BREAKING NEWS
 

Diksi Nirempati Pandita Durna

Senin, 2 Juni 2025 07:58 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Ucapan seorang pemimpin adalah panutan dan teladan ­bagi rakyat. Namun ­sayang akhir-akhir ini, banyak pernyataan pejabat publik ­justru membuat blunder dan gaduh. Ketela­danan seorang ­pemimpin dilihat dari ucapan dan tindakannya. Pemimpin ­bijak antara ucapan dan ­tindakan selalu konsisten.

“Kebanyakan pemimpin waton ngomong tidak ­dipikir dulu, Mo,” celetuk Petruk ­cengengesan. Romo Semar ­tahu persis ke mana arah komentar Petruk. Seperti ­pernyataan seorang pejabat publik yang membandingkan besaran gaji sebagai ukuran kecerdasan seseorang, ­pernyataan tersebut tak pelak menuai kritikan. Pernyataan tidak cerdas ­justru menimbul­kan nirempati di ­kalangan masyarakat.

Romo Semar sebetulnya kurang semangat membahas ucapan pemimpin yang bikin gaduh. Romo Semar sedang galau dengan meningkatnya angka pengangguran. Minimnya lowongan kerja, membuat para pencari kerja saling berebut saat meng­ikuti job fair ­pekan lalu. Selain ­pengangguran, rakyat di­suguhi kejahatan elite lain seperti maraknya korupsi dan perdagangan ­narkoba.

Baca juga : Kesombongan Narayana Dalam Pamer Ilmu

Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Udara dingin masih ­menyelimuti padepokan Klampis Ireng. Jadah bakar dan pisang rebus merupa­kan menu kelangenan Romo Semar. ­Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan ­Romo Semar ke zaman Maha­barata. Di mana, pernyataan Pandita Durna menimbulkan kegaduhan di kerajaan Hastina. Kocap Kacarito, Pandita Durna adalah guru satria Pandawa dan Kurawa. Adipati Drestarastra memberi kepercayaan penuh kepada ­Durna untuk membimbing klan Barata. Bukan tanpa alasan pengangkatan Durna sebagai pujangga Hastina.

Adsense

Selain memiliki kesaktian tinggi, Durna pernah berjasa mengambil pusaka minyak Tala yang jatuh ke dalam sumur tua.

Pandita Durna mengadakan pendadaran kepada Pandawa dan Kurawa di Padepokan Sokalimo. Saat diadakan ujian memanah, tiba-tiba muncul pemuda bernama Karna memasuki gelanggang. Karna tertantang mengikuti per­tandingan memanah melawan Arjuna. Durna melarang Karna masuk arena memanah, karena Karna hanya anak seorang kusir Awangga.

Baca juga : Batalnya Penobatan Prabu Rama

Pernyataan Durna melarang anak kusir mengikuti pertan­dingan memanah membuat geger lingkungan istana. Durna sengaja membandingkan kemampuan anak kusir dengan satria Barata. Karna dianggap kastanya rendah di bawah ­Pandawa dan Kurawa.Se­hingga tidak pantas ­bagi seorang Karna mengikuti ­sayembara memanah.

Duryudana jeli melihat situasi yang menimpa ­Karna. Melihat kesaktian Karna, Duryudana mengangkat Karna sebagai keluarga Kurawa. Apalagi kesaktian memanah Karna mampu mengimbangi Arjuna. Akhirnya Karna diperbolehkan masuk gelanggang. Dengan bergabungnya Karna ke Kurawa, kekuatan Kurawa dan Pandawa seimbang. Kelak dalam perang Baratayuda, Karna dan Arjuna keduanya bertanding dalam olah senjata panah.

“Ucapan Pandita Durna tidak mendidik Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Seperti halnya pernyataan pejabat publik harus terukur dan berbobot,” jawab Romo Semar pendek. Di era digital seperti sekarang ini, tidak ada lagi batas koridor ­antara wilayah privat dan publik. ­Untuk itu seorang pemimpin atau pejabat publik hati-hati dalam membuat pernyataan. “Sehingga pernyataannya tidak menimbulkan pertikaian dan keresahan di Masyarakat,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense