Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Batalnya mutasi tujuh perwira tinggi TNI menyisakan tanda tanya publik. Spekulasi berkembang liar dikaitkan pernyataan Forum Purnawirawan yang mengusulkan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di sisi lain, mutasi dalam tubuh TNI merupakan hal yang lumrah. Selain bertujuan penyegaran, mutasi untuk menjawab tantangan institusi pertahanan. Dikatakan tidak lazim kalau mutasi tersebut didasari dengan motif politik tertentu.
“Mutasi TNI jangan dipolitisasi, lebih baik TNI dilibatkan dalam pemberantasan premanisme, Mo,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar mesem dan mengangguk pelan menanggapi komentar Petruk. Romo Semar kurang semangat nimbrung urusan politik. Romo Semar sedang galau dengan maraknya aksi premanisme di tanah air. Maraknya premanisme menunjukkan ada persoalan mendasar terhadap perlindungan warga negara. Negara tidak boleh kalah dengan preman. Negara yang tidak mampu melindungi rakyatnya dari aksi premanisme disebut sebagai negara gagal atau failed state.
Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang rebus menghangatkan suasana pagi yang dingin akibat guyuran hujan semalam. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Ramayana. Di mana, penobatan Ramawijaya sebagai raja Ayodya dibatalkan karena adanya intervensi kepentingan pribadi.
Baca juga : SIM Keliling Tangerang Kota Selasa 13 Mei, Cek Di Sini Lokasinya
Kocap kacarito, Prabu Dasarata merupakan raja Ayodya yang mewarisi kerajaan mertuanya, yakni dari Prabu Banaputra. Dasarata kawin dengan Dewi Kusalya putri tunggal Prabu Banaputra dengan Dewi Barawati. Prabu Banaputra tewas oleh Prabu Rahwana dari kerajaan Alengka. Untuk mengisi kekosongan tahta kerajaan, Dasarata diangkat menjadi penerus kepemimpinan Ayodya.
Prabu Dasarata memiliki tiga orang istri yaitu Dewi Kusalya, Dewi Sumitra, dan Dewi Kekayi. Dari perkawinannya dengan Dewi Kusalya memiliki anak bernama Ramawijaya sebagai putra mahkota kerajaan Ayodya. Perkawinan Dasarata dengan Dewi Sumitra memiliki keturunan bernama Laksmana. Sedangkan perkawinannya dengan Dewi Kekayi menurunkan tiga orang anak yaitu Barata, Satrugna, dan Dewi Kawakwa.
Konflik kerajaan Ayodya berawal dari pembatalan penobatan Ramawijaya sebagai raja Ayodya. Secara silsilah Ramawijaya lebih berhak atas tahta peninggalan kakeknya Prabu Banaputra. Namun belum berumur sehari, pengangkatan Ramawijaya dibatalkan oleh Dasarata atas permintaan Dewi Kekayi istri ketiganya. Konon prabu Dasarata pernah berjanji kepada Dewi Kekayi bahwa keturunannya kelak yang menjadi raja Ayodya.
Baca juga : SIM Keliling Kabupaten Bogor Selasa 13 Mei, Hadir Di Mall Cileungsi
Ramawijaya bernasib tragis, setelah lengser keprabon diusir dan harus menjalani hidup dalam pengasingan di hutan Dandaka. Laksmana mengikuti jejak kakaknya hidup terlunta-lunta di tengah hutan selama tiga belas tahun. Sedangkan tahta kerajaan Ayodya diberikan kepada Barata.
Barata sebetulnya belum cukup umur dan kurang cakap untuk memimpin kerajaan sebesar Ayodya. Kerajaan Ayodya kacau balau di bawah kepemimpinan Barata. Karena ulah Dewi Kekayi, seorang ibu yang memaksakan anaknya untuk menjadi raja dengan cara tidak wajar.
“Sesuatu kalau dipaksakan endingnya tidak baik, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Itulah pentingnya menjaga kepatutan dan kewarasan dalam hidup ini,” jawab Romo Semar pendek. “Ada pepatah bijak mengatakan, Sopo salah bakale seleh, sopo mbibiti olo wahyune bakal sirno,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.