Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
RM.id Rakyat Merdeka - Atas undangan Vatikan, Megawati Soekarnoputri dimohon memberikan ceramah berbagai isu global yang tengah mengemuka. Maka pada 7 Februari 2025, dunia internasional pun menyaksikan sebuah pertemuan penting di Vatikan, di mana Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia, bertemu dengan Paus Fransiskus. Dalam pertemuan tersebut, kedua tokoh dunia ini pun membahas berbagai hal di antaranya adalah pemanasan global, hak anak, serta nilai-nilai kemanusiaan.
Dari situ ada lagi hal yang menarik perhatian dunia, yakni, pembahasan mengenai Pancasila, dasar negara Indonesia. Ideologi ini juga menarik minat Paus Fransiskus. Ketertarikan Paus Fransiskus terhadap Pancasila ini membuka ruang untuk membahas lebih lanjut mengenai bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi negara Indonesia ini dapat dibumikan di tingkat global, demi menawarkan perspektif baru tentang perdamaian, solidaritas, dan keadilan sosial yang sangat relevan di tengah tantangan global saat ini.
Baca juga : Kepemimpinan Pramono-Rano Di Tengah Gelombang Tantangan Jakarta
Pancasila, yang disahkan pada tahun 1945 sebagai dasar negara Indonesia, merupakan ideologi yang mengandung lima sila yang mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima sila tersebut adalah: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Meskipun Pancasila dirumuskan dalam konteks Indonesia yang sangat beragam secara budaya, agama, dan etnis, nilai-nilai yang terkandung dalamnya memiliki relevansi yang universal. Pancasila mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan, pentingnya persatuan, serta cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yang bisa diterapkan di negara-negara lain dengan latar belakang yang berbeda.
Baca juga : Mewaspadai Dampaknya Bagi Geopolitik Indonesia
Dalam konteks pertemuan Megawati Soekarnoputri dengan Paus Fransiskus, terdapat dua aspek penting yang menjadi sorotan, yaitu nilai gotong royong yang terkandung dalam Pancasila dan perhatian terhadap masalah global, terutama pemanasan global. Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap isu lingkungan dan kesejahteraan umat manusia, menunjukkan ketertarikannya terhadap nilai gotong royong yang dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia.
Gotong royong, sebagai prinsip untuk bekerja sama dalam mewujudkan tujuan bersama bukan hanya menjadi kekuatan sosial dalam masyarakat Indonesia, tetapi juga merupakan konsep yang sangat relevan dalam konteks global. Di tengah ketegangan internasional dan ketidaksetaraan yang semakin tajam, semangat gotong royong dapat menjadi landasan untuk memperkuat solidaritas antarbangsa dalam mengatasi berbagai tantangan global.
Baca juga : Memperkuat Pemerintahan Daerah Untuk Stabilitas Papua Dan Geopolitik Indonesia
Bagaimana Pancasila dengan prinsip Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat diterapkan dalam tatanan global. Pancasila mengajarkan bahwa kesejahteraan rakyat harus dijaga secara adil, tidak hanya untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia dan alam semesta. Dengan demikian, Pancasila menawarkan perspektif yang lebih holistik mengenai hubungan antara manusia dan alam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya