Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Forum Ekonomi Dunia Davos menyoroti munculnya krisis Epistemologis di berbagai negara belakangan ini. Epistemologis dapat diinterpretasikan sebagai pengetahuan dan pengandaian kepercayaan publik terhadap pemerintah, pelaku bisnis, dan media. Ketidakpercayaan masyarakat kalau tidak dikelola dengan bijak dapat mengancam sistem demokrasi dan ekonomi global.
“Program seratus hari pemerintahan Pak Prabowo terganggu kepercayaan masyarakat terhadap penanganan kasus pagar laut, Mo?” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar sebenarnya tidak bernafsu untuk nimbrung urusan kavling laut. Karena Romo Semar sedang galau dengan cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai daerah. Banjir dan tanah longsor telah memakan banyak korban jiwa. Kerusakan lingkungan sebagai pemicu terjadinya bencana dan cuaca ekstrem.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan sruputan kopi pahit. Penganan getuk goreng dan pisang rebus tidak ketinggalan sebagai menu wajib sarapan pagi. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Ramayana. Di mana, pasukan Yuyu Rumpung sebagai perusak ekosistem samudera.
Baca juga : Memboyong Kembali Dewi Sri
Kocap kacarito, setelah mendapat informasi keberadaan istrinya Dewi Sinta, Prabu Rama Wijaya membangun jembatan yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Kerajaan Alengka. Jembatan ini nantinya untuk menyeberangkan pasukan kera Pancawati menyerang Kerajaan Alengka, di mana Dewi Sinta disekap oleh Prabu Rahwana.
Prabu Rahwana tidak tinggal diam menghadapi strategi dan manuver Rama yang ingin menyerang kerajaan Alengka. Pasukan air disiapkan berjaga di tepi samudera untuk menghadang pasukan kera Prabu Rama.
Pembangunan jembatan menghubungkan daratan Pancawati dengan Alengka bukan pekerjaan mudah. Selain faktor cuaca, kedalaman Samudera Hindia mempersulit pembangunan jembatan. Diperlukan keahlian khusus untuk mewujudkan jembatan laut tersebut.
Baca juga : Kontroversi Coach Kumbayana
Ribuan wadya bala kera dikerahkan untuk menimbun batuan dan membuat jembatan. Namun begitu sampai tengah samudera, jembatan tersebut jebol. Prabu Rama sempat bingung dan frustasi menghadapi kenyataan jebolnya jembatan yang dibangun.
Dalam keadaan bingung, muncul Gunawan Wibisana yang berniat membantu Rama. Wibisana adalah adik bungsu Prabu Rahwana yang membelot ke Rama. Dari awal, Wibisana tidak setuju dan menentang Rahwana menculik Dewi Sinta.
Wibisana tahu siapa yang merusak jembatan. Raksasa Yuyu Rumpung adalah pasukan elite Alengka yang ditugaskan merusak jembatan. Untuk itu, Wibisana minta Rama untuk menyiapkan pasukan kera yang dapat masuk ke dasar samudera. Dipilihlah Kapi Rekata untuk melawan pasukan Yuyu Rumpung.
Baca juga : Nominasi Rajamala Perusak Wirata
“Untung ada Wibisana yang memberitahu siapa yang merusak jembatan laut,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Yang merusak dan membangun, pasti akan menang yang membangun,” jawab Romo Semar pendek. “Seperti halnya pengungkapan kasus pagar laut menjadi ujian kepercayaan masyarakat. Jangan sampai kita terjangkit krisis epistemologis,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.