Dark/Light Mode

Perang Geopolitik AS-Tiongkok Dalam AI:

Mewaspadai Dampaknya Bagi Geopolitik Indonesia

Kamis, 6 Februari 2025 07:36 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Pergeseran geopolitik Eropa ke Asia, dan setelah Indo­­nesia masuk anggota BRICS berseberangan dengan Amerika Serikat (AS), dewasa ini per­saingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin sengit. Terlebih dalam bidang per­dagangan dan teknologi, khusus­nya dalam pengem­bangan ke­cerdasan buatan (AI), telah menjadi salah satu fokus utama dalam geopolitik global abad ke-21. Dari itu Indonesia membutuhkan kewaspadaan yang terukur, karena kedua negara besar ini memiliki ambisi untuk mendominasi teknologi tinggi dan memperluas pengaruh ekonomi mereka.

Mereka begitu menggebu-­gebu untuk berperan penting dalam menentukan arah perkembangan teknologi AI di masa depan. Lantaran teknologi ini tidak hanya memiliki dampak besar pada inovasi industri, tetapi juga dapat mengubah peta ekonomi global –maka dampaknya semakin terasa di seluruh dunia, termasuk bagi negara berkembang seperti Indonesia. Dalam konteks ini, Indonesia menjadi pemain penting dalam perebutan pasar dunia AI, mengingat potensi besar yang di­milikinya dalam adopsi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.

Amerika Serikat dan ­Tiongkok telah berlomba ­untuk menjadi pemimpin global dalam tek­nologi dan inovasi, ­maka AI sebagai medan utama persaingan. Amerika Serikat, ­dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Microsoft, dan IBM, sudah lama mendominasi sektor ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ­Tiongkok se­makin agresif mengejar ketertinggalan­nya dengan meluncurkan ber­bagai kebijakan yang mendukung perkembangan teknologi tinggi, salah satunya adalah rencana ambisius “Made in China 2025.”

Baca juga : Memperkuat Pemerintahan Daerah Untuk Stabilitas Papua Dan Geopolitik Indonesia

Rencana tersebut menargetkan dominasi Tiongkok dalam teknologi canggih –termasuk kecerdasan buatan. Pemerintah Tiongkok juga telah menginvestasikan dana yang sangat besar dalam riset dan pengembangan AI, sementara perusahaan-perusahaan teknologi seperti Baidu, Alibaba, dan Tencent berperan aktif dalam membangun ekosistem AI yang mampu bersaing dengan para raksasa teknologi AS.

Oleh karena itu persaingan yang terjadi tidak hanya terfokus pada riset dan pengem­bangan, tetapi juga pada pengaruh ­pasar global. AI kini digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari ­manufaktur, transportasi, hingga layanan kesehatan, dan berpotensi besar untuk ­mengubah lanskap ekonomi dunia. Negara-negara yang dapat menguasai teknologi ini, baik dalam hal produksi maupun penerapannya, akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.

Maka penguasaan terhadap teknologi ini bukan hanya ­soal inovasi semata, tetapi juga tentang kontrol terhadap ­pasar ­global yang sangat besar. Tam­bahan pula di sisi lainnya, ­Indo­­nesia, dengan populasi lebih dari 270 juta orang dan perekonomian yang terus ber­kembang, memiliki ­posisi stra­tegis dalam perebutan ­pasar teknologi ­global. Dengan tingkat penetrasi inter­net yang semakin meluas, Indonesia menjadi pasar yang ­sangat ­menarik bagi pengembang teknologi, khususnya dalam hal adopsi kecerdasan buatan.

Baca juga : Undang-Undang Memperkokoh Ideologi Pancasila

Keberadaan banyak startup teknologi dan sumber daya manusia muda yang kreatif menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi terbesar dalam pengembangan AI. Di sisi ini Indonesia juga ber­hadapan dengan tantangan besar –terkait kualitas infrastruktur teknologi dan keterampilan sumber daya manusia yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi perkembangan pesat dalam teknologi canggih.

Oleh karenanya Indonesia harus meningkatkan investasi dalam pendidikan dan pelatihan teknologi agar dapat ber­saing dalam revolusi industri 4.0 ini. Namun, dengan dua kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok yang bersaing sengit, Indonesia harus berhati-hati dalam mengelola hubungan dengan keduanya. Masing-masing negara memiliki pendekatan yang berbeda terhadap teknologi dan perdagangan, serta menawarkan berbagai peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Amerika Serikat, dengan nilai-nilai pasar bebas dan kebijakan inovasi terbuka, mungkin menawarkan teknologi canggih dengan akses pasar yang lebih bebas. Sementara itu, Tiongkok, yang memiliki pendekatan lebih terpusat dan kebijakan industrialisasi yang sangat terencana, menawarkan peluang untuk kerja sama dalam pembangunan infrastruktur teknologi dan ­pembuatan produk berbasis AI. Maka Indonesia harus dapat memilih kemitraan yang dapat ­mendukung pengembangan ekonomi tanpa terjebak dalam ketegangan geopolitik yang semakin intens antara dua kekuatan besar ini.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.