Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Penunjukan Kepala PCO, Momentum Perbaiki Komunikasi Pemerintah
Rabu, 30 April 2025 10:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Penunjukan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) yang baru harus jadi momentum memperbaiki pola komunikasi Pemerintah yang buruk. Sejumlah akademisi kampus memberikan saran untuk Presiden Prabowo Subianto untuk mencari figur pengganti Hasan Nasbi.
Dosen FISIP Universitas Sriwijaya, Ferdiansyah Rivai menilai, penunjukan Kepala PCO yang baru harus dijadikan momentum perbaiki kekurangan pada komunikasi Pemerintah. Presiden Prabowo, kata dia, harus benar-benar jeli dalam mencari figur yang tepat menempati posisi tersebut.
"Saya mendorong agar posisi Kepala PCO diisi oleh figur yang memiliki latar belakang akademik yang kuat serta terbiasa berdinamika secara inklusif dan moderat dengan berbagai kelompok masyarakat sipil dan kalangan kritis," ujar Ferdiansyah dalam keterangan tertulisnya kepada Rakyat Merdeka, Rabu (30/5/2025).
Selain itu, calon Kepala PCO harusnya figur yang sehari-harinya aktif berinteraksi secara humble dengan berbagai lapisan sosial. Baik dari dunia kampus, sosial politik, sosial ekonomi, isu luar negeri, isu-isu dalam kaitannya dengan komunitas-komunitas akar rumput. Kapasitas seperti ini akan berpotensi menambah dukungan publik secara lebih luas terhadap pemerintahan Prabowo.
Baca juga : SNJ Luncurkan MRS Community untuk Perkuat UMKM Nasional
"Pemerintah membutuhkan sosok komunikator yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mendengar, memahami, dan menyampaikan secara jernih dan akuntabel," ujarnya.
Hal senada disampaikan Dosen Politik dari Universitas Airlangga Hari Fitrianto. Menurutnya, Kepala PCO berstatus sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Tentunya, posisi Jubir ini sangat vital dalam sistem pemerintahan presidensial.
Karena lewat Jubir ini, kata dia, Pemerintah menyampaikan informasi strategis kepada masyarakat, media, dan pemangku kepentingan lain. Fungsi ini mencerminkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan pemerintah dalam era demokrasi modern.
"Jubir memiliki peran strategis dalam mengkomunikasikan kebijakan dan pandangan resmi Presiden kepada publik. Jabatan ini bukan hanya bersifat teknokratis, tetapi juga politis dan simbolik," kata Hari kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : OSO: Hanura Dukung Pemerintahan Prabowo
Dia lantas menyinggung posisi Jubir di era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Kata dia, saat itu Presiden SBY sangat cermat dalam memilih Jubir yang didominasi dari kalangan kampus dan juga intelektual publik.
"Jubir harus memiliki kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, persuasif, dan diplomatis. Ini mencakup penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan kemampuan berbahasa asing (terutama Inggris)," ujar Hari.
Menghadapi lingkungan informasi yang cepat dan sering kali penuh disinformasi, Jubir harus memiliki keterampilan menangani media dan merespons krisis secara cepat dan tepat. "Jubir harus mampu menjadi jembatan antara Presiden dan masyarakat, serta antara Istana dan pihak-pihak kritis seperti oposisi dan NGOs," tegasnya.
Sementara itu, Dosen Kebijakan Publik dari Universitas Padjajaran Yogi Suprayogi menyarankan, sebaiknya Presiden menyusun kembali tim pembantunya dan merangkul segenap potensi dan kekuatan politik nasional secara inklusif. Hal ini dibutuhkan agar pemerintahannya dapat berjalan kokoh, efektif dan memulihkan kembali harapan masyarakat.
Baca juga : Menhut Jempolin Jambore Karhutla 2025, Momentum Antisipasi Kebakaran Hutan
Menurutnya, tantangan utama bagi Presiden Prabowo selain aspek governability atau kemampuan kementerian untuk bekerja, juga meliputi problem komunikasi. Buruknya komunikasi, kata dia, tak mampu membangun jembatan antara berbagai kekuatan politik maupun antara negara dan masyarakat.
"Apalagi terdapat tingginya tekanan publik khususnya dari kalangan masyarakat sipil, yang harus dijembatani dan dirajut oleh sebuah pendekatan komunikasi yang baik dan inklusif oleh Istana," pungkas Yogi.
Seperti diketahui, Hasan Nasbi resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala PCO. Hasan sudah mengirimkan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Mensesneg Prasetyo Hadi dan Seskab Teddy Indra Wijaya sejak tanggal 21 April 2025.
Hasan Nasbi mengaku keputusannya untuk menepi ke luar lapangan dan duduk di kursi penonton sudah matang. Hasan memutuskan memberikan kesempatan kepada figur yang lebih baik untuk menggantikan posisi bermain di lapangan.
"Jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba dan bukan keputusan yang emosional," kata Hasan Nasbi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya