BREAKING NEWS
 

Mencerdaskan Akal, Menguatkan Mental: Pendidikan Indonesia di Persimpangan Digital

Jumat, 2 Mei 2025 11:24 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari Pendidikan Nasional adalah saatnya kita bertanya dengan jujur: apakah sistem pendidikan kita masih mendidik manusia seutuhnya—yang cerdas akalnya, tangguh mentalnya, dan luhur budi moralnya?

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak; maksudnya, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya”. Tapi dalam praktiknya hari ini, pendidikan justru kehilangan makna sebagai tuntunan hidup dan lebih sering menjadi tuntutan perlombaan angka dan sertifikat.

Generasi Cerdas Teknologi, Tapi Rapuh Secara Mental

Berbagai riset global menunjukkan krisis mendalam yang kita hadapi. Anak-anak kita hari ini tumbuh dalam dunia digital yang cepat dan instan, namun justru kehilangan keterampilan paling mendasar sebagai manusia: berpikir mendalam, berkomunikasi tatap muka, dan berempati.

Baca juga : Ketika Kebencian Berpindah ke Layar: Anatomi Misogini Digital

Laporan UNICEF (2017) mencatat bahwa digitalisasi yang tak terkendali membawa risiko gangguan perkembangan kognitif dan sosial. Artikel DW (2023) mempertanyakan: “Apakah komputer membuat anak-anak menjadi lebih bodoh?” Jawabannya mulai tampak. Studi dari Maryville University menyebutkan bahwa paparan layar berlebihan memperlambat perkembangan bahasa dan menurunkan kemampuan konsentrasi. New York-Presbyterian Hospital menemukan bahwa struktur otak anak berubah akibat ketergantungan digital, terutama di area yang mengatur fokus dan pengendalian diri.

Adsense

Sebuah riset ResearchGate menyatakan, secara tegas bahwa kemampuan interaksi tatap muka generasi muda menurun drastis. Anak-anak lebih mahir dan gagah mengetik pesan, tetapi gugup saat berbicara langsung. Soft skills seperti ini—yang justru menjadi kunci sukses masa depan menurut laporan World Economic Forum 2023—semakin langka ditemui.

Krisis yang Terlihat di Dunia Kerja

Ini bukan lagi kekhawatiran masa depan. Dunia kerja sudah mengalaminya sekarang. Riset Newsweek dan Times of India menunjukkan bahwa banyak perusahaan ragu mempekerjakan lulusan muda, khususnya dari generasi Z. Mereka dianggap kurang etika kerja, tidak mampu berkolaborasi, dan emosinya labil. Laporan dari PMC tentang Industry 5.0 memperkuat hal ini: yang dibutuhkan dunia kerja bukan hanya keterampilan teknis, tapi kemampuan manusiawi—soft skills, kebijaksanaan, dan daya tahan moral.

Pendidikan yang Kehilangan Jiwa

Baca juga : Kartini 4.0: Menjadi Ibu Pejuang, di Medan Perang Digital

Kita tengah menyaksikan pendidikan yang kehilangan jiwanya. Sahabat Rasullah pernah mengingatkan, “Ilmu tanpa akal seperti tanah tanpa air, tidak akan menumbuhkan apa-apa.” Artinya, kecerdasan tanpa kebijaksanaan hanya akan menciptakan manusia yang cakap menghitung, tapi tidak tahu arah.Momentum Hari Pendidikan Nasional adalah saatnya kita berani menata ulang. Pendidikan harus transformatif, bukan transaksional. 

Sudah waktunya kita berhenti mencetak generasi yang sekadar cerdas teknologi tapi lemah menghadapi kehidupan. Karena dalam dunia yang makin bising dan kacau ini, kita tidak butuh lebih banyak orang pintar. Kita butuh lebih banyak orang bijak.

Dr. Devie Rahmawati, CICS 
PengajarTetapVokasiUniversitasIndonesia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense