Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kinerja buruk anggota DPR yang tidak peka dengan kondisi ekonomi saat ini memicu kemarahan rakyat. Di sisi lain, perilaku aparat kepolisian yang tidak persuasif menghadapi demonstran memantik gerakan massa di berbagai wilayah. Ditambah dengan tragedi kematian seorang pengemudi online memperburuk keadaan. Saatnya kita bangkit bersatu untuk saling menjaga Indonesia.
“Kehadiran seorang pemimpin diperlukan untuk menenangkan massa, Mo,” celetuk Petruk prihatin. Romo Semar memilih diam tidak mau komentar banyak. Semar tidak habis pikir dalam situasi krisis seperti saat ini, para wakil rakyat tidak ada yang bersuara.
Tidak seperti biasanya, kopi pahit dan panganan jajan pasar dibiarkan dingin. Romo Semar tidak bernafsu merahapi sarapan yang disediakan Ibu Kanestren. Langit mendung menyelimuti Padepokan Klampis Ireng. Seolah prihatin meratapi Ibu Pertiwi. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Romo Semar sebagai pamong satria luhur marah melihat perilaku menyimpang satria Pandawa.
Baca juga : Joget Wilutama Menuai Kutukan Dewa
Kocap kacarito, Ki Lurah Semar Badranaya memanggil satria Pandawa, Prabu Kresna dan Prabu Baladewa, untuk hadir di pertemuan Padepokan Klampis Ireng. Maksud diadakan pertemuan untuk membahas perilaku para elite Amarta yang menyimpang dari kebenaran. Ditambah dengan kerusakan mental para punggawa Amarta dalam menjalankan roda pemerintahan.
Saat mengadakan pertemuan, tiba-tiba Ki Lurah Semar Badranaya diculik oleh Raksasa. Kecepatan Raksasa menculik Ki Lurah Semar membuktikan bahwa dia memiliki kesaktian tinggi. Pandawa kaget melihat peristiwa yang baru saja berlangsung. Prabu Kresna dan Prabu Baladewa ikut bingung ke mana penculik membawa Ki Lurah Semar Badranaya.
Pandawa dan Kresna berbagi tugas. Bima dan Baladewa diberi tugas menjaga keamanan padepokan Klampis Ireng. Sedangkan Harjuna dan Kresna memburu penculik Ki Lurah Semar Badranaya. Sebagai titising Dewa Wisnu, Kresna dan Harjuna tahu ke mana mencari keberadaan Ki Lurah Semar Badranaya.
Baca juga : Dirgahayu Hastina Merdeka
Dewa Guru dan Dewa Narada menghadap Dewa Shang Hyang Wenang. Dewa Guru protes dengan Semar Badranaya di Arcapada, mengumpulkan para satria di Padepokan Klampis Ireng. Dewa Guru curiga Semar akan bertindak makar melawan kepemimpinannya. Semar dianggap menghimpun kekuatan baru untuk menyaingi kekuatan dewa di Khayangan.
Belum selesai Dewa Guru bicara dengan Shang Hyang Wenang, muncul Ki Lurah Semar yang sudah berubah wujud sebagai Dewa Ismaya. Ismaya menjelaskan bahwa kehadiran ke Khayangan memberikan klarifikasi maksud dan tujuan mengumpulkan para raja di Padepokan Klampis Ireng.
Maksud pertemuan dengan para raja dan satria Pandawa untuk memberikan pembekalan tentang jati diri dalam menghadapi perilaku menyimpang para elite dan punggawa Amarta. Dewa Guru gembira dengan penjelasan Dewa Ismaya dan permasalahan dianggap selesai.
Baca juga : Kisruh Upeti Tinggi Sang Bupati
“Kuncinya adalah komunikasi dalam menyelesaikan masalah, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Dalam menghadapi setuasi krisis seperti sekarang ini, perlu duduk bareng untuk mencari Solusi,” jawab Romo Semar. “Bukan saling menyalahkan. Tugas seorang pemimpin sejati adalah selalu hadir di tengah masyarakat dan memberi keteladanan bertindak,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.