BREAKING NEWS
 

Kusta Di Negara Kita

Kamis, 26 Juni 2025 07:07 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Penyakit kusta atau lepra (dikenal juga sebagai Morbus Hansen atau penyakit Hansen) tergolong dalam penyakit tropis terabaikan ­(neglected tropical diseases–NTD). Penya­kit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, yang masih satu genus dengan bakteri penyebab tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis).

Nama “Hansen” merujuk ­pada Dr. Gerhard Henrik ­Armauer Hansen, dokter asal Norwegia yang menemu­kan Mycobacterium ­leprae ­pada 1873. Sekitar 30 tahun lalu, saya sempat mengunjungi museumnya di Bergen, Norwegia.

Data WHO menunjukkan, kusta masih ditemukan di lebih dari 120 negara, dengan sekitar 200.000 kasus baru setiap tahun. Laman WHO tertanggal 24 Januari 2025 mencatat bahwa berdasarkan data 2023, Brazil, India, dan Indonesia adalah tiga negara yang masih melaporkan lebih dari 10.000 kasus baru setiap tahun. Sementara itu, 12 negara lain (Bangladesh, Kongo, Ethiopia, Madagaskar, Mozambik, Myanmar, Nepal, Nigeria, Filipina, Somalia, Sri Lanka, dan Tanzania) masing-masing melaporkan antara 1.000 hingga 10.000 kasus baru per tahun.

Baca juga : Peran Serta Warga Kota Jakarta

Di Indonesia, kusta masih menjadi masalah kese­hatan masyarakat. Berdasarkan ­Perpres Nomor 12 Tahun 2025, terdapat beberapa indikator dalam Program Penanggu­langan Kusta. Di antaranya adalah target ­eliminasi kusta di 11 kabupaten/kota pada 2025 dan 42 kabupaten/kota pada 2029. Target proporsi kasus kusta baru tanpa disabilitas adalah 86 persen di 2025 dan 89 persen di 2029. Target penyelesaian pengobatan tepat waktu sebesar 90 persen pada 2025 dan 2029. Sementara, proporsi kasus kusta anak dari total kasus baru ditargetkan kurang dari 5 persen pada 2025 dan 2029.

Adsense

Sejak 2023, WHO mengu­bah kriteria eliminasi kusta. Jika sebelumnya eliminasi dihitung berdasarkan prevalensi <1 per 10.000 penduduk, kini eliminasi dihitung jika tidak ditemukan kasus anak dan dewasa dalam lima tahun terakhir. Dengan kriteria baru ini, hingga akhir 2024, baru 6 kabupaten/kota di Indonesia yang memenuhi syarat eliminasi. Namun, jika masih memakai kriteria lama, maka eliminasi telah tercapai di 395 kabupaten/kota.

Data Kementerian Kese­hatan per 31 Mei 2025 menunjukkan, terdapat 3.716 kasus kusta baru di Indonesia. Artinya, masih ada ribuan kasus baru tahun ini. Target proporsi kasus anak di bawah 5 persen, tapi dari 30 provinsi yang melaporkan, terdapat 26 provinsi yang mencatat kasus kusta pada anak. Bahkan, proporsi kasus anak pada 2025 meningkat diban­dingkan 2024. Ini mengindikasikan masih adanya sumber penularan dari orang dewasa di sekitar anak-anak.

Baca juga : SBY Dan Eliminasi Malaria

Proporsi kasus baru tanpa disabilitas pada 2025 adalah 80 persen, sedangkan penyele­saian pengobatan tepat waktu pada 2024 adalah 84,07 persen. Strategi umum pengentasan kusta di Indonesia adalah pening­katan penemuan kasus agar dapat segera ditangani. Tiga masalah utama masih dihadapi. Pertama Rendahnya penemuan kasus dibanding estimasi jumlah sebenarnya. Baru 38,9 persen menurut data 2024. Kedua, Cakupan kemoprofilaksis masih rendah, hanya 13,9 persen dari target 80 persen. Ketiga, Cakupan pengobatan yang selesai tepat waktu masih 84 persen. 

Pada 7–9 Juli 2025 mendatang, Indonesia akan menjadi tuan rumah The 22nd International Leprosy Congress (ILC) di Bali. ­Kongres ini akan membahas tiga topik utama. Yaitu, pembaruan prevalensi dan strategi elimi­nasi kusta, diagnosis dan pengobatan termasuk Multidrug ­Therapy (MDT), ­serta penanga­nan stigma dan program rehabilitasi. Tema ­kongres adalah “Towards a World with Zero Leprosy”.

Karena diselenggarakan di Bali, semoga kongres ini juga menjadi langkah pen­ting menuju Indonesia Bebas Kusta. Semoga sukses. Apalagi, kita sedang menyongsong Indo­nesia Emas, yang akan lebih bermakna jika kusta sudah tereliminasi dari negeri tercinta ini.

Baca juga : APLMA Dan Eliminasi Malaria 2030

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University
Mantan Dirjen Pengenda­lian Penyakit dan Kepala Balitbangkes Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Penerima Rakyat ­Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan ­Masyarakat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense