BREAKING NEWS
 

Perang Posmodern Dan Peluang Indonesia Di Era Geopolitik Trump

Kamis, 10 April 2025 07:32 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 April 2025, yang dikenal sebagai Reciprocal Tariffs, menandai babak baru dalam arsitektur perdagangan global. Dalam langkah yang bersifat unilateral, Trump menetapkan tarif minimum sebesar 10% untuk seluruh produk impor dan tarif tambahan hingga 32% untuk negara-negara tertentu, termasuk Indonesia. 

Kebijakan ini mencerminkan penegasan kembali pada prinsip ekonomi nasionalisme, ­dengan tujuan utama memperkuat basis industri domestik dan mengoreksi defisit perdagangan Amerika. Namun, dalam lanskap global yang saling terhubung, proteksionisme semacam ini mengandung risiko geopolitik yang serius: merusak tatanan perdagangan multilateral, memicu perang dagang, dan mengguncang stabilitas rantai pasok internasional. 

Baca juga : Asta Cita Dan Semangat Kebangsaan Pasca-Lebaran:Membangun Pemerintahan Bersih

Dalam konteks inilah muncul fenomena perang posmodern, yakni pertarungan kepentingan negara yang tidak lagi hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di arena kebijakan ekonomi dan tarif. Bagi Indonesia, dampak dari tarif impor AS yang tinggi terasa nyata dan langsung, terutama di sektor-sektor padat karya seperti tekstil, sepatu, dan produk perikanan yang selama ini bergantung pada pasar Amerika. 

Kebijakan Trump bukan se­mata-mata isu perdagangan, tetapi menjelma menjadi tantangan strategis yang menguji ketahanan ekonomi nasional dan ketajaman diplomasi ekonomi Indonesia. Pemerintah pun merespons secara sigap, dengan mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC, menunjukkan bahwa ­tekanan ini tidak dianggap remeh. 

Baca juga : Mencegah Korupsi Dalam Pemerintahan Berdasarkan Asta Cita

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, koordinasi lintas kementerian diaktifkan guna mengantisipasi eskalasi konflik dagang dan mencari ruang manuver. Strategi diplomasi ekonomi menjadi sangat penting dalam menjaga akses pasar, sambil mempersiapkan skenario diversifikasi mitra dagang demi mengurangi ­ketergantungan pada pasar ­tunggal. 

Dampak dari kebijakan ini tidak berhenti pada sektor perdagangan semata. Dari perspektif makroekonomi, kebijakan tarif Trump berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Sentimen negatif yang dipicu oleh ketidakpastian global, diperburuk oleh ketergantungan pada ekspor komoditas dan kebutuhan impor yang tinggi, menciptakan tekanan ganda bagi stabilitas fiskal dan moneter nasional. Dalam kondisi ini, koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan sektor riil menjadi mutlak diperlukan. 

Baca juga : Asta Cita Dalam Tindakan Membangun Indonesia Maju

Dari itu ketahanan ekonomi Indonesia diuji –tidak hanya dalam kemampuan menjaga nilai tukar dan mengendalikan inflasi, tetapi juga dalam kemampuannya memproyeksikan kepastian jangka panjang kepada pelaku ekonomi. Soalnya kegagalan merespons dengan tepat, dapat membuat Indonesia semakin rentan di tengah arus globalisasi yang berubah arah. Menariknya, tekanan dari kebijakan protek­sionis Amerika justru mendorong pemerintahan Prabowo untuk merumuskan strategi yang lebih komprehensif dan progresif. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense