BREAKING NEWS
 

Kecerdasan Buatan Dan Kesehatan

Selasa, 8 Juli 2025 08:40 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Sudah banyak kita kenal tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam Simposium Internasional Satu Kesehatan (One Health) di Kota Shenzhen, kajian tentang AI dilakukan secara cukup sistematis. Simposium ini diselenggarakan oleh Shenzhen Third People's Hospital, Southern University of Science and Technology, China One Health Network, dan Griffith University, di ­mana saya menjadi Adjunct Pro­fessor. Simposium ini di­­ikuti ratusan peserta dan pem­­bicara dari setidaknya 16 negara.

Pada akhir simposium dihasilkan Deklarasi Pencheng yang mencakup berbagai aspek penting pengendalian Satu Kesehatan (One Health) di dunia di berbagai regional, termasuk Asia Pasifik dan juga di negara kita.

Dalam simposium ini secara jelas disampaikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence - AI) adalah simulasi dari kecerdasan manusia (Human Intelligence - HI) ke dalam mesin. Sementara itu, kecerdasan manusia (Human Intelligence - HI) mencakup kemampuan untuk mengambil pelajaran dari pengalaman yang dijalani, serta kemampuan beradaptasi terhadap situasi baru dan yang berubah.

Secara umum ada dua jenis kecerdasan buatan (Artifi­cial Intelligence - AI), yaitu kecer­dasan buatan prediktif (Pre­dictive AI) dan kecerdasan buatan generatif (Generative AI), yang masing-masing ­memiliki spesifikasi ter­sendiri.

Baca juga : Kusta Di Negara Kita

Kecerdasan buatan prediktif (Predictive AI) bertujuan untuk memprediksi atau membantu membuat keputusan. Luaran yang dihasilkan berupa label dan klasifikasi, contohnya diagnosis dan perkiraan (forecasting). Kecerdasan buatan prediktif (Predictive AI) akan menjawab pertanyaan: “Apa yang akan terjadi?”

Di pihak lain, kecerdasan buatan generatif (Generative AI) bertujuan untuk menghasilkan data atau konten baru. Luaran yang dihasilkan bisa berupa teks, gambar, audio, video, kode dan sebagainya. Contoh konkretnya, antara lain naskah tulisan lewat ChatGPT, sintesis gambar melalui DALL·E, dan musik melalui Jukebox. Kecerdasan ­buatan generatif (Generative AI) akan menjawab pertanyaan: “Apa yang dapat saya buat/hasilkan?”

Karena Simposium Shenzhen ini tentang One Health atau Satu Kesehatan, ­maka pembahasan selanjutnya ada­lah bagaimana kita dapat memanfaatkan kecerdasan buatan dalam konsep One Health yang mengkolaborasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

Adsense

Ini hal penting karena kita tahu bahwa kesehatan manusia tidak bisa dilepaskan dari kesehatan hewan maupun kesehatan lingkungan.

Baca juga : Peran Serta Warga Kota Jakarta

Kita sudah banyak mengenal penyakit zoonosis, yang menular dari hewan ke manusia, dan bahkan bukan tidak mungkin menjadi penyebab pandemi. Kita juga paham bagaimana kerusakan lingkungan dalam berbagai bentuknya sangat memengaruhi kehidupan dan kesehatan manusia.

Karena itu, jika kecerdasan buatan dapat memegang peran dalam One Health, tentu akan sangat baik bagi umat manusia.

Untuk itu, ada empat poin penting.

Pertama, kecerdasan ­buatan jelas dapat memengaruhi ­penanganan One Health saat ini dan di masa depan. ­Tentu hal ini bergantung pada bagaimana kita memanfaatkannya dengan baik.

Baca juga : SBY Dan Eliminasi Malaria

Kedua, sistem kecerdasan buatan terus berkembang luas. Sekarang tinggal bagaimana kita mengaturnya dengan bijak, dengan mempertimbangkan berbagai aspek kesehatan di dalamnya.

Ketiga, kita sebaiknya tidak hanya bertanya bagaimana kecerdasan buatan dapat bermanfaat untuk kesehatan, tetapi juga bagaimana kita mengatur dan mengupayakan agar teknologi ini benar-benar bermanfaat bagi One Health dan kesehatan secara keseluruhan.

Keempat, secara umum kita perlu sadar bahwa secanggih apa pun, kecerdasan buatan semata tidak akan menyelamatkan dunia. Namun, AI pasti akan sangat membantu kita dalam menyelamatkan dan menyehatkan dunia. Mari kita manfaatkan AI demi ke­sejahteraan umat manusia dan juga kejayaan bangsa kita.

Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/ Adjunct Professor Griffith University Brisbane, Australia
- Mantan Direktur Penya­kit Menular WHO Asia ­Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat ­Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Ke­­sehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024 untuk penulis artikel Covid-19 terbanyak di media massa

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense