Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Rencana Gubernur Jawa Barat mengirim siswa bermasalah ke barak TNI menuai pro dan kontra. Separah itukah perilaku anak didik kita saat ini, sehingga harus dikirim ke barak untuk memperbaiki budi pekerti? Pendidikan anak tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Pelajaran budi pekerti dimulai dari keluarga. Mendidik anak ibarat bapak among tani menebar benih padi. Sukses tidaknya tanaman padi tergantung bagaimana bapak among tani menggarap sawahnya.
“Jangan sampai kegaduhan hanya untuk kejar konten, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar tidak semangat ikut nimbrung urusan kirim siswa bermasalah ke barak militer. Romo Semar sedang galau dengan maraknya PHK di berbagai daerah. Iklim usaha sedang terganggu. Dampak nyata perang tarif membuat perusahaan melakukan efisiensi untuk bertahan. Di sisi lain, perilaku premanisme memperburuk iklim investasi.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Pisang rebus dan jagung bakar menambah nikmat sarapan pagi di padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Mahabarata. Di mana, Adipati Drestarastra direpotkan dengan perilaku anak-anaknya klan Kurawa.
Baca juga : Perjalanan Moksa Darmakusuma
Kocap Kacarito, Adipati Drestarastra sedih melihat hasil pendidikan anak-anaknya, Kurawa. Tanggung jawab pendidikan Kurawa dan Pandawa diserahkan kepada Pandita Durna di Padepokan Sokalimo. Namun hasilnya beda jauh antara Kurawa dan Pandawa.
Sengkuni menuduh Pandita Durna tidak adil dalam mendidik siswa-siswanya. Durna dituduh lebih condong ke satria Pandawa dalam memberi pelajaran. Sehingga Pandawa lebih cerdas dibanding Kurawa. Dalam olah pusaka anak-anak Pandu lebih prigel dibanding anak Drestarastra.
Pandita Durna tidak dapat menerima tuduhan Sengkuni bahwa dirinya lebih mementingkan Pandawa ketimbang Kurawa. Menurut Durna, rusaknya Kurawa karena pengaruh lingkungan sekitar. Tidak ada support keluarga memperparah rusaknya moral Kurawa.
Baca juga : Penegakan Hukum Rama Bargawa
Keberhasilan Pandawa belajar tidak terlepas dari dukungan Dewi Kunti. Sebagai orang tua tunggal, Kunti tidak dapat sepenuhnya memercayakan sistem pendidikan anaknya kepada Pandita Durna. Apalagi keberadaan Durna dikelilingi Kurawa dan Sengkuni.
Pandita Durna ingin melihat hasil Pendidikan terhadap murid-muridnya Kurawa dan Pandawa. Maka keduanya diadu dalam ajang pendadaran Sokalimo. Dari Pandawa diwakili Bima. Sedangkan Kurawa menunjuk Duryudana untuk maju dalam pendadaran. Dalam perang gada, Bima dapat mengalahkan Duryudana.Kekalahan Duryudana membuat kecewa Drestaratra dan Kurawa.
“Satria Pandawa teruji lebih sakti dibanding Kurawa, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Pandawa berhasil dibanding Kurawa karena Padawa rajin dan berperilaku baik,” jawab Romo Semar pendek.
Baca juga : Perundungan Seksual Begawan Wisrawa
“Sukses tidaknya pendidikan tergantung peran keluarga, lingkungan dan pendidik. Seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Pendidik harus bisa jadi tulodo atau teladan. Sebagai pendidik mampu memberikan semangat atau Ing madya mangun karsa. Pendidik sebagai pendorong kepada siswa atau tut wuri handayani,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.