Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ucapan seorang pemimpin adalah panutan dan teladan bagi rakyat. Namun sayang akhir-akhir ini, banyak pernyataan pejabat publik justru membuat blunder dan gaduh. Keteladanan seorang pemimpin dilihat dari ucapan dan tindakannya. Pemimpin bijak antara ucapan dan tindakan selalu konsisten.
“Kebanyakan pemimpin waton ngomong tidak dipikir dulu, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar tahu persis ke mana arah komentar Petruk. Seperti pernyataan seorang pejabat publik yang membandingkan besaran gaji sebagai ukuran kecerdasan seseorang, pernyataan tersebut tak pelak menuai kritikan. Pernyataan tidak cerdas justru menimbulkan nirempati di kalangan masyarakat.
Romo Semar sebetulnya kurang semangat membahas ucapan pemimpin yang bikin gaduh. Romo Semar sedang galau dengan meningkatnya angka pengangguran. Minimnya lowongan kerja, membuat para pencari kerja saling berebut saat mengikuti job fair pekan lalu. Selain pengangguran, rakyat disuguhi kejahatan elite lain seperti maraknya korupsi dan perdagangan narkoba.
Baca juga : Kesombongan Narayana Dalam Pamer Ilmu
Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Udara dingin masih menyelimuti padepokan Klampis Ireng. Jadah bakar dan pisang rebus merupakan menu kelangenan Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Mahabarata. Di mana, pernyataan Pandita Durna menimbulkan kegaduhan di kerajaan Hastina. Kocap Kacarito, Pandita Durna adalah guru satria Pandawa dan Kurawa. Adipati Drestarastra memberi kepercayaan penuh kepada Durna untuk membimbing klan Barata. Bukan tanpa alasan pengangkatan Durna sebagai pujangga Hastina.
Selain memiliki kesaktian tinggi, Durna pernah berjasa mengambil pusaka minyak Tala yang jatuh ke dalam sumur tua.
Pandita Durna mengadakan pendadaran kepada Pandawa dan Kurawa di Padepokan Sokalimo. Saat diadakan ujian memanah, tiba-tiba muncul pemuda bernama Karna memasuki gelanggang. Karna tertantang mengikuti pertandingan memanah melawan Arjuna. Durna melarang Karna masuk arena memanah, karena Karna hanya anak seorang kusir Awangga.
Baca juga : Batalnya Penobatan Prabu Rama
Pernyataan Durna melarang anak kusir mengikuti pertandingan memanah membuat geger lingkungan istana. Durna sengaja membandingkan kemampuan anak kusir dengan satria Barata. Karna dianggap kastanya rendah di bawah Pandawa dan Kurawa.Sehingga tidak pantas bagi seorang Karna mengikuti sayembara memanah.
Duryudana jeli melihat situasi yang menimpa Karna. Melihat kesaktian Karna, Duryudana mengangkat Karna sebagai keluarga Kurawa. Apalagi kesaktian memanah Karna mampu mengimbangi Arjuna. Akhirnya Karna diperbolehkan masuk gelanggang. Dengan bergabungnya Karna ke Kurawa, kekuatan Kurawa dan Pandawa seimbang. Kelak dalam perang Baratayuda, Karna dan Arjuna keduanya bertanding dalam olah senjata panah.
“Ucapan Pandita Durna tidak mendidik Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Seperti halnya pernyataan pejabat publik harus terukur dan berbobot,” jawab Romo Semar pendek. Di era digital seperti sekarang ini, tidak ada lagi batas koridor antara wilayah privat dan publik. Untuk itu seorang pemimpin atau pejabat publik hati-hati dalam membuat pernyataan. “Sehingga pernyataannya tidak menimbulkan pertikaian dan keresahan di Masyarakat,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.