BREAKING NEWS
 

Ambalat Dan Laut Sulawesi: Menang Tanpa Menyakiti, Damai Tanpa Menyerah

Senin, 11 Agustus 2025 08:09 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Sengketa mengenai Blok ND-6 dan ND-7 di wilayah yang di Indonesia dikenal sebagai Ambalat, kembali mencuat ke permukaan setelah ­pernyataan Menteri Luar ­Negeri Malaysia Dato’ Seri Mohamad Hasan yang menolak penggunaan ­istilah ­Ambalat. Ia menyebutnya ­sebagai bagian dari Laut ­Sulawesi. Klaim ini bagi­nya didasarkan pada putusan ­Mahkamah Internasional (ICJ) tahun 2002 yang memenangkan Malaysia atas Kepulauan ­Sipadan dan Ligitan.

Tetapi putusan tersebut tidak serta-merta menentukan batas laut di kawasan sekitarnya, termasuk zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen. Maka ­penyelesaian delimitasi batas maritim tetap memerlukan perundingan bilateral yang mendalam, serta kesepakatan teknis yang sesuai dengan prinsip hukum laut internasional, ter­utama UNCLOS 1982. Sengketa ini tidak sekadar soal nama atau istilah, tetapi soal legitimasi kedaulatan, kepentingan ekonomi yang signifikan, dan posisi strategis yang memengaruhi percaturan geopolitik kawasan.

Baca juga : Hukum Dalam Keadilan Pancasila Terhadap Amnesti Dan Abolisi

Saya pernah berkunjung ke Ambalat (baik setelah lepas maupun sebelum lepas dari Indonesia, terutama juga ke Karang Unarangan) maka harus diketahui bahwa Ambalat, atau yang di Malaysia disebut se­bagai bagian dari Laut Sulawesi, adalah wilayah yang memiliki nilai strategis yang tak terbantahkan. Ia bukan sekadar titik di peta, melainkan area kaya sumber daya alam, terutama minyak dan gas, yang bernilai ekonomi tinggi. Letaknya yang strategis di jalur perbatasan utara Kalimantan Timur, dan dekat dengan rute pelayaran internasional menjadikannya sebagai simpul penting keamanan maritim.

Sejarah telah membuktikan bahwa ketegangan di kawasan ini dapat berdampak luas. Pada periode 2005–2009, perselisihan di Ambalat memicu manuver kapal perang dan patroli udara yang meningkatkan risiko salah perhitungan di laut. Ketegangan yang demikian tidak hanya menguji hubungan diplomatik, tetapi juga membebani stabilitas kawasan Asia Tenggara yang selama ini relatif damai.

Baca juga : Dukungan Politik Di Tengah Geopolitik Yang Berubah: Soliditas Politik Dan Harapan Rakyat Kecil

Di tengah situasi yang sarat risiko itu, sikap ­Presiden ­Prabowo Subianto yang me­ne­kankan perlunya penyelesaian damai dengan kepala dingin ­patut diapresiasi. ­Presiden Prabowo memahami bahwa hubungan ­Indonesia dan ­Malaysia di­bangun di atas fondasi yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan batas wilayah. Ada sejarah panjang per­saudaraan, kerja sama perdagangan, pertukaran budaya, serta ikatan emosional sebagai bangsa serumpun yang seharusnya menjadi modal utama dalam mengelola perbedaan.

Dalam pandangan tersebut, damai bukan sekadar pilihan moral, melainkan strategi geopolitik untuk memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Oleh karena itu pendekatan damai yang ditempuh pemerintah Indonesia tidak dapat dipandang seba­gai kelemahan. Sebaliknya, ia adalah manifestasi kematangan politik luar negeri yang berpijak pada prinsip bebas aktif, mengedepankan dialog, dan ­menolak eskalasi yang merugikan semua pihak.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense