Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Munculnya sebuah peradaban baru diawali dengan adanya “goro-goro” atau konflik di berbagai belahan dunia. Seperti konflik militer di Jalur Gaza, Ukraina, dan yang terakhir perang rudal India dengan Pakistan. Konflik tersebut mendorong munculnya tatanan baru yang dinamakan era Geoekonomi.
Geoekonomi adalah sebuah tatanan menggunakan perangkat ekonomi untuk kekuatan politik dan strategis sebuah negara. Di sisi lain, tatanan baru bakal menggeser paham neoliberal yang didominasi kemandirian pasar dari pengaruh politik. Perang dagang Amerika dan China merupakan bukti dimulainya era Geoekonomi.
“Kita perang melawan premanisme, Mo,” celetuk Petruk sekenanya. Romo Semar tidak tertarik nimbrung urusan premanisme di tanah air. Urusan preman biar diurus oleh negara. Romo Semar sedang galau dengan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai perusahaan. Selain itu minimnya lapangan kerja baru menambah beban ekonomi nasional.
Baca juga : Pendadaran Siswa Bermasalah Kurawa
Secangkir kopi pahit dibiarkan dingin di atas meja lincak. Menu sarapan kelangenan Romo Semar disajikan oleh Nyi Kanestren belum sempat dicicipi. Romo Semar memilih termenung sambil menikmati rokok klobotnya. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Purwa, di mana Dewa Wisnu turun ke bumi untuk menjaga keseimbangan dan keadilan di Arcapada.
Kocap kacarito, Dewa Wisnu merupakan dewa penjaga kedamaian dan keadilan. Anak Shang Hyang Guru dengan Dewi Uma itu disebut juga dewa perang. Wisnu memiliki senjata ampuh berupa senjata Cakra. Senjata panah dengan hulu ledak berbentuk roda memiliki delapan ketajaman. Roda memiliki makna sesuatu yang berputar, artinya senjata Cakra dapat mengatisipasi setiap perubahan zaman.
Dewa Wisnu turun ke bumi saat terjadi konflik. Wisnu pertama kali turun pada zaman Ramayana. Wisnu nitis atau avatara kepada Prabu Harjuna Sasrabahu raja Maespati. Dewa Wisnu turun ke Maespati untuk menyelesaikan konflik antara Harjuna Sasrabahu melawan Rahwana raja raksasa dari kerajaan Alengka.
Baca juga : Perjalanan Moksa Darmakusuma
Dewa Wisnu turun kedua kalinya kepada Prabu Rama Wijaya raja Pancawati. Pancawati sedang dilanda perang terbuka melawan Prabu Rahwana. Pemicu konflik antara Rama dan Rahwana adalah memperebutkan kembali Dewi Sinta. Rahwana menculik Dewi Sinta dari Prabu Rama saat berburu di hutan Dandaka.
Di era Mahabarata, Dewa Wisnu turun ke bumi lewat Prabu Kresna raja Dwarawati. Kehadiran Dewa Wisnu untuk menumpas kebatilan Prabu Duryudana dan Kurawa. Perang Baratayuda yaitu perang perebutan tahta kerajaan Hastina antara Pandawa dan Kurawa. Pandawa berhasil merebut kembali kerajaan Hastina dari cengkraman Kurawa berkat campur tangan Dewa Wisnu.
“Apakah Dewa Wisnu turun ke India untuk melerai perang dengan Pakistan, Mo,” sela Petruk cengengesan. Romo Semar hanya mesem menanggapi celoteh anaknya Petruk.
Baca juga : Penegakan Hukum Rama Bargawa
“Dewa Wisnu sebagai penjaga keseimbangan alam dan keadilan, turun kapan dan di mana saja,” jawab Romo Semar pendek. “Pemimpin negara yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan berlaku tidak adil, pasti didatangi Dewa Wisnu. Karena, kesenjangan merupakan penyebab terjadinya konflik sosial,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.