Dark/Light Mode

Istana, Covid-19 Global Dan WHO

Kamis, 5 Juni 2025 07:36 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Halaman muka ­Koran Rakyat Merdeka edisi 4 ­Juni 2025 memuat berita berjudul "Merebak di Negeri Te­tangga, ­Prabowo Pantau Kasus ­Covid-19". Disebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto terus memantau perkembangan kasus Covid-19 yang mengalami peningkatan di sejumlah negara tetangga, seperti Singapura dan Thailand.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi juga mengimbau masyarakat untuk kembali me­nerapkan protokol hidup sehat. Kita tentu berbesar hati bahwa perkem­bangan Covid-19 kini juga menjadi perhatian Istana. Hal ini tentu sangat baik bagi upaya pengendalian pandemi di Tanah Air.

Perkembangan Covid-19 memang patut mendapat perhatian serius. Perlu ditegaskan bahwa peningkatan kasus tidak hanya terjadi di negara-negara te­tangga, tapi juga di berbagai ­belahan dunia lainnya. Karena itu, pada akhir Mei 2025, ­Covid-19 kembali masuk dalam Diseases Outbreak News (DONs) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mencerminkan situasi global.

Seperti kita tahu, WHO secara berkala menerbitkan DONs ­untuk memberi informasi kepada masyarakat kesehatan global ­terkait kejadian penyakit menular yang bersifat luar ­biasa, terutama yang berpotensi berkembang dan perlu diantisipasi serta diwaspadai. Dalam sebulan, biasanya hanya ­beberapa penyakit menular yang masuk DONs karena dinilai signifikan. Sepanjang Mei 2025, terdapat tujuh kejadian penyakit yang dimuat, termasuk laporan tanggal 28 Mei 2025 berjudul "Covid-19 - Global Situation".

Baca juga : Covid-19 Terus Merebak

Sedikitnya ada tujuh poin penting yang disampaikan WHO dalam laporan tersebut.

Pertama, secara global memang terjadi peningkatan kasus Covid-19 sejak pertengahan Februari 2025. Jadi, ini bukan fenomena baru di bulan Mei, tapi sudah berlangsung beberapa bulan dan baru kini ramai diberitakan di dalam negeri.

Kedua, aktivitas SARS-CoV-2 secara global meningkat dengan test positivity rate mencapai 11%, angka yang sudah lama tidak setinggi ini. Terakhir kali terjadi peningkatan serupa pada Juli 2024. Menurut Surat Edaran Dirjen Pengendalian ­Penyakit Kementerian Kesehatan Nomor SR.03.01/C/1422/2025, posi­tivity rate di Indonesia pada minggu ke-20 hanya 0,59%. ­Perbedaan ini tentu perlu dianalisis lebih lanjut, termasuk metode dan cakupan pemeriksaannya, agar kita dapat memahami gambaran riil di lapangan.

Ketiga, kenaikan kasus terbesar tercatat di tiga regional WHO, yaitu Eastern Mediterranean (EMRO), South-East Asia (SEARO), dan Western Pacific (WPRO), Indonesia termasuk di dalamnya.

Baca juga : Pendidikan Kedokteran Daerah Rural/Pedesaan

Jadi, wajar bila Indonesia juga mengalami peningkatan kasus dalam beberapa bulan terakhir. Saat saya berada di Brisbane pekan lalu, sebagai Adjunct Professor Griffith University, media Australia, baik cetak maupun televisi, juga menyoroti peningkatan kasus Covid-19 di negara mereka.

Keempat, sejak awal 2025, varian Covid-19 pun telah bergeser. Sirkulasi varian LP.8.1 menurun, sementara varian NB.1.8.1 meningkat. Varian ini kini dikategorikan WHO se­bagai Variant Under Monitoring (VUM) dengan proporsi global mencapai 10,7%. Kita belum memiliki data apakah varian ini juga telah terdeteksi di ­Indonesia. Namun, Surat Edaran Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa varian dominan saat ini adalah MB.1.1. Akan sangat baik jika analisis juga dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan varian NB.1.8.1 di Indonesia.

Kelima, WHO menganjurkan agar tiap negara menerapkan pendekatan terintegrasi berbasis risiko (risk-based, integrated approach) dalam menangani Covid-19. Tentu saja anjuran ini juga patut diterapkan di Indonesia.

Keenam, WHO menegaskan bahwa vaksinasi tetap merupa­kan bagian penting dari program pengendalian Covid-19 yang menyeluruh (comprehensive Covid-19 control programmes).

Baca juga : WHO Dan Pendidikan Kedokteran

Ketujuh, vaksinasi tetap menjadi intervensi penting untuk mencegah gejala berat dan kematian akibat Covid-19, ter­utama pada kelompok berisiko tinggi.

Semoga perkembangan ­Covid-19 di tingkat global ini menjadi perhatian kita bersama demi menjaga kesehatan masyarakat dan generasi mendatang.

Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Guru Besar FKUI - Adjunct Professor, Griffith University – Australia
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018–2020
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.