Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Pada suatu kesempatan saya ngobrol dengan Dennis Wise. Dennis bermain untuk Chelsea dari tahun 1990 hingga 2001 sebagai gelandang tengah atau midfielder. Dennis dikontrak sebagai pelatih salah satu klub sepak bola tanah air pada tahun 2020. Ngobrol sambil nge-gym, saya tanya tentang prospek persepakbolaan Indonesia.
Dennis dengan lugas mengatakan bahwa sepak bola Indonesia sangat berpotensi dan promising. Asal para pemainnya disiplin berlatih dan mau memahami filosofi sepak bola.
“Sedang ramai pengangkatan pelatih tim nasional yang baru, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar hanya mesem sambil mengikuti berita perkembangan persepakbolaan nasional. Sebetulnya Romo Semar sedang galau dengan berita viral pejabat sombong dan arogan dengan pengawalan di jalan raya.
Baca juga : Nominasi Rajamala Perusak Wirata
Dalam keadaan ekonomi susah, para punggawa lebih bijak memberi contoh hidup sederhana. Kurangi simbul-simbul kemewahan. Apalagi kemegahan yang dibiayai oleh uang rakyat. Naik mobil nguing-nguing sampai menyingkirkan hak rakyat di jalan. Berpikir cerdas, berangkat kerja lebih awal dan tidak perlu merepotkan orang lain.
Seperti biasa, Romo Semar ditemani secangkir kopi pahit dan pisang rebus sebagai menu sarapan pagi. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, terjadi kontroversi atas pengangkatan Kumbayana sebagai pelatih dan guru para Pandawa dan Kurawa.
Kocap kacarito, Adipati Drestarastra menunjuk Bambang Kumbayana sebagai pelatih fisik sekaligus guru spiritual anak-anaknya Kurawa dan Pandawa. Kumbayana terpilih sebagai pelatih kanuragan karena sudah teruji saat mengambil minyak tala yang jatuh ke dalam sumur tua. Kumbayana juga termasuk resi dari negeri sabrang yang berpengalaman.
Baca juga : SIM Keliling Jakarta 7 Agustus, Cek Di Sini Lokasinya
Bambang Kumbayana berasal dari negeri Atas Angin. Anak Begawan Baratwaja yang terkenal memiliki ilmu kanuragan dan strategi perang. Kumbayana dibantu dua asisten yang bernama Resi Krepa dan Krepi. Drestarastra optimistis dengan prestasi dan pengalaman Kumbayana dalam mengajar anak-anaknya.
Penunjukan Kumbayana sebagai pelatih Kurawa dan Pandawa sempat menimbulkan pro dan kontra. Karena masih banyak resi mumpuni yang berasal dari kerajaan Hastina. Seperti Resi Bisma yang terkenal dengan kesaktian dan olah senjata. Begawan Abiyasa dari Padepokan Sapta Arga prigel dalam memanah dan tata negara.
Walau terjadi penolakan oleh sebagaian kawula Hastina, Adipati Drestarastra tetap memilih Kumbayana sebagai guru bagi anak-anaknya dan Pandawa. Kumbayana diberi waktu setahun untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membawa perubahan dan masa depan Kurawa dan Pandawa.
Baca juga : Kritik Pedas Karna Terhadap Salya
Kumbayana berhasil melatih dan mendidik para Kurawa dan Pandawa dalam waktu yang dijanjikan. Hal ini dibuktikan dalam ujian dan pendadaran dilakukan terhadap murid-muridnya tanpa tekecuali. Atas prestasi Kumbayana tersebut, Adipati Drestaratra memberi hadiah Kumbayana wilayah Sukalima untuk dijadikan padepokan. Kumbayana bergelar pandita Durna.
“Kuncinya siapa tekun pasti tekan atau tercapai, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Tugas seorang pelatih ibarat bapak among tani menebar benih di sawah. Berhasil tidaknya tanaman tergantung bagaimana bapak among tani dalam mengolah sawah dan menyemai benih,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.