Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Banjir bandang yang menerjang Bali pekan lalu harus dijadikan “wake up call” bagi kita semua. Pembangunan tanpa memperhatikan kerusakan lingkungan menjadi beban atau liability kepada anak cucu kita. Bencana banjir terjadi justru pada puncak musim kemarau. Ini membuktikan bahwa ada yang salah dengan tata kelola pembangunan di Bali.
Pada awal tahun 2000, kawasan Seminyak Badung Bali masih berupa lahan hijau berupa sawah pertanian. Seiring dengan perjalanan waktu, kawasan tersebut yang tadinya berfungsi sebagai penyerap air, berubah menjadi lahan komersial. Maraknya bangunan hotel dan villa mengikis daya serap air. Akibatnya air meluap ke daerah lain menyebabkan banjir bandang. Keadaan ini diperparah dengan sistim drainase yang buruk.
“Kita perlu devisa dari turis asing, Mo,” celetuk Petruk serius. Romo Semar memilih diam dan menghela napas panjang. Seakan ingin melepaskan beban berat yang sedang dialaminya. Romo Semar tahu ke mana arah pembicaraan Petruk tentang penerimaan devisa dari industri pariwiasata di Bali.
Baca juga : Polikrisis Pemerintahan Parikesit
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Pisang rebus dan singkong bakar merupakan menu kelangenan sarapan pagi di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Puntadewa memberi keteladanan dalam membangun kerajaan Amarta tanpa merusak lingkungan sekitar.
Kocap kacarito, Adipati Drestarastra kaget melihat kedatangan para satria Pandawa pasca peristiwa Bale Gala-Gala. Pandawa yang dikira sudah tewas terbakar dalam jamuan makan malam, ternyata masih segar bugar. Padahal tahta Hastina sudah keburu diberikan kepada Duryudana. Untuk mencegah tuntutan Pandawa, Adipati Drestarastra memberikan konsesi wilayah Wonomarta untuk dibangun sebuah kerajaan bagi Pandawa.
Awalnya Pandawa menolak pemberian Konsesi tersebut. Khususnya Bima yang tidak terima kekuasaan Hastina diberikan kepada Duryudana dan Kurawa. Puntadewa sebagai tetungguling satria Pandawa berhasil meredam kemarahan Bima. Akhirnya Bima dapat menerima pemberian Adipati Drestarastra konsesi wilayah Wonomarta.
Baca juga : Semar Badranaya Triwikrama
Wonomarta masih berupa hutan belantara yang terkenal angker. Banyak setan dan jin bersemayam di hutan yang merupakan perbatasan wilayah Hastina dengan kerajaan Wirata. Selaian dihuni para jin, Wonomarta merupakan tempat berkumpulnya para drubeksa dan raksasa pemakan manusia.
Puntadewa memberi tugas kepada Bima untuk membuka hutan dengan menebang pohon yang sudah waktunya ditebang, tanpa harus merusak ekosistem dan lingkungan sekitar Wonomarta. Sedangkan Arjuna diberi tugas memindahkan para jin agar tidak mengganggu pembangunan Amarta.
Kerja keras Bima dan Arjuna berhasil mengubah hutan Wonomarta menjadi sebuah kerajaan yang megah. Pendekatan Arjuna kepada para jin justru dapat mempercepat pembangunan kerajaan. Akhirnya Puntadewa memberi nama kerajaan tersebut dengan sebutan Amarta.
Baca juga : Joget Wilutama Menuai Kutukan Dewa
“Prabu Puntadewa cerdas, Mo. Membangun tanpa harus merusak lingkungan,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Membangun harus menyatu dengan alam," jawab Romo Semar pendek. "Membangun yang hanya mementingkan materi tanpa memitigasi kerusakan lingkungan, bakal ditagih alam berupa bencana," papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.