Dark/Light Mode

Asta Cita Dan Semangat Kebangsaan Pasca-Lebaran:Membangun Pemerintahan Bersih

Senin, 7 April 2025 08:09 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Momentum Idul Fitri ­tidak hanya menjadi perayaan ­keagamaan umat Islam, tetapi juga tonggak budaya bangsa yang menyimbolkan kembali­nya manusia kepada kesucian, keikhlasan, dan semangat mempererat persaudaraan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Lebaran pasca-Ramadan menawarkan refleksi kolektif yang sangat relevan bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintahan.

Di tengah suasana saling memaafkan dan memperbaharui niat, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah menegaskan komitmennya melalui delapan misi strategis yang dikenal sebagai Asta Cita, sebagai landasan untuk mewujudkan visi besar 

Baca juga : Mencegah Korupsi Dalam Pemerintahan Berdasarkan Asta Cita

“Bersama Menuju Indonesia Emas 2045.” Visi ini ber­padu selaras dengan semangat ­pasca-Lebaran: memperkuat nilai-nilai moral, menumbuhkan toleransi, dan merawat ke­bhinekaan demi Indonesia yang lebih bersih dan maju. 

Asta Cita merupakan ­kerangka kerja strategis yang mengan­dung semangat transformatif untuk membawa Indonesia menjadi negara maju pada usia 100 tahun kemerdekaannya. Di tengah ­suasana pasca-Lebaran, ketika masyarakat Indonesia dari ­berbagai latar belakang etnis dan agama saling ber­silaturahmi, semangat Bhinneka Tunggal Ika terasa sangat nyata dan hidup. 

Baca juga : Asta Cita Dalam Tindakan Membangun Indonesia Maju

Inilah momen penting untuk meneguhkan kembali komitmen kolektif bangsa terhadap pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berakar ­pada nilai-nilai luhur Pancasila. Pemerintah pun menempatkan aspek moralitas dan integritas sebagai fondasi utama dalam pelaksanaan Asta Cita, dengan mengutamakan reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta pemberantasan korupsi secara menyeluruh. 

Dalam konteks ini, semangat Lebaran yang sarat dengan makna kesucian dan pembaruan diri menjadi sangat relevan bagi pemerintah yang tengah ­mengusung agenda besar reformasi tata kelola negara. Pemerintahan yang bersih tidak bisa dibangun hanya melalui instrumen hukum dan kebijakan teknokratis semata, tetapi juga harus ditopang oleh etika publik dan komitmen moral yang kuat dari para pemimpin dan aparatur negara. Reformasi birokrasi yang diusung dalam Asta Cita harus menyentuh pada substansi, yakni mewujudkan aparatur sipil negara yang berorientasi pada pelayanan, bebas dari konflik kepentingan, dan memiliki ­integritas tinggi.

Baca juga : Asta Cita Butuh Gerak Nyata

Di situlah momentum pasca-Lebaran memberi pesan mendalam: membersihkan diri dari praktik kotor adalah prasyarat untuk membangun negara yang bersih. Maka lebih jauh, Asta ­Cita tidak hanya menjadi rencana di atas kertas, tetapi telah mulai diimplementasikan oleh berbagai kementerian dan lembaga dalam bentuk program-program strategis. 

Pemerintah berupaya membangun sistem birokrasi yang responsif terhadap kebu­tuhan rakyat, hukum yang adil dan dapat diakses semua ka­langan, serta sistem politik yang ­partisipatif dan bebas dari politik transaksional. Untuk itu, nilai-nilai toleransi dan ke­bhinekaan pasca-Lebaran harus dijadikan pedoman dalam setiap proses pengambilan keputusan publik. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.