluk Persia “Gulf CDC”, dari benua Afrika (“Africa CDC”), lalu yang dari negara Amerika Serikat yaitu “US CDC” dan kerja sama kawasan sungai Mekong yaitu “Mekong Basin Disease Surveillance (MBDS)”.

Banyak hal yang didapat dari “benchmarking” ini. Setidaknya dapat dikelompokkan dalam lima aspek.

Pertama, proses awal terbentuknya, kedua bagaimana pengaturannya (governance) dan struktur organisasinya, ketiga, program kerjanya serta bagaimana pelaksanaannya.

Kemudian keempat, bagaimana “CDC” di satu kawasan dapat bekerja bersama dengan kegiatan pengendalian penyakit di masing-masing negara di kawasan itu. Serta kelima, berbagai tantangan yang dihadapi mereka selama ini.

Baca juga : Kemenko PMK Tingkatkan Pemberdayaan Perempuan Di Desa

Lima hal ini menjadi modal penting untuk memperkaya perencanaan dan kegiatan ACPHEED ke depan, tentu demi pengendalian penyakit di kawasan ASEAN kita bersama ini.

Setelah “benchmarking”, kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Kelompok Terpumpun atau Focus Group Discussion (FGD).

Adsense

Dapat disampaikan bahwa kata "terpumpun" dalam KBBI berarti terkumpul, terhimpun, atau terpusat.

Yang menarik dalam FGD ini adalah kenyataan bahwa sudah cukup banyak pusat, semacam organisasi atau setidaknya kegiatan di bidang pengendalian dan pencegahan penyakit di ASEAN yang sudah berdiri dan berjalan selama ini.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense