BREAKING NEWS
 

Diplomasi Bermartabat Jalan Tengah Kemanusiaan

Senin, 14 April 2025 07:38 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana evakuasi seribu warga Palestina dari Jalur Gaza oleh Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya berdiri di sisi kemanusiaan, tetapi juga memainkan peran aktif dan bermartabat dalam percaturan geopolitik global. 

Ini bukan semata-mata soal menyelamatkan korban perang, tetapi juga membangun reputasi Indonesia sebagai negara besar—dengan hati nurani dan kepemimpinan yang didengar. Presiden Prabowo tidak melangkah sendirian. Ia berkonsultasi langsung dengan lima negara kunci di Timur Tengah—Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. 

Pendekatan diplomasi konsultatif ini menandakan keseriusan Indonesia dalam menjaga netralitas, kepercayaan internasional, serta komitmen terhadap stabilitas kawasan. Di tengah ­dunia yang semakin terpolarisasi, Indonesia memilih jalan damai yang inklusif dan kolaboratif. 

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan ­anggota aktif Gerakan Non-Blok, Indonesia memang memiliki keunikan geopolitik. Ketika dunia internasional meminta Indonesia untuk lebih vokal soal krisis Gaza, pemerintah menjawab dengan tindakan konkret yang menggabungkan moralitas dan strategi. Indonesia tidak datang dengan klaim politis, tetapi ­dengan bantuan kemanusiaan yang nyata dan prinsip yang kokoh: mendukung rakyat ­Palestina. 

Baca juga : Perang Posmodern Dan Peluang Indonesia Di Era Geopolitik Trump

Patut pula diapresiasi, peme­rintah secara tegas menolak segala bentuk relokasi perma­nen. Evakuasi ini hanya bersifat sementara, difokuskan pada korban perang seperti yang membutuhkan perawatan medis dan pemulihan psikososial. Ini adalah langkah kemanusiaan yang selaras dengan hukum internasional, dan pada saat yang sama, mencegah segala bentuk manipulasi politik terhadap isu pengungsi yang rentan di­selewengkan.

Langkah Indonesia ini juga sangat berhati-hati. Tujuannya jelas: jangan sampai niat baik ini justru melemahkan perjuangan Palestina atau mengubah demo­grafi Gaza secara permanen. Di sinilah letak keunggulan diplomasi Indonesia—tidak sensasional, tapi substansial. Tidak reaktif, tapi penuh perhitungan strategis.

Dalam hal ini, Indonesia memosisikan diri sebagai jembatan kepercayaan di tengah aktor-aktor global yang seringkali terjebak dalam politik kepentingan sepihak. Evakuasi kemanusiaan ini, meski tampak sederhana, justru menjadi instrumen pen­ting dalam menegaskan kembali posisi Indonesia di mata dunia: sebagai negara yang mampu mengintegrasikan kebijakan luar negeri berbasis prinsip kemanusiaan, hukum internasional, dan konsensus multilateral. 

Adsense

Sementara itu, dunia juga menyaksikan dinamika berbeda dari dalam Israel. Sekitar 1.000 tentara cadangan, termasuk tokoh penting seperti mantan panglima militer Dan Halutz, secara terbuka menyatakan ke­tidaksetujuan terhadap pendekatan militer Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka mendesak negosiasi damai untuk membebaskan sandera, bukan eskalasi kekerasan yang hanya memperparah penderitaan rakyat sipil. 

Baca juga : Asta Cita Dan Semangat Kebangsaan Pasca-Lebaran:Membangun Pemerintahan Bersih

Kritik tajam terhadap Netanyahu—yang dituduh menggunakan perang untuk kepentingan politik pribadinya—menunjukkan fragmentasi serius antara elite politik dan militer. Situasi ini mencerminkan krisis moral dan legitimasi di tubuh negara yang selama ini mengandalkan pendekatan kekuatan dalam ­penyelesaian konflik. Ketika suara dari dalam militer sendiri menyerukan penghentian ope­rasi dan penyelesaian diplomatik, maka menjadi terang bahwa pendekatan koersif mulai kehilangan legitimasi.

Di tengah kekacauan moral dan kebijakan koersif tersebut, Indonesia tampil sebagai suara yang jernih. Negara yang tidak hanya bicara tentang perdamaian, tetapi juga bertindak. Negara yang tidak bermain dengan kekuatan, tetapi juga mengedepankan rasa kemanusiaan sebagai fondasi kebijakan luar negeri. Indonesia memahami bahwa konflik Israel-­Palestina bukan sekadar pertarungan dua kekuatan politik, melainkan tragedi kemanusiaan yang membutuhkan kepemimpinan global yang empatik dan konsisten terhadap prinsip moral. 

Maka evakuasi warga Palestina bukan sekadar aksi kemanusiaan, tetapi juga pernyataan geopolitik. Bahwa Indonesia ingin, bisa, dan siap menjadi pemain penting dalam membangun dunia yang lebih adil, damai, dan manusiawi. Di saat negara-negara besar terjebak dalam kalkulasi kepentingan jangka pendek, Indonesia hadir dengan pendekatan jangka panjang yang berbasis kepercayaan, moralitas, dan kepatuhan terhadap norma-norma internasional. 

Kepemimpinan Prabowo dalam hal ini mencerminkan babak baru dalam diplomasi ­Indonesia—diplomasi yang aktif, percaya diri, dan tetap membumi pada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan komitmen terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan kerja sama global, Indonesia kini tidak ­hanya dilihat sebagai mitra strategis, tetapi juga sebagai penggerak moralitas global. 

Baca juga : Mencegah Korupsi Dalam Pemerintahan Berdasarkan Asta Cita

Apa yang dilakukan Indonesia dapat menjadi model baru diplomasi global: berbasis kemanusiaan, inklusif, dan kolaboratif. Ketika dunia diliputi konflik dan kepentingan sempit, hadir­nya negara seperti Indonesia menjadi penting. Negara yang mampu menunjukkan bahwa kekuatan sejati dalam diplomasi bukan pada senjata atau tekanan ekonomi, tetapi pada keberanian untuk bertindak berdasarkan prinsip moral universal. 

Di masa depan, tantangan global akan semakin kompleks—dari perubahan Dunia tengah mencari arah baru dalam mengelola konflik dan tragedi kemanusiaan. Indonesia, melalui langkah konkret dan prinsipil di Gaza, telah menunjukkan bahwa jalan itu masih mungkin. 

Diplomasi bermartabat, berpihak pada korban, dan menjunjung tinggi kemanusiaan adalah satu-satunya jalan untuk membangun perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Mungkin inilah saatnya dunia men­dengarkan lebih dalam apa yang Indonesia perjuangkan—bukan dengan senjata, tetapi dengan moral dan diplomasi. Bukan dengan kekuatan ­koersif, tetapi dengan keteguhan hati. Karena dalam diplomasi yang bermartabat, kita menemukan harapan bagi dunia yang lebih damai. 

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur Lemhannas RI (2001-2005) dan ­Direktur Jenderal Sosial Politik ­Depdagri RI ­(1998-2000). Kini menjabat Ketua ­Dewan Pembina Center for ­Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense