Sebelumnya
Dari perspektif geopolitik ASEAN, situasi ini menuntut negara-negara anggotanya untuk memainkan diplomasi yang lebih cermat. ASEAN memiliki prinsip sentralitas dan netralitas dalam menghadapi persaingan geopolitik, tetapi tekanan eksternal yang semakin kuat dapat menguji kohesi organisasi. Jika ketegangan meningkat, negara-negara ASEAN dapat mengalami dilema dalam menentukan posisi strategis mereka, terutama terkait hubungan dengan China yang memiliki pengaruh ekonomi yang besar, serta AS yang tetap menjadi kekuatan utama dalam keamanan regional.
Untuk menjaga stabilitas kawasan, ASEAN perlu memperkuat mekanisme kerja sama seperti ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) agar tetap menjadi aktor utama dalam menentukan arah geopolitik regional. Sementara itu, bagi Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN, dinamika ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif. Sebagai negara dengan posisi strategis di antara kekuatan-kekuatan besar, Indonesia harus memainkan peran sebagai penyeimbang untuk mencegah eskalasi konflik di kawasan.
Baca juga : Sinergi Ramadan Dan Pancasila Mewujudkan Pemerintahan Daerah Yang Bersih
Keanggotaan Indonesia dalam forum seperti G20, keanggotaannya di BRICS, dan kepemimpinannya dalam ASEAN, dapat dimanfaatkan untuk mendorong dialog yang lebih konstruktif antara AS, Rusia, dan China. Selain itu, Indonesia juga dapat meningkatkan kerja sama pertahanan maritim dengan negara-negara ASEAN lainnya guna memastikan stabilitas di perairan strategis seperti Laut Natuna Utara, yang kerap menjadi sasaran manuver geopolitik Beijing.
Selain tantangan geopolitik, dampak ekonomi dari ketegangan ini juga perlu diperhitungkan. Jika rivalitas antara AS, Rusia, dan China semakin meningkat, rantai pasok global dapat terganggu, yang pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara. Ketergantungan ASEAN pada investasi dan perdagangan dengan China harus diseimbangkan dengan diversifikasi mitra ekonomi, termasuk mempererat hubungan dengan Uni Eropa, Jepang, dan negara-negara Timur Tengah.
Baca juga : Konsolidasi Politik Memperkuat Geopolitik Indonesia Menuju Indonesia Semesta 2045
Bagi Indonesia, strategi ekonomi yang adaptif perlu diterapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global. Dengan demikian, ketegangan antara AS, Rusia, dan China membawa tantangan yang kompleks bagi stabilitas Asia Tenggara. ASEAN harus tetap mengedepankan prinsip netralitas dan memperkuat peran diplomatiknya dalam menjaga keseimbangan kekuatan.
Maka, dalam menghadapi dinamika global yang semakin tidak pasti, keseimbangan antara kepentingan nasional dan regional menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan kesejahteraan di Asia Tenggara. Jadi perubahan geostrategi Amerika Serikat memberikan peluang dan tantangan bagi negara-negara di Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia.
Baca juga : Mengukuhkan Peran Pemda Dalam Mewujudkan Indonesia Semesta 2045
Prof. Dr. Drs, Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah anggota Dewan Pakar BPIP RI Bidang Geopolitik dan Geostrategi Manajemen Pemerintahan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.