Tausiah Politik
Sebelumnya
Di dalam sejarah peradaban dunia Islam, tokoh utama yang merintis asrolabe ialah Mohammad Al-Fazari yang pertama menemukan astrolabe kemudian dijadikan jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang. Dan Abu Sahl bin Naubakh, Ali bin Isa yang dikenal sebagai Phoenix pada zamannya (Zaman Abbasiyah).
Kedua tokoh ini sesungguhnya bukan yang pertama merintis astrolabe. Yang paling pertama di dalam catatan sejarah astroblabe ialah Hipparchus (180 SM) ilmuan kelahiran Nicaea Asia Kecil, sekarang di kota Iznik, Turki dan Apollonius (225 SM), seorang ilmuan Yunani. Namun karya-karya astrolabenya masih sangat sederhana.
Baca juga : Karya Peradaban Islam: Penemuan Astronomi
Tokoh-tokoh astrolabe dunia Islam berkembang pesat terutama di masa pemerintahan kerajaan Umayah dan Kerajaan Abbasiyah, yang memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh keilmuan.
Di antara para raja ada yang menyiapkan lahan di lingkungan istana kerajaan bagi para ilmuan untuk berkantor dan membangun laboratoriumnya. Bahkan ada beberapa raja di antara mereka menimbang buku-buku karya ilmuan dengan emas dan perak. Dengan demikian, warga masyarakat yang menaruh minat besar terhadap dunia sains semakin bergairah. Bahkan sejumlah ilmuan diterima sebagai anak menantu yang pada akhirnya memiliki kekuasaan di dalam kerajaan. Akhirnya dunia keilmuan betul-betul mendapatkan dukungan penuh dari kerajaan.
Baca juga : Karya Peradaban Islam: Penemuan Angka Praktis
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 14 September 2025 dengan judul "Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (32) Karya Peradaban Islam: Penemuan Astrolabe"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.