Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam artikel terdahulu dijelaskan thawaf sebagai ibadah formal tertua bagi para makhluk. Thawaf juga menirukan apa yang pernah di lakukan nenek moyang kita Adam dan Hawa. Ini semua membuktikan manusia sebagai makhluk mikrokosmos, harus tunduk dan pasrah (islam) dan konsisten (istiqamah) kepada ketentuan Khaliq-nya. Muslim sejati, selain menyatakan kepasrahan total kepada Tuhan, ia juga harus memancarkan nilai-nilai pencerahan dan vibrasi kasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bukannya menebarkan fitnah dan keresahan yang pada gilirannya akan menyulut konflik dan memperlemah sendi-sendi keutuhan dan kesatuan.
Baca juga : Makna Simbolik Multazam
Sehebat apa pun seseorang, pasti tidak pernah bebas dari kekeliruan dan kesalahan. Boleh jadi 24 jam tidak cukup bagi kita untuk membicarakan kelemahan seseorang, tetapi 24 jam juga tidak cukup untuk membicarakan kelebihan orang yang sama. Tuntutan orang-orang yang selalu mengidealisasikan figur manusia tanpa kelemahan dan kekurangan adalah tuntutan yang tidak realistis, bahkan absurd. Namun, jargon ‘kelemahan manusia’ tidak bisa dijadikan alasan untuk melegitimasi apalagi melanggengkan kesalahan.
Baca juga : Makna Simbolik Hijir Ismail
Dalam siklus kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa menjalankan fungsi-fungsi thawaf. Orang-orang yang berthawaf di atas rel yang benar, mereka itulah disebut orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, jalan yang penuh kenikmatan: Ihdina al-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an’amta ‘alaihim…”
Baca juga : Makna Simbolik Hajar Aswad
Orang-orang musyrik, yang melakukan loyalitas dan penghambaan ganda kepada lebih dari satu objek yang seharusnya disembah, sesungguhnya mereka telah menempuh rel menyimpang dalam kehidupan. Mereka inilah yang digambarkan Tuhan dalam Surah al-¬Hajj: Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS al-Hajj/ 22: 31).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya