Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam artikel terdahulu dijelaskan thawaf sebagai ibadah formal tertua bagi para makhluk. Thawaf juga menirukan apa yang pernah di lakukan nenek moyang kita Adam dan Hawa.
Ini semua membuktikan manusia sebagai makhluk mikrokosmos, harus tunduk dan pasrah (islam) dan konsisten (istiqamah) kepada ketentuan Khaliq-nya.
Muslim sejati, selain menyatakan kepasrahan total kepada Tuhan, ia juga harus memancarkan nilai-nilai pencerahan dan vibrasi kasih dalam kehidupan bermasyarakat.
Bukannya menebarkan fitnah dan keresahan yang pada gilirannya akan menyulut konflik dan memperlemah sendi-sendi keutuhan dan kesatuan.
Sehebat apa pun seseorang, pasti tidak pernah bebas dari kekeliruan dan kesalahan. Boleh jadi 24 jam tidak cukup bagi kita untuk membicarakan kelemahan seseorang, tetapi 24 jam juga tidak cukup untuk membicarakan kelebihan orang yang sama.
Baca juga : Makna Simbolik Thawaf (1)
Tuntutan orang-orang yang selalu mengidealisasikan figur manusia tanpa kelemahan dan kekurangan adalah tuntutan yang tidak realistis, bahkan absurd.
Namun, jargon ‘kelemahan manusia’ tidak bisa dijadikan alasan untuk melegitimasi apalagi melanggengkan kesalahan. Dalam siklus kehidupan seharihari, manusia senantiasa menjalankan fungsi-fungsi thawaf.
Orang-orang yang berthawaf di atas rel yang benar, mereka itulah disebut orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, jalan yang penuh kenikmatan: Ihdina al-shirath al-mustaqim, shirath alladzina an’amta ‘alaihim…”
Orang-orang musyrik, yang melakukan loyalitas dan penghambaan ganda kepada lebih dari satu objek yang seharusnya disembah, sesungguhnya mereka telah menempuh rel menyimpang dalam kehidupan.
Mereka inilah yang digambarkan Tuhan dalam Surah al-¬Hajj: Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS al-Hajj/ 22: 31).
Baca juga : Makna Simbolik Thawaf (2)
Orang-orang yang menyimpang dari sistem global Tuhan dan menyalahi tata krama kemanusiaan, mereka itu termasuk orang-orang yang menyimpan dari rel.
Nurani (cahaya) dalam hati mereka berangsur-angsur padam digantikan dengan hati zhulmânî, yang gelap-gulita. Cermin batin mereka buram sehingga tidak mampu lagi menangkap nur, cahaya Ilahi.
Mereka teralienasi gemerlapnya kehidupan dunia. Hati mereka tidak lagi tergetar menyaksikan penderitaan kaum dhu`afa’ yang semakin dha`if, karena paham individualisme sedemikian merasuk ke dalam pikiran mereka.
Orang-orang seperti ini sulit merasakan ketenangan dan ketenteraman hakiki lantaran jiwanya dipadati nafsu penaklukan (power struggle), dan pada akhirnya mereka merasa kelelahan karena tersedot oleh energinya sendiri.
Dalam bahasa Al-Qur’an dikatakan: Barang siapa yang Allah kehendaki akan diberikan petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (berpasrah diri) Islam.
Baca juga : Makna Simbolik Multazam
Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.
Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman (QS al-An`am/ 6: 125). Dengan demikian, thawaf yang dilakukan pada setiap kita menyelenggarakan sejumlah ibadah, memiliki makna dan fungsi ganda.
Pertama thawaf berfungsi sebagai rukun ibadah haji dan umrah, tetapi yang tak kalah penting, bagaimana menghayati makna simbolik thawaf sebagai bagian dari penyucian diri dari dosa dan kekhilafan masa lampau.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.