Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Gonjang-ganjing kerusakan ekosistem kepulauan Raja Ampat belum sirna. Muncul kegaduhan baru yaitu sengketa rebutan empat pulau antara Pemerintahan Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Masing-masing pihak saling mengklaim dan paling berhak atas wilayah tersebut. Presiden harus turun tangan untuk mengakhiri polemik rebutan wilayah antara Aceh dan Sumatera Utara.
“Mungkin pulaunya banyak kandungan nikel dan minyak bumi, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar hanya mesem tidak mau larut urusan politik rebutan wilayah. Selain sensitif, sengketa empat pulau dapat mengancam kedaulatan dan persatuan bangsa.
Romo Semar waswas dengan perkembangan terakhir Geopolitik di Timur Tengah. Konflik perang terbuka antara Israel dan Iran bukan saja mengancam perdamaian dunia. Ekskalasi konflik Timur tengah dapat merusak tatanan perekonomian Global.
Baca juga : Ekosistem Sungai Gangga Tercemar
Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Seduhan kopi tubruk Sumatera terasa nikmat diseruput saat masih panas. Pisang rebus dan uli bakar menambah nikmat sarapan pagi di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Mahabarata. Belajar bagaimana Gatotkaca dan Boma Narakasura menyelesaikan sengketa wilayah Tunggarana dengan bijak.
Kocap kacarito. Menurut silsilah, wilayah Tunggarana di bawah Kerajaan Pringgondani. Setelah Prabu Trembaka mangkat, wilayah Tunggarana dicaplok Prabu Bomantara dari kerajaan Trajutrisna. Prabu Bomantara dikalahkan oleh Seteja dan terjadi pergantian kekuasaan. Seteja menjadi penguasa baru di Kerajaan Trajutrisna dan bergelar Prabu Boma Narakasura.
Konflik berawal rencana Prabu Boma Narakasura menaikkan upeti pajak kepada kawula Tunggarana. Rakyat protes dengan kenaikan pajak tersebut. Rakyat sedang susah karena gagal panen dan musim paceklik diwajibkan harus bayar pajak tinggi.
Baca juga : Diksi Nirempati Pandita Durna
Adipati Kahana sebagai pemimpin Tunggarana minta bantuan Gatotkaca sebagai penguasa Pringgandani. Kahana merasa diperlakukan tidak adil selama di bawah bayang-bayang Prabu Boma Narakasura. Kahana ingin kedaulatan Tunggarana kembali di bawah kekuasaan Prenggandani.
Keinginan Kahana bergabung dengan Prenggondani didukung oleh Resi Sumber Katong, salah satu sesepuh kadipaten Tunggarana. Prabu Boma marah mendengar Tunggarana ingin bergabung kembali ke Prenggondani. Boma menuduh Gatotkaca sengaja memprovokasi Kahana untuk melawan dirinya.
Terjadi perang terbuka antara Kerajaan Prenggondani dan Trajutrisna untuk memperebutkan wilayah Tunggarana. Gatotkaca didukung para Pandawa. Sedangkan Boma Narakasura dibantu Prabu Kresna. Karena Boma Narakasura merupakan anak Prabu Kresna dari istrinya Dewi Pertiwi.
Baca juga : Kesombongan Narayana Dalam Pamer Ilmu
Dalam perebutan wilayah Tunggarana, Gatotkaca berhasil mengalahkan Boma Narakasura. Sehingga Boma tidak lagi berhak atas wilayah Tunggarana. Semestinya kekuasaan kembali ke Prenggondani. Namun Gatotkaca bijak dan menyerahkan kembali kekuasaan Tunggarana kepada rakyat Tunggarana.
“Sengketa wilayah harus disikapi dengan cermat, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Penyelesaian konflik wilayah harus mengacu kepada data dan sisi historis geografis. Bukan semata untuk kepentingan politik atau kelompok,” jawab Romo Semar pendek. “Biarkan rakyat Aceh dan Sumatera Utara menentukan masa depannya sendiri untuk mengakhiri sengketa wilayah ini,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.