Dark/Light Mode

Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (23)

Dari Tuhan Menuju Makhluk Dengan Tuhan (Min al-Haq ila al-Haq bi al-Haq)

Selasa, 10 Juni 2025 06:19 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Para salik yang sampai pada perjalanan ketiga sudah sadar kembali dari ke-fana’-annya. Saat itu salik mengemban sebuah misi atau amanah untuk turun ke alam bawah (al-’alam al-sufla). Ia memiliki kemiripan dengan Nabi yang membawa misi kenabian kepada manusia, namun tentu saja berbeda dengan Nabi karena sehebat apapun seorang salik atau wali tidak akan pernah menyamai Nabi. Akan tetapi dari segi pengalaman dan fungsi, para salik di level ketiga ini memiliki kesamaan fungsi dengan Nabi. Sama-sama memiliki pengalaman batin yang tinggi, namun tidak wajib menyampaikannya kepada umat atau jamaatnya.

Berbeda dengan Rasul, yang berkewajiban menyampaikan misi pengalaman batinnya kepada umatnya. Dari sisi inilah Al-Qumsyi’i mengatakan bahwa salik yang sudah mencapai level ketiga dan keempat menyebutnya memiliki misi kenabian (nubuwwah/prophetic) dalam arti bahasa bukan menurut istilah syar’i (huwa nahwun min al-nubuwwah bi ma’naha al-lugawi, la al-isthilahi, laisat nubuwwah al-tasyri’).

Baca juga : Dari Tuhan Menuju Tuhan Bersama Tuhan (Min al-Haq ila al-Haq bi al-Haq)

Perbedaan dengan safar-safar sebelumnya (safar pertama dan kedua) ialah starting point-nya. Makhluk (al-khalq) menuju Tuhan (al-Haq). Paradigmanya juga berangkat dari yang banyak (al-katsrah/ manyness) menuju ke yang tunggal (al-Wahdah/ onennes). Sedangkan safar ketiga starting point-nya ialah Tuhan (al-Haq) menuju makhluk (al-khalq). Paradigmanya berangkat dari yang tunggal (al-Wahdah/ onennes) menuju ke yang banyak (al-katsrah/ manyness).

Para salik di level safar ketiga ini sepintas tidak ada yang berbeda dengan penampilan ketika masih dalam safar pertama. Ia bermasyarakat dan bersosialisasi, tetapi di dalam dirinya sudah mengalami suasana batin yang sangat berubah (shifting).

Baca juga : Dari Manusia Menuju Tuhan (Bagian 4)

Orang-orang yang mengalami pengalaman spiritual dapat membaca kekuatan perubahan tersebut di dalam diri yang bersangkutan. Seolah-olah berlaku ungkapan hanya wali sejati yang mampu memahami wali yang sejati. Para salik di maqam ini tersiksa dengan pujian. Jika ada yang mengaku salik lalu kelihatan menikmati berbagai pujian yang dialamatkan kepada dirinya, maka salik itu layak dipertanyakan.

Salik dalam level ketiga ini sudah memiliki kesadaran di level permanen (maqamat), bukan lagi di level kesadaran temporer (ahwal). Di manapun dan kapan pun, ia berada selalu bersama dengan Tuhan. Inilah makna dari istilah: Min al-Haq ila al-Khalq bi al-Haq, karena di manapun dan kapan pun ia berada selalu bersama dengan Tuhan.

Baca juga : Dari Manusia Menuju Tuhan (Bagian 3)

Di dalam Syi’ah, kelompok ini masuk kategori terpelihara dari dosa (min al-ma’shumin), dengan berdasar kepada ayat: Innama yurid Allah li yudzhiba ‘ankum al-rijsa ahl al-bait wa yuthahhirakum tathhira (Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya/ QS Al-Ahdzab/ 33:33). Kemakshuman seorang tokoh terkemuka Syi’ah seperti kalangan Imam, Ayatullah, dan orang-orang tertentu lainnya dihubungkan dengan level safar ketiga atau keempat.

Hal seperti ini tidak populer di dunia Sunni, tetapi kalangan Sufi tertentu di kalangan Sunny bisa memahami maqam ini sebagai kelompok wali (al-maqam al-auliya’).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.